Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD322. Kehebohan Lendra dan Givan


__ADS_3

"Pakintaki." ujar bang Daeng, dengan meraih kaosnya yang tergeletak di atas ranjang.


Ia menyampirkan kaosnya ke bahunya. Kemudian, ia bangun dan menaruh piring yang sudah kosong itu ke atas nakas.


Apa itu pakintaki?


"Eummm. Bakalincuat." mas Givan pun tiba-tiba langsung memakai kaosnya, dengan ia menoleh ke arah lain.


Apa itu?


Pakintaki?


Bakalincuat?


"Dek, Canda. Abang nepatin janji, aku datang dengan etika baik, sebelum hari lebaran datang."


Mumet sudah.


Aku tahu, apa arti di balik kedatangan bang Ardi ini.


Ia menyudahi acara break kami, karena perasaannya sudah mantap. Kemudian, setelah ini ia akan langsung mengambil keputusan untuk menikah.


Ya, itulah perjanjian break kami dulu.


Sebelum hari lebaran tiba. Jika tandanya ia datang, itu tandanya ia mantap padaku dan ingin segera menikah denganku. Ya, kurang lebihnya seperti itu.


"Abang keluar dulu ya, Dek?" bang Daeng memandangku dengan menganggukkan kepalanya.


Kalian tahu? Laki-laki yang paling aku percayai, sebelum pembodohan yang ia berikan, adalah dirinya seorang.


Hanya dia....


Dia, dia, dia, dia, dia.


Dia.


Dia.


Dia, dia!


Bang Daeng.


Jika ia pergi, siapa yang akan menjagaku dari terkaman Ardi Fadlan yang alim tetapi membahayakan ini?


"Aku juga ada pakintaki, Canda. Keluar dulu ya?" mas Givan pun langsung bersiap melarikan diri.


"Janganlah!" aku memasang wajah memelas pada mereka berdua secara bergantian.


"Apa itu pakintaki?" tanya ibu, yang masih berdiri di sebelah bang Ardi.


Mas Givan mengedikan bahunya, "Entah. Apa itu, Len? Aku cuma ikutan aja." mas Givan cekikikan.


"Pakintaki?" bang Daeng mengerutkan keningnya.


"Iya." jawab mas Givan.


"Pakintaki, panggilan mendadak." terang bang Daeng.


Aku langsung menoleh pada mas Givan, "Bakalincuat apa, Mas?" tanyaku kemudian.


"Bangun cepat-cepat karena kaget, bakalincuat." jelasnya kemudian.


Bakalincuat bukan bahasa Aceh.


Apa itu bahasa tempat mas Givan merantau?

__ADS_1


"Mirip-mirip lah. Ayo kita melarikan diri."


Hah?


Bang Daeng mengajak mas Givan untuk keluar dari kamarku.


"Ayo, kita kabur." mas Givan sampai naik ke atas ranjang untuk segera melarikan diri, tanpa lewat di depan bang Ardi.


"Jangan pakintaki, jangan bakalincuat sendirian juga dong. Keujeut hana pakat lon?"


Empat orang itu, menahan tawanya dengan cara masing-masing.


"Pasti nih author puyeng mikirin bahasa campuran ini." ujar bang Daeng dengan bersandar pada tembok.


Sepertinya, ia merasa perutnya tidak nyaman ketika tertawa. Saat tertawa lepas, bang Daeng selalu menekan perutnya.


"Translate, Mas." tuturku pada mas Givan.


"Jangan pakintaki, berarti jangan panggilan mendadak. Disederhanakan, jangan pergi dari sini. Jangan bakalincuat, berarti jangan bangun cepat-cepat. Jangan kalap sendiri aja gitu ya?" mas Givan mengangguk padaku.


Aku pun memberi anggukan menyimak ucapan.


"Keujeut hana pakat lon. Kenapa tak ajak aku." setelah mengatakan hal itu, orang-orang malah tertawa kembali.


Aku mengerti gurauan garing ini. Namun, cukup lucu juga.


Aku pun ikut menyuarakan tawaku.


"Lagian mau pada ke mana sih? Di sini aja temani Canda." ujar ibu kemudian.


Aku tidak mengerti dengan pemikiran ibu.


Anaknya ditemani dengan tiga laki-laki di kamar. Apa beliau tidak khawatir?


"Ibu juga di sini, biar jadi saksi." bang Daeng duduk kembali di tepian ranjang.


"Aku keluar dulu ya Len, ya? Aku tak tau-tau nih, aku baru datang. Belum ngapa-ngapain juga, tapi masih bujuk, Adeknya masih polos."


Bang Daeng sudah tahu bahwa mas Givan bercanda. Ia hanya merespon dengan tawa lepas. Sangat berbeda dengan ibu dan bang Ardi.


"Kau jangan gitu lah, Bang! Ini bulan puasa." ujar bang Ardi, yang baru buka suara kembali.


"Ah, iya kau Van! Nanti anaknya mirip kau, aku sih gak mau tanggung jawab." tambah bang Daeng kemudian.


"Okeh, sip." mas Givan langsung duduk kembali di tempatnya semula.


"Kalian pada ngapain sih?!" ibu terlihat kalap.


Rasanya aku ingin membogem dua laki-laki ini.


Bang Daeng dan mas Givan malah cekikikan.


"Tak, Bu. Gurau aja. Sini aja, Bu. Ngobrol." mas Givan menepuk tempat tidurku.


Dasar, para rese!


"Gak, kamu aja jaga Canda Van. Ibu jaga Zio di bawah, lagi main sama Hadi."


Oh, jadi bang Ardi datang dengan crew.


"Okeh siap, Bu." mas Givan mengangkat satu tangannya.


Ibu langsung berlalu pergi, meninggalkan kami bertiga.


Tiga laki-laki, yang pernah memiliki hubungan denganku.

__ADS_1


Luar biasa.


Aku hanya mampu geleng-geleng kepala saja sekarang.


"Sini, Bang! Duduk, Bang!" bang Daeng menepuk tempat tidurku juga.


"Ini buahnya taruh mana, Dek." bang Ardi mengulurkan parsel buahnya.


Namun, bang Daeng langsung menyambutnya.


"Sini aja, Bang. Makasih ya?" bang Daeng meletakkannya di tengah-tengah tempat tidurku bagaikan kue ulang tahun.


Bang Ardi duduk di tepian ujung ranjang. Ia seperti disidang oleh kami bertiga.


"Aku mau ini nih."


Aku melongo saja, melihat mas Givan merusak plastik menerawang pembungkus parcel tersebut. Lalu, ia tanpa ragu langsung menggigit buah yang ia ambil dari dalam situ.


"Sialan! Kau gak puasa juga rupanya!" bang Daeng pun berbuat hal yang sama.


Kenapa mereka sekarang terlihat begitu tidak sopan?


Ya, menurutku tidak sopan membuka parcel buah di depan yang memberinya. Apa lagi, itu adalah untukku. Bukan untuk mereka berdua.


"Musafir." jawab mas Givan begitu enteng.


"Kau perjalanan dari malam juga. Naik gunung, turun jurang, nyebrang lautan, kau lakuin dengan baik pesawat, Van. Bukan kau tempuh dengan jalan kaki juga!"


Bisa-bisanya aku tertawa, melihat ekspresi ngotot bang Daeng.


"Issss.... Suka-suka Gue dong!" mas Givan asik saja mengikis apel merah itu, dengan melirik sinis pada bang Daeng.


"Kau tak puasa, Mas?" aku menyipitkan pandanganku pada mas Givan.


"Kek kau puasa aja?!" ia malah menuduhku balik.


Kami larut berbaur dengan tawa.


"Islam kau kan, cuma gak berzina aja!" tambah mas Givan menyindirku.


"Islam kau juga, cuma tak makan daging b*bi aja!" aku pun menyudutkannya.


"Alhamdulillah, keislamanku jauh lebih baik." bang Daeng menengadahkan kedua tangannya dengan menatap langit-langit kamar.


"Kau pun sama, Bodoh!" maki mas Givan, melihat aksi bang Daeng.


"Ohh, iya kah?" ia pura-pura suci sekarang.


Kami tertawa bersama kembali.


"Ini enak, Canda." mas Givan menyodorkan buah bekas gigitannya.


"Jangan, Dek. Jigongnya bekas p*rek."


Aku cukup kaget, saat mendekat pelukan tiba-tiba dari bang Daeng yang masih bertelanjang dada.


"Ishhhh!" mas Givan melirik tajam pada bang Daeng, "Kau bahkan tak berbekas."


Entah apa artinya. Namun, hal itu membuat dua laki-laki itu asik tertawa kembali.


Kasihan bang Ardi. Ia seperti pajangan.


Ia hanya memperhatikan dan menimbrungi tawa. Pasti, ia tengah tidak nyaman berada di sini sekarang. Namun, sepertinya ia pun bingung mencari alasan untuk pamit.


"Oh, iya. Malah dicuekin." mas Givan menoleh pada bang Ardi, "Jadi, tadi gimana Di?" tanya mas Givan dengan suasana yang mulai serius.

__ADS_1


...****************...


Cihuy, Ardi disidang dua mantan suami Canda 😆


__ADS_2