Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD333. Empat mantan


__ADS_3

Udah mana lagi seru, banyak scene yang ditunggu. Pas kali, Crazy Up dong 😍


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Bang, aku datang dengan niat lanjutin hubungan aku sama Canda. Sebelumnya, ada masalah yang bikin kita terpaksa harus break sementara. Rencana udah matang, aku udah mantap sama Canda. Insya Allah, selepas tujuh Syawal, aku pinang Canda."


Berani juga ini laki-laki.


"Masih sama Aini ya kemarin?"


Kenapa tebakan mas Givan tepat sekali?


Bang Ardi melirikku, lalu ia mengangguk samar.


"Kapan, Mas?" aku merasa pembicaraan ini seperti berbagi kode rahasia.


Mas Givan menoleh ke arahku, "Kemarin hari."


Tuh, kan.


Aku kira, kemarin saat aku dan bang Ardi sebelum break. Ternyata, kemarin hari.


"Nah, ya udah sih lanjutin aja sama yang itu. Balik lagi ke sini. Main ngajakin nikah aja kau! Kau ada tak masa Canda sakit. Sekarang, Canda udah mendingan. Kau ngajakin nikah aja! Kau nengok gak?! Kau ngurusin gak?! Kau ada waktu mikirin kesehatan dia gak?! Gak kan?! Ya udah, gak usah dilanjut. Kemungkinan, Canda itu rujuk. Bukan nikah sama orang luar, yang jelas gak bisa sedikit pun nampakin perhatiannya ke Canda."


Aku memperhatikan bang Daeng.


Apa ia tengah membicarakan dirinya sendiri?


Ia yang selalu ada untukku. Ia yang selalu mengurusku, bahkan membantuku membersihkan darah haid. Bang Daeng pun, mencari pengobatan alternatif seperti jamu dan pijat refleksi.


Jakun bang Ardi naik turun, "Aku segan buat datang, Bang." jawab bang Ardi sembari tertunduk.


"Udah, lanjut aja sama Aini. Kenapa masa kau break sama Canda, kau malah sering jalan sama Aini? Harusnya, kau berpikir tentang kelanjutan hubungan kau sama Canda. Jangan kata aku tak di sini, aku tak tau apa-apa yang terjadi di sekitar sini." mas Givan mengangkat telunjuknya.


"Itu kek pertanyaan yang sama, kek kenapa kalian ada di sini? Kalian kan, udah mantannya Canda juga."


"Ck...." bang Daeng geleng-geleng kepala.


Mas Givan malah tertawa sumbang.


"Ada Chandra dan Zio yang diurus Canda. Mereka anak aku, wajar aku ada di sini dan masih berhubungan dengan Canda sampai hari ini. Canda di rumah sakit kemarin, tak tau-tau biayanya. Aturannya, itu udah bukan urusan aku lagi. Tapi aku paham, dia ibu salah satu keturunan aku. Aku sadari, aku sibuk di sana. Jangankan perhatian kecil buat Canda, aku urus diri sendiri aja keteteran. Aku anti makan sembarangan, atau makan di luar. Tapi, aku sampai lakuin itu buat isi perut aku biar tak mati."


Oh, jadi mas Givan yang membiayaiku di rumah sakit?


Aku baru tahu hari ini. Karena sepemahamanku, biaya dicover oleh asuransi pun tidak sepenuhnya. Tetapi aku sampai tidak mengeluarkan uang, untuk pengobatan di rumah sakit kemarin.


Beginikah kebaikan? Yang tidak perlu diumbar, ataupun diketahui orang lain.

__ADS_1


"Nah, terus.... Kau ke mana aja?!" bang Daeng geleng-geleng kepala, " Chandra masuk IGD puskesmas Simpang Tiga, kau tau kan? Giska jenguk Chandra di sana, sama anaknya juga. Gak mungkin Giska tak cerita ke suaminya, ke keluarga mertuanya."


Aku merem*s lengan bang Daeng.


Terkejut bukan main. Aku baru tahu hari ini, bahwa Chandra sampai masuk IGD puskesmas.


"Chandra kenapa, Bang?" aku bertanya cepat.


"Diare itu nah, Dek. Dirawat tiga hari, hari senin pas Adek baru di rumah sakit satu hari. Makanya Abang gak ke rumah sakit, karena ngurus Chandra lemas."


Ya ampun, Chandra.


Untungnya, ia masih diberi keselamatan dan umur panjang.


Diare cukup mengancam nyawa, apa lagi pada anak-anak.


"Nah... Apa ada kau perhatian sedikit ke anaknya Canda? Anak aku, anak Lendra, itu pun anaknya Canda juga." tambah mas Givan kemudian.


Bang Ardi menahan telapak tangannya ke depan, "Kau jangan ikut-ikutan ya, Bang?! Ini kan hubungan aku sama Canda. Lagian pun, kau udah bukan siapa-siapanya lagi."


Bang Ardi cukup berani.


"Aku adalah orang pertama yang bakal ikut campur di hubungan Canda dengan laki-laki manapun. Ada dua anak aku, yang hidup sama dia. Aku tak mau, dua anak aku tercemari pikiran buruk dari calon pendamping hidupnya Canda. Canda pun punya anak perempuan, yang rawan untuk ayah sambung. Itu jadi beban pikiran aku, karena jaman sekarang banyak pedofil." mas Givan menunjuk-nunjuk wajah bang Ardi.


"Aku pun gak akan tinggal diam. Kau pikir aku cuma diam? Aku udah naruh curiga sama kau dari awal." bang Daeng menyipitkan matanya.


"Oh gitu?!" mas Givan bangkit dari duduknya.


Ia berdiri di sisi ranjang sebelah kanan. Sedangkan aku dan bang Daeng, berada di sisi ranjang sebelah kiri.


Aku takut mas Givan menarik kerah baju bang Ardi. Lalu mereka adu jotos.


"Mulai hari ini, break kalian berakhir, dengan perpisahan. Tak ada nikah-nikah! Tak ada lanjutin hubungan! Aku keberatan dengan status kau untuk Canda." bentak mas Givan dengan menunjuk bang Ardi.


Aduh, kenapa jadi begini sih?!


Tiba-tiba muncul laki-laki tegap, gagah dan berisi datang dengan menenteng rantang.


"Loh? Loh? Loh?" Ghifar terlihat begitu terkejut melihat keramaian ini.


"Party se*s kah? Aku yang nyutting ya?"


Ia memberi rantangnya pada bang Daeng.


"Ehh, ada apa sih?!" sepertinya, Ghifar baru menyadari ketegangan di sini.


"Kenapa, Bang?" Ghifar memperhatikan kakaknya yang tengah naik pitam itu.

__ADS_1


"Yaaa, gitu deh." bang Daeng menyahuti tidak jelas.


Ghifar memandang semua orang satu persatu. Alis tebalnya menyatu, dengan sorot mata yang terarah ke arahku.


"Ikut yuk?"


Ghifar menarik lengan bang Daeng, membuat posisinya berpindah. Aku langsung menggeser posisi dudukku, kala Ghifar mulai mendekat padaku.


"Mau apa?!" aku terheran-heran, saat ia merengkuhku.


"Main, ke luar. Ada om Edi sama tante Bena di teras, lagi pada main sama anak-anak. Ada Novi juga di rumah mamah.


"Ehh, om Edo udah datang juga kan?" bang Daeng bertanya pada Ghifar.


"Om Edo... Ada di kantor Ghavi kalau tak salah. Aku keluar dari rumah, dia jalan ke kantor Ghavi."


Tubuhku langsung terangkat, aku cepat-cepat bergantungan pada leher Ghifar.


"Yuk." bang Daeng memberi jalan agar Ghifar bisa lewat dengan membawaku.


Kemudian, ia mengekori langkah kaki Ghifar.


Sungguh aku terheran-heran dengan keempat laki-laki ini. Kenapa author menciptakan setting tempat yang tidak mengenakkan untukku? Ditambah lagi, dengan keempat laki-laki yang pernah singgah di hatiku itu.


"Ehh, mau ke mana?" seru mas Givan.


Langkah Ghifar dan bang Daeng berhenti. Aku makin mengeratkan tanganku di leher Ghifar, aku takut terjatuh saat ia memutar posisi tubuhnya.


"Ihh, kau kan mau latian jadi m*ho. Cobalah dulu, aku kasih waktu buat kau. Mana tau, sukses. Dari pada, nolak perjodohan mamah terus."


Aku tergelitik, saat mendengar penuturan dari Ghifar yang terdengar lucu.


"Sialan kau!" mas Givan malah buru-buru meninggalkan kamar.


"Sok, duluan." Ghifar mempersilahkan bang Ardi untuk keluar lebih dulu.


Kemudian, baru Ghifar dan di belakangnya ada bang Daeng.


Wow, beginikah lingkunganku?


Aku sampai pangling, ketika melihat suasana di teras toko ini. Ternyata...


...****************...


Om Edo itu bos sawit ya, BESTie. Masih inget kan di Season pertama kalau gak salah, ada beberapa cerita tentang keluarga papah Adi.


Satu lagi, yang bertanya-tanya kenapa Lendra gak datang masa Canda di RS. Jawabannya ada di episode ini ya 😄 ternyata Chandra Gupta Mauria, bapaknya Ashoka itu tengah diare. 🤣

__ADS_1


Salah, salah 😜 Teuku Chandra Andiyana kah kalau tak salah 🤭


__ADS_2