Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD64. Mobil silver


__ADS_3

Bulir bening menetes dari mata cengengku.


Suami orang ini, telah mengobrak-abrik perasaanku dalam kecupan kecilnya di bibirku.


Aku memeluk kembali lengan kokoh, yang tidak bisa menjadi bantal tidurku.


"Malu ya? Maaf ya?" Ghifar berbicara tepat di pucuk kepalaku, karena aku masih setia memeluk lengannya.


Lagi pula, kenapa ia begitu agresif?


Aku malah malu dengan dirinya. Ia tidak mencerminkan sebagai laki-laki yang baik, padahal ia seorang kepala keluarga patokan saudaranya yang lain.


"I love you.... Sehat-sehat ya? Aku bawa Chandra pulang dulu."


Mencelos, rasa bahagia yang ia torehkan ini terpecah belah.


Ghifar bangkit, tangannya mencoba melepaskan pelukanku di lengannya.


"Far! Far...." aku mencoba menahannya untuk pergi.


"Aku tak mungkin jual Chandra. Dia keturunan abang aku, dia keturunan mamah." Ghifar sudah berada di dalam posisi berdiri.


Aku masih memegangi tangan Ghifar. Kemudian aku perlahan bangkit dari dudukku. Aku masih kesusahan, untuk bangkit dari duduk atau posisi tidur.


"Dia semangat aku, Far." aku memohon padanya.


"Paham, Canda. Kau bisa telpon aku, video call masa aku udah di rumah, kumpul sama anak-anak. Ya? Ini yang terbaik, kalau memang kau terikat kontrak kerja."


Bagaimana ini?


Ghifar begitu memaksa. Sedangkan aku? Aku tengah dilanda kebimbangan.


"Chandra masih ASI, Far." ungkapku, agar ia sedikit memikirkan tentang keadaan Chandra.

__ADS_1


"Itu...." Ghifar menunjuk sesuatu.


Aku menoleh, mengikuti telunjuknya yang terarah. Rupanya, dot kosong milik Chandra tergeletak di atas meja.


"Dia udah sufor juga kan? Tak sesulit yang kau bayangkan, kalah Chandra udah disambi sama sufor. Kau konsultasikan ke bidan, biar ASI kau tak terus-terusan produksi."


Kami masih dalam posisi berdiri. Dengan aku yang memegangi tangan Ghifar, agar dia tak bergegas pergi.


"Tetap pegang kartu ATM aku. Biar aku bisa tau di mana kau singgah. Kau tak punya uang, kau pakailah kartu itu. Masalah surat cerai kau, udah sampai dua hari yang lalu. Sembari kau kerja, profesional lah dalam masa iddah. Aku takut, kau nikah sebelum masa iddah habis. Nanti malah diminta untuk nikah siri dulu, kalau sampai kejadian kek gitu."


Aku mengunci pandangan matanya, aku mencoba cara bang Daeng untuk bisa mendapatkan atensi penuh dari lawan bicaranya.


"Pemikiran kau terlalu jauh, Far!" aku mengambil cepat tas milikku, lalu aku mengeluarkan kartu pipih milik Ghifar, "Bawalah lagi kartu ini, kalau niat kau dari awal memang kurang baik. Aku bahagia hidup bebas kek gini, Far. Baru juga aku ngerasain kebebasan, udah kau ambil alih aja Chandra dari aku. Kau sama teganya kek mas Givan! Sama-sama cuma bisa renggut kebahagiaan aku!"


Jantungku bergemuruh, karena Ghifar berani membalas tatapan mataku padanya.


Ghifar menekankan kartu pipihnya, dalam genggaman tanganku, "Jangan samakan aku dengan bang Givan! Aku begini, biar bisa tau posisi kau ada di mana. Nomor telepon kau ganti, sosial media udah tak aktif. Jadi, aku harus gimana lagi cari tau keberadaan kau? Aku lebih tenang, liat kau molor di sofa. Ketimbang keluyuran kek gini! Kau tak nampak di pandangan mata aku." Ghifar menunjuk matanya sendiri, saat mengatakan hal itu.


"Jangan sok peduli, Far!" aku sudah muak, mencoba membuatnya mengerti akan diriku.


Aku mengusap cepat air mataku. Aku mendongak, mendapatinya tengah memasang wajah tegasnya.


"Kalau bisa, aku pun tak mau peduli sama kau! Capek, Canda! Capek aku sama pikiran aku tentang kau di luar sana. Kau lagi ngapain? Chandra terurus kah? Makan sehari berapa kali? Apa kenyang perut kalian? Tinggal di tempat seperti apa? Sudah lebih baik kah keadaannya? Tiap hari, Canda! Tiap hari aku dikurung pertanyaan kek gitu tentang kau. Kalau bisa, aku tak mau kek gini ke kau. Aku direpotkan, aku dipusingkan, waktuku terbuang sia-sia, aku kena mental ngadepin Kin, aku tak akur sama bang Givan. Aku tak mau, kalau aku bisa!"


Aku tahu ia tidak sedang pura-pura. Bulir bening membasahi bulu matanya. Ia menekan kelopak matanya, mungkin agar rasa cengeng itu bisa ia bendung lebih kuat.


"Tapi sampai detik ini, rasa itu masih sama. Aku peduli sama kau! Aku peduli sama Chandra. Demi tengok keadaan kalian hari ini, Kin sampai aku bohongi. Belum lagi alasan yang harus aku beri, pas aku pulang ke rumah. Pasti aku akan buat kebohongan lainnya, buat nutupin cerita hari ini sama kau." Ghifar menyentuh satu lengan tanganku.


Tubuhku sedikit tergoyang, karena Ghifar memberikan gerakan pada tangannya.


"Tolong hargai usaha aku. Biar aku pulang dengan Chandra, aku urus dia. Setidaknya, aku tetap bisa tengok kau kelak. Dengan Chandra ada di tangan aku. Aku tak pengen apapun. Silahkan menikah, kalau memang udah ketemu orang yang tepat. Tapi setidaknya, tampakan diri kau di depan mataku. Aku pengen tau, kalau pilihan kau setelah ini tak salah lagi. Biar aku bisa nilai, bahagia kah kau sama yang baru itu. Atau, malah lebih menyedihkan dari sebelumnya. Dengan Chandra sama aku pun, kau enak kerja. Aku tak akan nuntut hak asuh, materi, atau kebutuhan Chandra yang aku beri. Demi Allah, aku tak akan nuntut apapun. Datanglah ke rumah, kalau memang kau kangen sama anak kau. Tapi... Aku tak pernah izinkan kau bawa Chandra ke luar dari hunian aku, kalau kau tak nampakin kebahagiaan kau yang kau dapat dari orang baru. Sederhananya... Silahkan ambil alih Chandra lagi, kalau kau udah punya ayah sambung buat dia. Kerja keras kau tak seberapa, ego kau lebih kuat buat masa depan kalian kelak. Tanpa suami yang baik, aku yakin kau tak akan bisa kasih masa depan yang matang buat Chandra. Jangan sok kuat, kau tak sesuper seperti khayalan kau Canda."


Setelah mengatakan hal itu, Ghifar melenggang pergi membawa anakku.

__ADS_1


"Far...."


"Chandra...."


Aku melangkah cepat, semampu yang aku bisa. Karena luka jahit di intiku ini, sungguh terasa pedih jika dipaksa untuk bergerak cepat.


Namun, sepertinya Ghifar sudah menulikan telinganya. Sama sekali, ia tak berhenti melangkah. Atau sekedar menoleh ke arahku sejenak.


Ia langsung masuk ke salah satu mobil yang terparkir di bahu jalan.


Aku harus bergegas, sebelum mobil itu meluncur menjauh.


"Chandra....." aku tergugu di trotoar jalan.


Ghifar tega membawa pergi anakku, semangatku.


Mobil silver itu membawa Ghifar dan Chandra pergi dariku.


"Canda...." itu adalah suara kak Raya.


Aku masih berdiri, di tempat mobil silver yang tadi terparkir. Mobil silver berplat Kt itu, begitu cepat menjauh meninggalkan aku di sini.


Ghifar tega!


Harusnya aku paham, jika keturunan orang licik. Pasti memiliki sifat licik, di dalam kebaikannya. Papah Adi, adalah orang yang licik. Kelicikannya untuk mendapatkan mamah Dinda, tidak perlu diragukan lagi.


Hari ini aku membuktikan sendiri, bahwa Ghifar begitu liciknya di balik segala kebaikannya. Bahkan, sampai tak terendus sama sekali olehku.


"Hei... Kok pada di jalan? Mana Chandra?"


...****************...


Siapa itu???? 😳

__ADS_1


Berikan pendapat kalian tentang Ghifar 😉


Up satu lagi pukul tiga sore, jangan sampai kelewatan ya 😁


__ADS_2