Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD367. Diberi pengertian


__ADS_3

"Mau ke mana?" aku di hadang oleh mamah Dinda, setelah aku membuka pintu kamar.


"Dua kali kau menjanda, makin berani kau ke suami! Aku nikahin kau ini karena kepatuhan kau. Jangan buat aku nyesel hari ini, karena kau udah tak nurutin suami kau lagi. Sampai aku ucapkan, bahwa kau tak boleh keluar dari rumah ini. Jangan berani-berani kau langgar itu, Canda! Aku tak mau kau....." suara dari belakang tubuhku terjeda.


Lebih tepatnya, mas Givan tidak melanjutkan ucapannya yang semakin mendekat itu.


"Mah....." suara mas Givan langsung lembut.


"Aku tak mau kau apa, Van?" tanya mamah Dinda.


"Tak, Mah." jawaban mas Givan pun begitu lembut.


Ia kini berada di sampingku.


"Sini duduk!" mamah Dinda melangkah lebih dulu, lalu ia duduk di atas karpet ruang keluarga.


"Biarin Givan nyelesaiin sendiri, Dek." papah Adi berlalu lalang melewati ruang keluarga ini.


"Tak, aku tak bakal dia nyelesaiin sendiri lagi. Udah cukup dia ngacak-ngacak rumah tangganya sendiri, susunan keluarga, bahkan susunan cucu." mamah Dinda memandang kami berdua satu persatu.


"Kau tak malu sama orang tua kah, Van?! Siang tadi kau bawa d*sah-de*ah, sorenya kau bentak-bentak?! Sefatal itu kah masalahnya? Sampai suara memang harus kau tinggikan?" sekarang suara beliau yang mulai tegas meninggi.


"Candanya memang gitu, Mah. Aku tak mungkin marah tanpa sebab."


Lihatlah dan dengarlah. Suaranya begitu lembut dan halus.


"Apa? Mamah risih kau dari dulu gini terus! Kalau kek gini caranya, Mamah lepas tangan aja. Sana boyong anak istri kau ke rumah kau sendiri, sama berantem di sana. Jangan minta tolong sama Mamah lagi, jangan minta Mamah buat jagain anak istri kau masa kau jauh. Pengen tentram Mamah, Van."


Mas Givan malah menunduk di kaki ibunya yang bersila. Ia memeluk kaki mamah Dinda, bagaikan dirinya adalah anak kecil.


"Mah, aku minta maaf." ucapnya lirih.


Mamah Dinda mengusap-usap kepala anaknya, lalu beliau beralih memandangku.


"Apa masalahnya, Canda? Tak bisakah dibicarakan baik-baik? Haruskah pisah lagi?"


Aku tertunduk sejenak. Aku hanya mampu menggeleng berulang, aku tidak kuasa menjelaskan semuanya.


"Sebesar apa masalahnya?" tanya beliau kembali.

__ADS_1


Mas Givan menegakkan punggungnya, ia melirik ke arahku cukup lama.


"Canda, Mah. Dia bawa-bawa nikah mahar murah, kan itu yang dimintanya sendiri. Terus aku nikah karena alasan anak-anak aku dekat sama dia, kek dia tak milih aku karena anak-anak juga. Tak jelas betul pengen ribut tuh."


Aku tertunduk, saat mendapati mamah Dinda tengah memperhatikanku begitu intens.


"Bilang aja, Canda. Kau ini termakan ucapan seseorang kan?"


Benarkah?


Apa aku termakan ucapan Putri?


"Nyatanya kan Mas Givan waktu itu keberatan dengan permintaan mahar aku kemarin." aku mengusap wajahku dari air mata.


Aku hanya mendengarkan helaan nafas yang bersahutan.


"Penting kah itu? Penting kah buat kau permasalahkan, setelah kau resmi dengan suami kau? Ngomongin masa sekarang aja, Canda. Jangan usik yang udah terlewat, karena nyatanya pun kau kemarin nerima maharnya. Givan pun penuhi sesuai yang kau minta. Mahar kau itu tinggi loh, enam hektar tanah humus, setara dengan enam puluh milyar lebih. Kau masih bilang murah aja! Dasar tak ngerti aja kau, cuma kalap karena dikomporin orang." ucapan mamah Dinda terdengar santai, "Dulu Mamah tak pernah minta sejumlah sekian maharnya, tapi papah kasih sendiri. Laki-laki yang ada pikirannya itu, dia paham harus sejumlah apa dia maharin perempuan yang ia ingin nikahi. Yang pertama, sesuai kemampuan laki-lakinya. Yang kedua, sesuai kesepakatan bersama." lanjutnya kemudian.


"Bahkan, pernikahan pertama Mamah cuma dimaharin dua ratus tiga puluh ribu. Mamah nerima, Mamah sepakat. Pikir Mamah, mahar itu cuma syarat aja sih. Yang penting kan, kitanya mau tak nikah dengan orang bersangkutan gitu. Itu bukan masalah besar, Canda. Meskipun beda adat, beda budaya. Papah aja netapin mahar Giska, semata-mata buat liat kerja kerasnya Zuhdi, keseriusan Zuhdi, kesungguhan Zuhdi. Bukan buat gaya-gayaan, atau juga ngehargai tentang tubuh kita. Kalau kita malah meninggikan mahar, karena kita ngerasa cantik. Udah aja sekalian jual diri, kita bisa dapat dari beberapa kali jumlah mahar, ketimbang menikah dengan mahar yang tinggi."


Mamah benar.


"Makanya jangan main ke tetangga coba, Canda! Udah, anteng di rumah. Dari pada pulang-pulang main ngajak suami ribut." tambah mas Givan.


Aku menggeleng, aku enggan buka kartu.


"Putri itu, Mah." mas Givan yang menjawab.


Aku mendengar suara tepukan. Saat aku melirik, tangan mamah Dinda hinggap di lengan mas Givan.


"Coba sekalian panggilkan Putri." pinta mamah Dinda.


"Buat apa sih, Mah?" suara mas Givan terdengar seperti malas-malasan.


"Biar selesai, terus tamat."


Malahan ada suara kekehan pelan di sini.


Wushhh....

__ADS_1


Kami semua menoleh pada seseorang yang masuk, dengan baju yang terbang karena angin.


"Heh." mas Givan memperhatikan perempuan tersebut yang nyelonong naik ke lantai atas.


Kinasya tidak menghiraukan, ataupun menyapa kami.


"Ke mana, Kin? Ada apa?" mamah Dinda bangkit, lalu berjalan menyusul Kinasya.


Aku mendengar isakan dari Kin.


"Aku mau udahan aja sama Ghifar, Mah. Pulangin aku ke abi, aku udah capek sama Ghifar." Kinasya menangis meraung dengan langkah yang terus berlanjut.


Mamah Dinda pun, sudah berada di tengah tangga.


"Belum selesai, udah ditambah masalah Kin. Pasti pusing betul mamah." mas Givan merapihkan rambutnya.


"Jangan lagi-lagi kek gini, Canda. Jangan bikin orang tua pusing, jangan bikin suami murka." mas Givan bangkit dari posisinya.


Ia menoleh ke arahku, "Sini." ia mengulurkan tangan kirinya.


Aku meraihnya, kemudian aku bangun dari dudukku.


Tiba-tiba, mas Givan memelukku. Ia mengusap-usap punggungku.


Tadi aku sudah reda menangis. Tapi pelukan ini malah membuatku menjadi cengeng kembali.


"Jangan sok jagoan, Canda. Lendra sama aku aja kalah ngadepin Putri. Jangan sok jadi BESTie Putri, jangan sok kuat denger cerita Putri. Versi aslinya, bisa jadi dilebihkan. Karena, ceritanya cuma dari sudut pandangannya. Kek kau ngebatin aja kek mana. Kau paling merasa tersakiti, padahal nyatanya kau yang kurang mengerti keadaan."


Aku mengeratkan pelukanku, "Maafin aku, Mas." aku merasa telah mendzoliminya.


"Kita udah sepakat buat perbaiki komunikasi. Lain kali, jangan langsung ngamuk. Coba ajak aku komunikasi dengan baik, dengan syarat kau tau sikon. Kau jangan cerca aku dengan pertanyaan, masanya aku baru pulang kerja, atau lagi laper. Itu sama halnya nyari mati, Canda." suara mas Givan begitu lembut.


Ini jarang terjadi.


"VAN.... VAN.... PANGGILIN PAPAH!!!!!!!!"


Pelukan kami langsung terlepas. Mas Givan langsung kalap, dengan aku ikut paniknya saja mendengar teriakkan mamah Dinda.


Duh, ada apa ini?

__ADS_1


...****************...


Turun naik, turun naik, turun naik, turun naik, turun naik 😅 kek dress viral 🤭


__ADS_2