Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD386. Ibu Bilqis


__ADS_3

Sudah satu minggu, papah Adi berada di rumah sakit. Keadaan beliau sudah lebih baik, hanya saja beliau masih mengunci mulutnya.


Hanya satu kalimat, yang seminggu belakangan ia tanyakan. Yaitu, mana mamah? Beliau menanyakan keberadaan istrinya terus menerus. Bahkan, satu hari lebih dari lima kali.


Sayangnya, semua anak-anaknya tidak ada yang menjawab pertanyaan itu satupun. Kami tidak memiliki jawabannya.


"Gimana, Far? Tapi aku ulangi lagi di sini. Jangan sampai ada yang buka mulut ke mas Givan." aku memandang wajah Ghifar yang terlihat melamun ini.


Keputusan ada di tangannya, karena ia anak laki-laki tertua selain mas Givan. Sudah jelas sejak hari itu, kami semua pun sudah mengetahui bahwa mas Givan begitu marah pada papah Adi. Ia bahkan melarangku untuk menengok keadaan papah Adi di rumah sakit.


Namun, aku melanggarnya. Ini adalah kunjungan kelimaku di rumah sakit ini, setelah papah Adi berbaring di sini selama tujuh hari.


"Coba kita ke kamar sebelah. Kita tanyakan kebenarannya, biar kita bisa jelasin ke mamah. Mungkin, ini cuma salah paham. Kalau memang papah bener ada main sama perempuan itu, kita tetap coba ke mamah dengan minta maaf atas nama papah. Mamah harus nemuin papah, biar mamah tau gimana tersiksanya suaminya di sini." jawab Ghifar, setelah ia terdiam begitu lama.


Aku memandang wajah Giska, "Gimana?" tanyaku pada Giska.


"Ya aku ikut aja. Ayo gimana aja, yang penting mamah mau pulang." jawab Giska, yang tengah mengASIhi anaknya.


Zuhdi memiliki toleransi dan pengertian yang tinggi. Ia tidak keberatan ataupun marah, karena istrinya dan bayinya di rumah sakit sepanjang hari. Bahkan spring bed sebelah brankar papah Adi, sudah seperti basecamp bayi yang sudah bisa tengkurap itu.


Pertumbuhan Fandi cukup cepat.


"Ya udah kita ke kamar sebelah dulu. Bila perlu, kita rekam juga." Ghifar sudah bangkit dari duduknya.


"Kak Lia, tolong jaga Fandi ya?" Giska menyerahkan anaknya pada pengasuh Zio.


Zio pun berada di sini. Ia tengah anteng mengunyah, dengan bermain puzzlenya. Sudah dua malam, Zio menginap di sini. Sedangkan aku, baru kembali pagi tadi setelah menginap kemarin. Untungnya, mas Givan tidak pernah melakukan panggilan video padaku. Ia hanya melakukan panggilan biasa, atau mengirimku pesan suara. Mas Givan tengah dirundung masalah besar di sana.


Bahkan, kebakaran di tambangnya. Baru bisa dipadamkan setelah dua puluh lima jam pemadam kebakaran mengusahakannya.


Aku melangkah di belakang Ghifar, dengan Giska yang langsung menyetarakan langkahnya di sampingku.


Aku penasaran dengan selebgram itu. Berapa usianya? Sampai kakek-kakek seperti papah Adi pun, masih ia ladeni.


"Permisi." Ghifar masuk dan berbasa-basi lebih dulu.


Aku bisa melihat kepala wanita itu dibalut perban, juga rahangnya pun diperban juga. Keadaannya, tidak lebih baik dari papah Adi.


Ia tidak muda seperti kami. Tapi sepertinya, tidak begitu tua seperti usia mamah Dinda.


"Gimana keadaannya, Bu?" tanya Ghifar dengan berjabat tangan dengan perempuan tersebut.


Aku taksir, sepertinya ia berusia empat puluh tahunan. Hanya saja, memang kulitnya terawat seperti mamah Dinda. Namun, jika dilihat lebih jeli. Memang lebih enak dipandang dari mamah Dinda.

__ADS_1


"Mendingan." suaranya amat pelan


Dengan ia geser tulang rahang, pasti ia kesulitan berbicara. Semoga, ia bisa memberi penjelasan sedikit.


"Maaf, Bu. Kami di sini ingin meluruskan, perihal kesalahpahaman yang ada." Ghifar langsung mengutarakan tujuannya.


"Jadi gini, Bang." tiba-tiba perempuan muda yang tadi hanya diam, ia langsung menyerobot pembicaraan kami.


"Aktifin perekam suara." bisikku pada Giska.


Giska mengangguk, kemudian langsung memainkan ponselnya.


"Maaf, Kak. Boleh kami minta penjelasan dari pihak Ibu Bilqisnya saja?" Ghifar tetap berbicara lembut, bahkan ditambahkan dengan senyum lebarnya.


Perempuan muda tersebut garuk-garuk kepala, "Yaaaa, silahkan." terlihat sekali bahwa ia keberatan.


Aku diberi kursi oleh Ghifar, agar aku bisa duduk. Sedangkan Giska, ia sudah anteng duduk di pinggiran brankar. Ghifar tetap berdiri, di dekat tiang infus ibu Bilqis ini.


"Sebelumnya, kenal papah aku di mana Bu?" tanya Ghifar langsung.


"Kenal aja." suaranya masih pelan, meski bicaranya cukup jelas.


"Terus? Ada hubungan, atau bagaimana?" tanya Ghifar kembali.


"Tak ada hubungan, tapi lagi dekat."


"Sedekat apa? Sering jalan kah?" Giska menyerobot pertanyaan.


"Ya, setiap kali ke bang Adi ke Pintu Rime."


Ya Allah, papah Adi kenapa sih? Kok ia sampai demikian? Padahal perempuan itu, rasanya sama saja kan? Aku tidak mengerti, kenapa papah Adi sampai tega pada istrinya.


Eh, tapi ini belum jelas. Bisa jadi, ada yang ditambahkan.


"Oh begitu ya? Ibu bangga ya? Seneng ya?" ujar Giska kembali.


"Tanya aja ke bang Adinya. Kalau Saya pribadi, memang merasa diberi harapan."


Masa iya papah Adi memberi harapan pada perempuan lain?


"Misal Ibu dinikahi papah Saya berarti mau ya, Bu?" tanya Ghifar kemudian.


Aku tidak mengerti dengan kualitas pertanyaan Ghifar.

__ADS_1


Kami belum bertanya apa mereka pernah ke Oyo, apa mereka pernah liburan bersama juga. Tapi Ghifar, malah menarik hal itu.


Ibu Bilqis malah mengangguk.


"Mohon dijawab ya, Bu." ujar Ghifar kembali.


"Iya mau. Tapi bang Adi tak pernah bahas tentang nikah." ibu Bilqis menjawab tanpa malu dan sungkan. Ditambah lagi, keadaannya yang sudah terluka seperti itu.


Apa ia tidak berpikir. Bahwa itu adalah karma, karena ia jalan dengan suami orang?


"Memang papah kami tak pernah bilang, bahwa beliau beristri?" tanyaku kemudian.


Aku sudah gemas pada jenis modelan perempuan doyan laki orang seperti ini.


"Sering bilang." ia tahu padahal. Ya ampun, tapi ia malah memperjuangkan.


"Nah Ibu padahal tau, bahwa papah kami beristri. Kenapa Ibu mau ngeladenin gitu loh?" Ghifar cukup pandai mengajukan pertanyaan. Meski awalnya, pertanyaan itu terdengar ngalor-ngidul.


"Karena bang Adi ngasih harapan." jawaban yang sama.


"Ya udah. Makasih ya, Bu? Moga lekas sehat." Ghifar malah berpamitan.


Bagaimana sih?


Aku belum puas bertanya.


"Far!" aku menarik kemeja bagian belakangnya, ketika kita berada di lorong rumah sakit.


Ghifar menghentikan langkahnya, "Apa?" tanyanya dengan memutar tubuhnya menghadap ke arahku.


"Kita belum banyak nanya, Far. Kita belum nanya, apa pernah ke Oyo, ngapain aja, udah ke mana aja, udah masuk uang berapa, udah dapat apa aja." aku nyerocos, dengan menekuk satu persatu jariku ketika menyebutkan itu semua.


"Ya sana kau tanya sendiri. Dengan kek gitu aja, aku malah takut benci sama papah kandung sendiri." uratnya langsung masam, dengan mata yang langsung melihat lantai.


Hah?


Bagaimana konsepnya ini? Anak kandung papah Adi pun, sampai khawatir takut membenci ayahnya sendiri, jika tahu bagaimana tingkah ayahnya dengan perempuan yang bukan ibunya.


Tapi aku masih penasaran. Aku akan menginap di sini kembali. Aku akan mengajak papah begadang dan mengobrol saja. Aku ingin papah buka mulut sendiri.


Karena terang saja. Aku tidak percaya, dengan perkataan perempuan tersebut.


...****************...

__ADS_1


Bagaimana pengakuan papah Adi?


Ini menjelang tamat ya kak 🤭 eh, gak tau juga sih 😆 masih belum terlihat hilalnya 🤭


__ADS_2