Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD295. Break atau putus


__ADS_3

Aku melepaskan genggaman tangannya, "Bukan aku tak percaya, tapi cara Abang berbohong itu kurang rapih. Nih, aku kasih tau ya?" aku menarik nafas dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan.


"Ayah kandungnya Ceysa bujang, tapi nyatanya dia punya anak usia empat tahun, masa aku tau itu. Aku baru tau kebenaran itu, waktu lagi ngandung Ceysa, usia kehamilan enam bulan. Sejago itu loh dia bohong, serapi itu loh cara mainnya. Jadi, pembohong amatiran kek Abang itu udah kebaca. Omongannya, kek yang iya polos. Tak taunya, cuma alibi aja biar bisa nyosor bibir." aku menyipitkan mataku, sengaja menyudutkannya.


Ia mengusap wajahnya kasar, "Abang udah jujur, Dek."


Ia butuh aku meyakininya ternyata.


"Jujur apa?" aku menaikan daguku.


Ia menggaruk kepalanya, ia tengah dilanda kepanikan mencari alasan menurutku.


"Yaaaa.... Abang jujur, Dek."


Tidak jelas jawabannya.


"Apa?" aku masih menatap matanya.


Namun, ia yang selalu membuang pandangannya ke arah lain. Mencurigakan, benar-benar mencurigakan.


Bang Ardi malah diam, ia tak menjawabku. Atau berniat menjelaskannya.

__ADS_1


"Aku udah pusing, Bang. Kalau Abang diam gini, baiknya kita udahan aja. Toh, kita belum ada rencana lebih jauh lagi kan? Yang udah direncanain lama pun, nyatanya Abang milih putus sama Aini. Lebih-lebih, duain Aini sama aku."


Bang Ardi mengacak-acak rambutnya, "Jangan putus, Dek." ia menggenggam jemariku lagi, "Abang cinta sama Adek." wajahnya begitu memelas.


"Coba, gimana? Jelasin ke aku!" aku menyentuh ulu hatiku.


Ia menundukkan kepalanya, "Iya, maaf. Masa itu, Abang memang masih punya hubungan sama Aini. Namanya laki-laki, dikenalin sama cewek. Apa lagi ceweknya menarik, Abang juga ngerasa nyaman pas ngobrol sama Adek. Sejak itu, mungkin perasaan Abang ke Aini udah sirna. Abang udah terlanjur cinta sama Adek."


Sesak.


Aku memejamkan mataku, lalu menekan ujung mataku.


Aku ini bodoh?


Ia menggenggam kedua tanganku, "Abang cinta sama Adek."


Aku segera melepaskan tangannya, aku menautkan jemari tanganku sendiri.


"Masanya Abang dikenalin cewek lain, terus Abang nyaman ngobrol sama dia. Pasti keulang nih, cinta-cintaan yang lainnya." aku memilih untuk memperhatikan Ceysa sejenak.


Ia masih melihat-lihat video lainnya.

__ADS_1


"Udah gini aja." aku memandangnya kembali, "Kali ini, aku butuh komitmen. Untuk sekarang, kita break aja dulu sampai Abang bisa berkomitmen sama aku. Baca-baca di Google, kalau tak tau komitmen itu apa."


Rasanya, aku muak dengan pernyataan cinta darinya. Aku sudah bosan dengan cinta-cintaan. Aku ingin hubungan yang berlangsung sampai aku tiada, aku butuh komitmen yang kuat. Sudah cukup, dua kali gagal berumah tangga.


"Abang paham komitmen itu apa. Adek butuh pernikahan kan? Okeh, Abang bakal langsung lamar." ia menarik rahangku, agar menghadap padanya.


"Bukan, cuma pernikahan. Aku butuh, di mana Abang tetap pertahankan aku sebagai istri Abang, masa Abang ketemu perempuan yang lebih baik dari aku. Abang pahami aja dulu! Abang ngertiin diri Abang aja dulu! Abang yakini perasaan Abang dan keputusan Abang aja dulu! Kita break, sampai Abang datang ke aku. Kalau memang Abang lama tak ada keputusan, tandanya kita selesai. Kita udah masing-masing, kita selesai."


Aku harus tegas di sini.


Bang Ardi terlihat langsung lesu. Ia menggosokkan wajahnya kasar.


"Abang harus gimana lagi sih, Dek? Yang terpenting kan, Adek sama Abang udah sama-sama. Jangan pikirin Aini lagi, jangan dengerin ucapan dia. Dia cuma pengen Adek panas hati aja."


Aku menghela nafasku, "Sampai dianterin gitu? Padahal RT sebelah aja?! Terus sampai pura-pura tak liat aku?! Apa takut kepergok aku?!" aku memberinya pelototan.


"Yang percaya, Abang cuma cinta sama Adek." ia mencium punggung tanganku.


Aku cepat-cepat menyembunyikan tanganku, "Udahlah! Kita udahan aja sekalian!"


...****************...

__ADS_1


😳


__ADS_2