Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD275. Lendra mengutarakan


__ADS_3

Aku mematung di sofa yang aku duduki ini.


Bagaimana ini?


"Duduk, Lendra." pinta ibu begitu lembut.


Bang Daeng memberi senyum untuk semua orang, lalu ia duduk di sofa dekat pintu belakang. Itu adalah tempat, di mana bang Ardi selalu duduk.


Ia meringis, gerakan duduknya begitu pelan.


"Aku semalam nginap di belakang, Bu. Belum puas ketemu Ceysa, pengen ketemu dia lagi." ujarnya kemudian.


"Siapa, Dek?" tanya ma lirih.


Aku beralih memandang ma, pasti urat wajahku begitu kaku untuk tersenyum.


"Ayah kandungnya Ceysa, Ma. Anak perempuan aku itu, yang paling kecil." akuku kemudian.


Dahi abu mengkerut, ia seperti tidak suka dengan kehadiran bang Daeng di sini.


"Kalau begitu. Kau sama Ibu kau, nanti ke rumah aja ya? Kita lanjut nanti aja obrolan ini. Sekalian... Abu mau tanya keseriusan Ardi juga."


Deg....


Pasti ini bersangkutan dengan ayahnya Ceysa ini. Pasti abu mengira, bahwa aku masih memiliki hubungan dengan bang Daeng.


Aku bangkit, karena mereka langsung buru-buru pergi.


Aku sudah menyiapkan kue dan buah, yang bang Ardi minta untuk diberikan pada orang tuanya. Baiknya bang Ardi, ia ingin aku dicap baik karena memberi buat tangan untuk tamu terhormat ini.


"Bentar, Ma." aku langsung mencangking plastik berwarna putih dan plastik berlogo toko kue ini.


"Tak usah, Dek." ujar ma.


Sedangkan abu, ia malah pergi duluan.


"Tak apa, Ma. Bawalah." aku tersenyum manis.


"Makasih, Dek." beliau membalas senyumku.


Aku mengangguk, "Sama-sama." aku berjalan mendampingi beliau, mengantar beliau sampai ke teras toko.


"Ati-ati, Ma." ucapku kemudian.


"Ya, Dek." beliau tersenyum ramah kembali.


Mereka berjalan kaki. Namun, abu berjalan lebih dulu.

__ADS_1


Aku mendelik tajam pada Ria. Ia cengengesan, aku ragu ia mengerti kesalahannya. Ria adalah anak-anak, yang menginjak masa remaja. Pacaran saja, beraninya kucing-kucingan. Aku ragu, ia mengerti kenapa ia malah mempersilahkan bang Daeng untuk masuk dan bergabung. Bukannya ia saja yang meladeni, toh bang Daeng perlunya dengan Ceysa.


"Ceysa, Chandra sama Zio kan ada sama kau. Kenapa kau bawa bang Lendra gabung, Ria?" ketusku dengan berjalan mendekatinya.


"Chandra dibawa papah. Zio sama Ceysa dibawa kak Winda, sama mamah. Masa iya aku ngobrol sama bang Lendra? Apa yang mau aku obrolin?" ia duduk di tempat favoritnya, di mana WiFi rumah megah terbaca di sana.


Aku masih meliriknya dingin, "Ya jangan dipersilahkan masuk juga, mintalah dia duduk di sini sama kau." aku berjalan mendekatinya.


"Terus mau aku apakan? Aku gak ngerti lah, Mbak. Mana yang dicari pun, lagi diajak ke sekolahan Gibran." Ria malah ngegas.


"Ngapain ke sekolahan Gibran?"


Padahal baru sebentar, aku menitipkan anak-anak. Ehh, sudah berpencar saja mereka.


"Jajan, sama mamah sama kak Winda. Awalnya Chandra diajak lebih dulu sama Papah, katanya mau tengok ladang. Terus mamah keluar sama kak Winda, katanya mau jajan di SD."


"Jemput sana! Bawa balik Ceysanya." aku berlalu pergi.


"Biarlah, Mbak. Nanti juga mamah pulang sendiri."


Aku ingin membogem kepalanya.


Aku segera berbalik, aku menatapnya tajam.


"Kalau kau jemput, bisa lebih cepet. Kalau kau tak jemput, mamah bisa mampir-mampir dulu ke sana ke mari. Nanti Ceysa lebih lama lagi pulangnya." aku menjelaskan perlahan, agar Ria mau mengerti.


"Ya udah, ya udah. Aku jemput nih." ia bangkit, lalu ia langsung berlalu dengan bibir mengerucut.


Aku membuang nafasku. Hanya bisa geleng-geleng kepala, melihat gerutuan Ria yang masih berlanjut.


"Kak... Ini uang besarnya, minta pecahan." cek Iyak menghitung uang dari kaleng penyimpanan uang.


"Ya, Cek." aku berjalan memutar, untuk masuk ke area etalase toko.


Aku segera membuka laci yang terkunci. Laci ini, berada di meja tempat pembukuan. Gayanya pembukuan, tapi memang seperti itu. Pemasukan harian dihitung, pengeluaran toko juga. Aku tidak bisa langsung memakai, uang penghasilan hari ini.


"Ini recehannya, Cek." aku memberikan uang receh yang sudah dirapihkan di dalam plastik es.


"Pecahan juga. Dua ribuan, lima ribuan, sepuluh ribuan, dua puluh ribuan." ujarnya dengan memberiku uang merah dan biru, berjumlah tiga ratus ribu.


"Ya, Cek." aku kembali ke laci itu.


Setelah beres, aku kembali ke sofa tamu lagi. Ibu begitu akrab, mengobrol dengan bang Daeng. Persis masa-masa, waktu bang Daeng masih menjadi menantunya.


"Cemberut aja, Cantik." ucap bang Daeng, saat aku duduk kembali dengan bersedekap tangan.


"Lendra ngajak rujuk itu, Ndhuk." ibu mengatakan sambil terkekeh kecil.

__ADS_1


"Tak bisa, Bu. Aku tak mungkin nikah sama dua laki-laki." aku masih memandang lurus.


"Ya satu aja, jangan dua-duanya." timpal bang Daeng dengan tertawa kecil.


Sok asik!


"Naksir berat dia sama Ardi itu, Len. Raka aja, pilihan mamah Dinda, sampai ditinggal, demi Ardi."


Aku menoleh cepat pada ibu. Sebenarnya, ibu memiliki masalah apa? Ia sepertinya, ingin mengumbar semua yang sudah terjadi di belakang bang Daeng.


"Ohh, ada lagi ternyata sebelum Ardi itu?" bang Daeng benar-benar sok akrab dengan ibu.


"Ada, pengusaha tambak. Ibu nyaranin sama Raka aja, tapi dia lebih milih adiknya Zuhdi itu."


Bang Daeng manggut-manggut, ia mengusap jenggotnya. Lihatlah? Bahkan ia seperti bapack-bapack yang memelihara kumis dan jenggot.


Tepuk jidat.


Heran aku juga. Kenapa aku dulu bisa nemplok padanya.


Bukan aku sok cantik. Rasanya, heran saja aku melihat mantan kok malah terlihat jelek.


"Memang Ibu gak setuju, kalau Canda sama adiknya Zuhdi?" tanya bang Daeng kemudian.


"Setuju, gak setuju. Maksud Ibu kan, cari yang lebih menunjang gitu. Bukannya apa-apa ya, Len. Kamu sendiri ngerasain kan? Gimana beratnya biaya hidupin anak kamu, si Jasmine itu." perhatian ibu tertuju pada bang Daeng.


Bang Daeng mengangguk beberapa kali, "Iya, Bu. Aku paham, Bu. Yaaaa.... Aku ngajak Canda rujuk pun. Karena, aku pribadi ngerasa udah mampu gitu untuk biayain kehidupan kita. Insya Allah, aku mampu sekolahkan anak-anak. Ya doain aja, Bu. Semoga umur aku panjang."


Nah, kan?


Siapa ya yang pernah bilang?


Seseorang pernah mengatakan. Coba saja berdialog dengan Lendra, bagaimana cara dia berbicara. Sampai-sampai, kita akan diputar balikkan dengan keputusan kita sebelumnya.


Oh, iya. Jika tidak salah, Putri yang mengatakan hal itu. Orang tua Putri saja , bahkan hanya mampu diam saat meminta Lendra tanggung jawab untuk Putri.


Ya, Putri juga yang mengatakan hal itu.


"Aamiin, aamiin. Semoga kamu panjang umur dan sehat selalu, Len."


Aku ingin berseru pada ibu saja. Aku ingin mengatakan, bahwa bang Daeng tidak tengah ulang tahun sekarang.


Sayangnya, ibu adalah orang tuaku. Jika modelan Ria, aku getok juga kepalanya sekalian.


"Jadi gimana, Bu? Kalau aku minta rujuk sama Canda lagi."


...****************...

__ADS_1


Pasti kaku banget yang jadi Canda 😂


Udah mau nikah sama ayang mbeb, mantan suami malah ngajak rujuk. 🤣


__ADS_2