Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD281. Toxic


__ADS_3

Aku bertopang dagu di atas balkon kamarku. Aku masih memperhatikan rumah mas Givan yang tengah dibangun, aku masih memperhatikan dirinya yang memakai helm berwarna merah. Karena hanya dia seorang, yang memakai helm berwarna merah.


Selama satu minggu ini, bang Ardi menghindariku. Ia selalu singkat membalas pesanku. Bahkan, tak jarang hanya dibacanya saja. Ingin ke rumahnya, tapi aku tidak berani. Ingin membawa ibu ke sana, untuk membahas perihal hubungan kami. Tapi, hubunganku dan bang Ardi tidak tengah baik-baik saja.


Rumit sudah.


Kasmaran ini menyiksaku.


"Iyung...."


"Ya, Dek."


Aku langsung masuk ke dalam kamar, lalu mengunci pintu penghubung balkon ini. Ceysa tengah mengucek matanya, ia baru terbangun dari tidur siangnya.


"Ceysa belum mamam siang. Yuk mam, Biyung suapin." aku mengulurkan tanganku, dengan berdiri di ujung ranjang.


Ceysa bangun perlahan. Setelah ia mampu berdiri, ia menyeimbangkan posisi kakinya dulu. Barulah, ia melangkah mendekatiku.


Aku langsung mendekapnya, kemudian mengangkat tubuhnya.


"Mam sama ayam goreng, Dek." aku berjalan ke arah pintu kamar.

__ADS_1


Ceysa hanya diam, ia malah menguap beberapa kali.


Beberapa saat kemudian. Ceysa sudah berada di gendongan jarik, yang bertumpu di bahuku. Chandra dibawa Ghava, mereka tengah berkunjung ke rumah orang tua Winda. Aku paham sebenarnya, Chandra dibawa, karena digunakan sebagai bentuk kerepotan Ghava. Agar ia punya aktivitas yang merepotkan, dari pada wawancara bersama mertuanya.


Diketahui oleh orang rumah, bahwa Ghava tidak memiliki hubungan yang baik dengan mertuanya.


"Ain." Ceysa menunjuk rumah mamah Dinda, saat aku membawanya ke teras ruko ini.


"Sambil dikunyah ya?"


Ceysa menganggukkan kepalanya. Tangan kanannya, sampai membawa sayap ayam yang digoreng itu. Chandra pemakan kulit ayam dan paha ayam, Ceysa pemakan sayap ayam dan kaki ayam. Ceysa suka menggerogoti tulang, itu adalah hal yang asik menurutnya. Ia akan anteng di tempatnya, sampai daging yang melekat di tulang itu habis tak tersisa.


"Mana mamah, Pah?" ucapku, saat aku memasuki rumah ini.


Papah Adi tengah merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang ruang tamu. Ia tengah bermain ponsel di sana.


"Mamah tidur siang, Dek." jawabnya dengan melirikku sekilas.


"Papah tak ke ladang?" aku masih berdiri di dekat pintu.


"Udah sampai dzuhur tadi."

__ADS_1


Aku beralih menatap Ceysa, "Nenek bobo, Dek. Main di rumah aja ya?" ucapku kemudian.


Papah Adi bangun dari posisinya, "Kak Key juga bobo. Sini Adek Ceysa main sama Kakek aja." papah Adi menepuk tempat di sebelahnya.


Ceysa memandangku, "Yun, Yung." bibirnya begitu lancip.


Aku mengangguk, lalu menurunkannya. Aku membiarkannya berjalan ke arah papah Adi, dengan menenteng sayap ayam itu. Sedangkan aku, lebih memilih untuk duduk di sofa dekat pintu.


Aku masih malas berbicara pada orang. Mungkin, urat wajahku begitu kaku karena aku jarang tersenyum sekarang.


"Hubungan kalau udah toxic betul, tak usah dilanjut. Dari pada jadi beban pikiran. Ada Chandra, Ceysa, bahkan Zio yang dititipkan Givan, yang lebih layak untuk kau pikirkan cara mendidik mereka. Dari pada, mikirin yang udah bosen sama kau."


Aku menoleh cepat ke arah papah Adi. Ia tengah mengangkat tubuh Ceysa, agar anak imut itu duduk di sofa.


Apa ia bang Ardi bosan?


"Pah.....


...****************...


Senangnya punya orang tua perhatian 😌

__ADS_1


__ADS_2