
"Dokumen kita, sama punya anak-anak." mas Givan duduk di sebelahku, dengan memberikan dokumen tersebut.
"Aku mau ajak kau keluar, Dek." saat ia mengatakan itu, ia malah memainkan ponselnya.
"Ke mana, Mas?" aku masih memelototi anak-anak yang berlarian.
"Ada deh." ia menoleh ke arahku dengan tersenyum manis.
"Tapi aku mau ngobrol, Mas. Aku kangen ngadu sama Mas." aku berusaha tidak menyebutnya kau.
"Ngobrol apa sih? Aku kemarin kerja, aku tak suka dicurigai. Tanya keluarga Lendra kalau tak percaya. Tinggal aja tuh, aku di rumah dato yang di Singapore. Aku sengaja tak booking hotel, biar bisa jaga diri."
Kenapa sih mas Givan jadi sensitif seperti ini?
Aku tidak menuduhnya, aku hanya ingin banyak bercerita dengannya.
Aku sudah malas jika sudah seperti ini. Aku bangkit, lalu berjalan ke arah Ceysa yang mengambil dedaunan kering. Entah apa misinya, tapi aku ingin Ceysa menyudahi kegiatannya.
"Istirahat yuk, Dek?" aku menggandeng tangan Ceysa.
Biar saja anak-anak yang besar sih, toh ayahnya ada di sini.
"Hei, Canda! Mau ke mana?!" aku memilih enggan menjawab pertanyaannya.
Aku ingin pikiranku jernih dengan sendirinya, tanpa menggerutu tentang mas Givan. Padahal, tadi aku tidak berniat menuduhnya. Tapi sepertinya, mas Givan mempunyai waktu yang ia sengaja sembunyikan dariku. Sampai-sampai ia menarik nama dato, agar aku percaya padanya.
Aku membaca ini semua, dari pengalamanku dengan bang Daeng. Aku paham laki-laki pemain seperti ini. Sudah cukup aku dikelabui jenis-jenis seperti mereka
Biar nanti aku minta pil KB saja dari Kinasya. Pasti ia menyimpan itu, ketimbang aku harus hamil lebih dini dengan memiliki beban pikiran.
Mas Givan mengikutiku, dengan datangnya seorang wanita di belakangnya. Sudah pasti itu Putri, yang sudah disetting agar terlihat seperti tamu.
Aku lebih memilih menggendong Ceysa, lalu membawanya ke kamar. Aku memilih tidur saja, dari pada menyaksikan drama Putri menangis pilu.
Mungkin hatiku akan mati rasa setelah ini.
"Nek..... Ada mamah aku."
Dahiku mengkerut, mendengar seruan Key. Ternyata, prasangkaku salah? Fira yang datang, bukan Putri?
"Ya, bentar." sahutan mamah Dinda sepertinya dari arah belakang.
"Cucu." Ceysa enggan untuk tidur.
Aku sudah melepas hijab. Malas sekali rasanya untuk mengenakannya lagi.
"Tunggu sini ya? Biyung bikinin susunya dulu."
Namun, Ceysa malah menggeleng.
Dengan berat hati, aku menyampirkan hijabku. Kemudian, aku menggendong Ceysa.
Enak sepertinya, bila berada di rumah sendiri. Seperti aku, saat di ruko galon itu. Aku bebas tanpa hijab di rumah, tanpa mendapat teguran. Jika di sini, sudah pasti mas Givan akan ribut saja.
__ADS_1
Tapi ngomong-ngomong, aku kapan diboyong ke rumah barunya?
Aku langsung menuju dapur, saat tawa ringan terdengar dari ruang tamu. Aku ingin Ceysa mendapat botol susunya dulu, agar aku bisa menimangnya.
"Canda...." mas Givan meneriakiku.
"Bikin susu, Mas." sahutku dengan suara lepas.
Ia muncul, lalu tersenyum manis padaku.
"Katanya mau ke Sabang, prepare gih."
Aku melongo mendengar penuturannya tak percaya.
Plak....
"Iyung, cucu!" Lendra kecil marah, ia sampai menampol wajahku.
"Nih, nih. Bentar ya? Dik*cok dulu." aku memberikan botol dot di tangan Ceysa, lalu aku membenahi caraku untuk menggendongnya.
"Sama Fira, Mas?" aku mendongak, menatap mas Givan yang masih memperhatikanku dan Ceysa.
"Ngapain bawa-bawa Fira? Fira sengaja datang, buat ajak Key dulu. Tapi jangan bilang-bilang mamah ya? Aku tak enak hati." mas Givan mengecilkan volume suaranya.
Aku mengangguk samar, "Sama anak-anak juga, Mas?"
"Iya, Chandra sama Ceysa aja. Bingung sih mau alesan apa. Masa mau terang-terangan nitipin anak, soalnya kita mau liburan. Tapi kalau tak dititipkan, ya gimana juga?!" mas Givan menggaruk bagian atas telinganya.
"Mas...." aku masih mencari kalimat yang tepat.
"Hm, apa?" ia bersandar pada meja bar dapur ini.
"Mau apa ke Sabang? Maksudnya... Kitanya ini mau apa?" aku bertanya dengan hati-hati.
"Katanya mau nganu, kek yang kau bilang di teras masjid."
Wajahku sepertinya bersemu merah sekarang. Tetapi, aku teringat masa kelahiran Ceysa dan aku belum pernah merawat intiku sama sekali.
"Mas...." aku bingung untuk jujur.
"Tau!" ia melirikku sinis, "Biji aku udah sembuh, kau tenang aja." lanjutnya lirih.
Namun, mas Givan malah tepuk jidat.
"Duh, ada Adek Ces. Lupa Yayah tuh, ngomong jelek." mas Givan tersenyum malu, kemudian mencium pipi Ceysa.
"Gih prepare dulu, Ceysa biar sama saudara-saudaranya dulu." mas Givan hendak mengangkat tubuh Ceysa dari gendonganku.
"Dek bobo, Yah." Ceysa malah lengket di pundakku.
"Ya udah Adek Ces bobo dulu, biar di perjalanan bisa nyanyi-nyanyi." mas Givan mengusap-usap pipi Ceysa dengan telunjuknya.
Pandangan mas Givan berpindah ke arahku, "Gih, tidurin dulu Ceysanya. Kasian, ngantuk."
__ADS_1
Aku mengangguk dan langsung menuju ke kamar kembali.
Ternyata ada kebaikannya juga, mengajarkan anak menyebut paman dan bibinya dengan sebutan seperti ke orang tua mereka sendiri. Ceysa sudah terbiasa memanggil yayah, tanpa terlihat canggung.
Suara obrolan masih terdengar. Sepertinya, Fira masih berada di ruang tamu. Ingin menyambut pun bagaimana, kini giliran Ceysa yang benar-benar minta tidur. Padahal tadi aku hanya beralasan saja, karena sengaja menghindari tamu yang aku kira adalah Putri.
Ceklek....
"Ceysa tidur belum?"
Aku melirik sekilas ke arah pintu. Mas Givan ada di sana, ia baru masuk ke dalam kamar ini.
"Belum lelap." jawabku sedikit pelan.
Aku merasakan goyangan di sisi tempat aku tertidur.
Benar saja, mas Givan duduk di dekat bantalku dengan bersandar pada kepala ranjang. Tangannya kini malah mengusap-usap kepalaku.
"Kenapa, Mas?" aku mendongak menatapnya.
Aku takut terlalu nyaman mendapat usapan di kepala ini.
"Nanti jangan dibuat hamil dulu ya? Aku belum siap. Nanti kalau Ceysa besar aja, sekitar usia sepuluh tahunan, terus kita baru punya anak lagi."
Kenapa obrolannya tiba-tiba seperti ini?
"Mas, aku jangan diusap-usap terus. Nanti aku lelap."
Mas Givan mala menoleh kaget, kemudian ia geleng-geleng kepala.
"Ya Canda? Pakai KB dulu. Mumpung Ceysa tidur, ayo aku anterin ke bidan."
Ia serius?
Aku ingin membahas tentang ganjalan di hatiku, sebelum membahas tentang KB ini. Masalahnya, aku pun sedikit was-was untuk disentuh olehnya.
"Kenapa?"
Sepertinya mas Givan menyadari kerumitanku.
"Mas... Aku dulu, pernah operasi perawan. Bang Lendra yang cover biaya, akhirinya pun dia sendiri yang jebol perawan aku itu. Terus sekarang....." aku bingung untuk mengutarakannya.
"Sekarang anaknya udah dua, belum sempat oeprasi perawan lagi gitu?" mas Givan malah melanjutkan ucapanku.
"Eummm.... Bukan begitu, Mas." aku bangkit, lalu duduk berhadapan dengannya.
Mas Givan menaikan dagunya, "Terus apa?" suaranya lirih hampir tidak terdengar.
"Aku takut Mas ngomong.......
...****************...
Ngomong apa, Cendol? Terus mau apa? Mau cerai gitu? Bikin gemes aja 😣
__ADS_1