
"Hana, Bang." aku menggeleng berulang kali.
Namun, ia malah menoleh ke kiri dan ke kanan. Ia seperti mencari sesuatu yang misterius.
"Siapa hana?" tanyanya dengan dahi yang mengkerut.
Aduh, aku lupa. Bang Lendra orang Makassar, pasti tidak ada bahasa hana-hanaan di sana.
"Maksudnya, tak ada Bang." jelasku tersenyum canggung.
"Kau tak punya uang ya?" pembahasan malah berpindah soal keuangan, tentu saja aku mengangguk. Aku masih berharap diberi upah olehnya, karena aku ingin melihat dunia luar dengan sosal media. Aku ingin membeli kartu baru dan kuota data yang terjangkau.
"Ya udah, Abang ke fotocopyan dulu." ia bangkit dengan Chandra yang langsung memeluk erat kakinya.
"Yum." Chandra mendongak pada bang Lendra, wajahnya terlihat begitu mengharapkan belas kasih.
Aku jadi ingin tertawa, melihat tingkah keturunan mas Givan ini.
"Apa? Nen lagi?" bang Lendra berkata sembari tertawa tertahan. Kentara sekali di wajahnya, bahwa ia pun merasa geli melihat ekspresi Chandra.
"Ke fotocopyan mau apa, Bang?" aku ikut bangkit, saat Chandra mulai beralih ke dekapannya.
"Beli pulpen buat kau, kertas polio, map coklat, penjepit kertas." dari wajahnya, ia terlihat seperti menahan kekesalannya padaku.
Apa aku terlalu banyak bertanya kah?
"Aku ikut, Bang. Nanti Chandra diculik lagi." aku segera mengenakan sendal jepit yang membawaku dari Bener Meriah sampai ke Padang ini.
"Jangan minta jajan, besok biar...." aku segera memangkas kalimatnya.
"Ke S*zuya kah, Bang?" aku penuh harap saat mengatakannya.
"S*zuya?" bang Lendra menaikkan sebelah alisnya.
Apa ia tidak tahu mall besar kah? Ia seperti tidak tahu nama mall tersebut.
"Mall, Bang." jelasku kemudian.
Ia malah geleng-geleng kepala. Ia berjalan lebih dulu, dengan langkah lebarnya.
Aku mengekorinya, sesekali Chandra menoleh ke arahku dengan tersenyum lebar.
Aku menoleh ke kiri dan ke kanan, melihat beberapa mobil pribadi dan angkot berseliweran di sepanjang jalan ini. Hingga...
Dughhhh...
Aku mengusap-usap pucuk kepalaku. Untungnya posisi wajahku tidak menatap lurus ke depan. Jika sampai seperti itu, hidung buatan sang ilahi ini akan mirip dengan hidung mamah Dinda.
__ADS_1
"Lain kali jangan begitu ya? Wadepak Man!"
Aku bahkan hafal suara laki-laki yang dipanggil Katak, dalam satu aplikasi yang sering aku scroll saat tersambung WiFi rumah megah itu.
"Abang kek mana? Tak kasih rambu, atau apa gitu. Kalau ditabrak dari belakang tuh, Abang yang tetap bersalah tau!" ucapku dengan menahan tawa, karena aku masih ingin tertawa mendengar suaranya yang menirukan si bang Katak itu.
"Abang kasih paham ya?" ia menganggukkan kepalanya dan menatap mataku.
Aku paham, ia ingin aku mengangguk.
Aku segera mengangguk, menanggapi ucapannya itu.
"Kalau lalu lintas, terus ada mobil yang ditabrak dari belakang itu. Yang salah itu yang nabraknya, bukan yang ditabraknya." Lanjutnya kemudian.
Aku terkekeh kecil, lalu menutup mulutku dengan telapak tanganku.
"Nih, nih! Rupanya nengokin orang jualan jajanan aja. Kek angon bocah rasanya." ia menyodorkan uang berwarna hijau langsung ke tanganku.
"Bisa gak nyebrangnya?" aku seperti anak kecil yang mengangguk kepala berulang kali.
"Duh! Ayo!" biarpun suaranya pelan, tapi aku bisa mendengar dengan jelas penekanan dan seruan dari nada suaranya.
Ia menarik tanganku, membawaku ke suatu gerobak penjual makanan yang berada di pinggir jalan.
"Sana jajan! Abang ke fotocopy dulu di sana." ia menunjuk plang yang bertuliskan Canon.
Aku anaknya kah?
Apa aku kekanak-kanakan?
Kenapa juga aku selalu mengangguk?
Aku malah tertawa sendiri, saat menyadari aku dikira menginginkan jajanan sampai menabrak punggung lebarnya itu.
"Berapaan, Pak?" tanyaku pada pedagang apa ini? Ya intinya, dia menjual seperti makanan anak-anak yang digoreng.
"Lima ribu tiga." bapak-bapak itu tersenyum ramah padaku.
"Sepuluh ribu aja, Pak." sebenarnya aku tidak mengerti, makanan apa yang aku beli ini. Mungkin ini adalah jajanan khas daerah sini.
Di sebelah gerobak ini, ada penjual seafood bakar yang seharga dua ribuan satu tusuknya.
Entah ini terbuat dari apa. Tapi dari aku masih di dalam pondok, aku selalu menggilai jajanan ini. Dari cerita mamah Dinda pun, mas Givan kecil selalu jajan makanan ini. Ternyata, harganya tidak berubah seiring perkembangan zaman.
Aku memilih lima tusuk seafood bakar berbagai bentuk. Aku hanya minta ditambahkan mayones dan kecap saja, tanpa saos-saosan yang mengganggu rasa asli dari makanan ini.
Tak lama, bang Lendra kembali dengan kertas yang berada di dalam plastik putih sedikit buram dan bertekstur seperti kulit jeruk yang berada di tangannya.
__ADS_1
"Udah?"
Kembali, aku hanya mengangguk saja. Seperti biasa, ia menarik tanganku saat akan menyebrang. Aku merasa seperti anak kecil yang tidak bisa menyebrang.
"Mau jajan bilang! Jangan nengok ke arah tukang dagangnya aja. Malu-maluin nih, dikira orang Abang gak bisa jajanin."
Oh, jadi ia tersinggung tadi?
Tapi, aku hanya melihat sekitar. Bukan fokus melihat orang-orang yang berjualan itu.
"Anak kau kasih, biar anteng. Liat ke sini, biar bisa nulisnya."
Dia kata biar bisa nulisnya. Dia tak tahu saja, hasil tulisan tanganku.
Ia menuliskan untuk contoh membuat surat permohonan kerja dan daftar riwayat hidup, di kertas yang sudah tidak terpakai.
Kertas-kertas yang ia beli di tempat fotocopy, bang Lendra maksudkan untuk perantara aku menulis surat permohonan kerja dan daftar riwayat hidup ini.
"Kau makan terus!" ia melirikku dengan sorot mata tajamnya.
"Iya-iya, Bang." aku tersenyum lebar padanya.
Ia gampang sekali naik pitam jika berbicara padaku. Meski tak lama, nada bicaranya lembut kembali.
"Apa sih kau? Ngangguk, iya-iya lagi." bang Lendra terkekeh geli dengan mengunci pandanganku.
"Lah, memang kek mana? Nanti aku kena marah lagi." aku ingin menghindari kemarahan orang-orang terdekatku saat ini. Karena hanya mereka yang kasihan padaku dan Chandra sampai detik ini.
Aku paham, meski dari luar mereka terlihat begitu bebas dan seperti tak memiliki akidah. Tapi mereka paham caranya memanusiakan manusia.
"Terserah kau udah." bang Lendra terlihat kesal kembali dengan fokus pada hasil tulisannya.
"Kek gini, jangan sampai salah nulis." ia memberikan bolpoinnya padaku.
"Ok, aku coba ya Bang?" ia mengangguk.
Kemudian aku mencari posisi yang nyaman untukku dan aman untuk kertas polio ini. Meski lama tidak menulis, aku bisa menjamin hasil tulisan tanganku.
Menulis kitab dan cara kepenulisan yang benar diajarkan sejak aku masuk ke dalam pondok pesantren dan menimbah ilmu di dalamnya. Harusnya, sekarang bang Lendra ternganga melihat tulisanku.
Bukannya, tersenyum penuh arti. Saat melihat goresan tinta yang aku torehkan ini.
"Kau.......
...****************...
Dipuji gak ya?
__ADS_1
Tolong jangan bilang bosen ya? Kalian belum tahu saja cara author main konflik 😝🤭