
"Maaf. Biar Saya yang mundur. Seumur-umur, baru kali ini Saya merasa terjebak dengan kebodohan sendiri. Udah begini, bertahan pun percuma. Karena aku udah dicap jelek, jika memang bertahan semata-mata untuk mendapatkan suami."
"Tapi sebelumnya Saya minta maaf ya, Bilqis? Kau begini karena suami Saya, bukan maksud hati jadikan kau pelaku utama. Saya paham, letak kesalahan ada di mana." mamah Dinda melirik suaminya.
Papah Adi menghela nafasnya, raut wajahnya terlihat tidak enak sekali. Mungkin di sini, papah Adi pun wajib meminta maaf pada Bilqis.
"Maaf ya, Bilqis? Tapi aku tau, kau sengaja jebak." baru juga minta maaf, tapi papah Adi langsung menuduh.
"Saya tidak menjebak, Anda sendiri yang ambil kesempatan dalam kesempitan. Tau bagaimana tak berdayanya aku, segala dimanfaatkan segala." benar juga kata ibu Bilqis.
"Ya jadi dimaafkan tak, Tante? Sifat laki-laki memang gitu. Bukan aku minta maklumnya aja, tapi apa diri Tante sendiri bagaimana menyikapinya? Logikanya, memang wajar menuntut tanggung jawab. Tapi, alangkah baiknya tanpa ancaman dan dimusyawarahkan juga nih. Aku juga pengalaman kek gini, Tan. Berujung perceraian, meski beberapa tahun kemudian bisa rujuk kembali. Tapi, misalnya Tante jadi menikah dengan laki-laki yang Tante ancam itu. Tante tak mungkin diperlakukan sama, dengan istrinya kemarin. Ini pengalaman aku sendiri. Bukannya aku tidak mencoba bersikap baik, tapi nyatanya hati ini itu susah untuk menerima orang baru karena tekanan. Mungkin saat Papah aku ini jadikan Mamah aku tempatnya pulang, tapi mungkin tak sama jika Tante gantikan posisi Mamah aku. Misal Papah aku ngurus Mamah aku pas sakit, beliau tidak mungkin mau juga mengurus Tante kala Tante sakit. Bukan aku berbicara manusiawi, karena begitu kompleks pengertiannya. Tapi, kita berbicara sifat laki-laki aja yang simpel." penjelasan mas Givan, seperti yang ia alami dengan Nadya kemarin.
Aku juga baru mengerti, ternyata kasusnya memang sama.
Mas Givan dilaporkan polisi oleh Nadya, jika mas Givan tidak mau bertanggung jawab. Bahkan, mas Givan dadakan menikahi Nadya. Lantaran, ia tidak mau terjerat kasus hukum tersebut. Begitu pun sama dengan papah Adi. Bedanya, papah Adi takut mengambil keputusan seperti mas Givan.
Ya, aku pikir memang seperti ini. Jika papah Adi berani mengambil keputusan dari awal, atau setidaknya berbicara dari hati ke hati dengan istrinya. Pasti masalah ini tidak begitu panjang dan rumit.
Ya sudahlah, namanya juga novel.
"Ya udah, kita anggap masalah kita clear aja. Kita anggap, kita tak saling mengenal aja sebelumnya." ucap ibu Bilqis dengan menyatukan telapak tangannya.
"Ok, kita sama-sama saling memaafkan ya di sini?" mamah Dinda berjabat tangan dengan ibu Bilqis.
Kemudian, giliran papah Adi yang berjabat tangan dengan ibu Bilqis.
Meski jarang sekali istri sah menang. Tapi, kebanyakan laki-laki yang ketahuan berselingkuh akan kembali ke istri sahnya. Beda ceritanya, jika laki-laki tersebut memang niat untuk mencari sosok istri yang baru.
"Mari Saya antar kembali, Tan." mas Givan bangkit, kemudian memberikan Ra pada mamah Dinda.
Drama dimulai.
__ADS_1
Si bayi raksasa menangis lepas, dengan mendongak menatap ayahnya. Ia tahu saja, bahwa ayahnya akan pergi keluar. Padahal ia masih bayi, masih dua bulanan. Aku jadi tidak mengerti, dengan konsep bayi jaman sekarang.
"Ra belum bisa duduk sendiri di mobil. Jangan ikut Yayah lagi ya? Yayah sebentar aja. Satu jam juga, udah sampai lagi di sini." mas Givan menghapus air mata Ra dengan ibu jarinya.
"Udah sana anter aja, Van. Nangisnya juga paling sebentar."
Nyatanya, bayi besar kami menangis kejar sampai ayahnya kembali. Ia sudah payah sekali dengan amukan dan air matanya. Ra tidak bisa dibujuk sedikitpun. ASI pun ia menolaknya, Ra tetap mau ayahnya.
"Ya ampun, Ra. Sampai begini loh kau, Nak. Yayah jadi tak tega." mas Givan mengambil alih Ra dari gendongan ibu.
Bahkan, ibu saja kesulitan menghadapi amukan Ra. Padahal, jika bayi itu rewel karena mengantuk. Ibu langsung bisa menenangkan dan menidurkan Ra.
Pawang Ra hanya mas Givan saja. Ya, hanya yayahnya itu.
"Cep, Nak. Udah jangan nangis lagi. Nanti Ra stress, kalau kebanyakan nangis." mas Givan menimang dan menciumi anaknya yang sesenggukan itu.
Ada lawan?
Huft, Caera-Caera. Mas Givan tidak ingin anaknya lengket dengan dirinya. Namun, anak itu sendiri yang terkena peletnya.
"Masih kangen, ayahnya udah pergi lagi sih." celetuk papah Adi, ketika mas Givan menimang Ra masuk ke dalam rumah.
"Terus gimana? Mau Abang yang nganter Bilqis begitu? Singgah lagi nanti yang ada!" mamah Dinda sampai memperjelas setiap kalimatnya.
Papah Adi terkekeh, kemudian berjalan ke arah istrinya yang duduk di sudut teras itu. Kami semua tengah kelelahan, karena Ra mengamuk itu.
"Ibu ke rumah ya, Ndhuk? Mau angkat jemuran dulu." ibu membuyarkan fokusku.
Aku memutar kepalaku ke arah ibu, "Iya, Bu. Nanti aku main lagi ke sana." jika main ke ibu, dengan membawa Ra di stroller baby.
"Jadi gimana? Cukup tak biaya satu juta?" papah Adi sudah duduk di hadapan mamah Dinda.
__ADS_1
Raut wajah mamah Dinda terlihat kaget, "Satu juta? Ya Gue nombok banyak dong?"
Dasar, ibunya mas Givan ini.
"Masa Gue harus hutang lagi? Kemarin Adek makan, tak tau-tau kan? Cek up juga, keluar tuh lima ratus ribu sekali cek up." papah Adi sudah berani melempari ucapan mamah Dinda lagi.
Mamah Dinda terkekeh kecil, kemudian menyembunyikan wajah malunya di lengan papah Adi.
Alhamdulillah, mereka sudah terlihat mesra dengan senda guraunya.
"Kan Elu yang buat Gue begini." mamah Dinda masih terkekeh geli saja.
"Mana ada! Abang tak pernah biarin WC sampai licin ya? Itu sih memang Adek malas ngosrek WC, segala nyalahin Abang yang jauh di mata. Kalau Abang di rumah itu, mungkin WC tak akan licin." papah Adi pun terlihat sudah seperti panutan kami kembali.
Wajah tertekannya, sudah sirna dari sana.
Aku memilih untuk masuk ke dalam rumah, karena barangkali mas Givan ingin makan. Toh, aku merasa malu juga terus memantau mertuaku.
"Canda.... Sini." mas Givan menepuk tempat di sebelahnya.
Ia berada di atas ranjang, dengan mengipasi anaknya. Mas Givan terlihat menyayangi anaknya yang satu ini. Ya mungkin, cara ia menyayangi anak-anaknya itu berbeda-beda. Namun, pada Ra ia terlihat sedikit berbeda. Ya seperti, kadarnya lebih tinggi dari anak-anak yang lain. Entah-entah, karena Ra anak perempuan satu-satunya yang bernasab dirinya.
Ya memang sih Chandra juga anak laki-laki satu-satunya, yang ikut nasab dirinya. Tapi, Chandra didik mandiri sejak dini. Di sekolah TK saja, pengasuhnya diminta hanya mengantar dan menjemputnya saja. Chandra tetap ditinggal, masa jam pelajaran berlangsung.
"Kenapa, Mas?" aku merebahkan tubuhku di sisi lain tempat tidur ini.
Mas Givan ada di sisi kanan Ra, sedangkan aku ada di sisi kirinya.
"Ikut KB ya? Aku anter ya? Mumpung Ra tidur."
Aku terkekeh kecil.
__ADS_1
Rupanya, suamiku ingin haknya.
...****************...