
Sangat disayangkan. Saat aku sudah kecanduan dirinya, aku malah mendapatkan tamu bulananku. Membuat kami terpaksa libur satu minggu, dari aktivitas dewasa kami.
Sekarang, kami tengah memikirkan untuk datang ke pesta pernikahan kak Raya. Menurut bang Daeng, suami kak Raya tidak sebanding dengan kak Raya.
Maksudnya, dalam bidang karir. Afrizal Koto adalah, seorang scurity di salah satu pabrik pembuat casing alat-alat elektronik. Namun, bisa mendapatkan kak Raya yang notabene sebagai asisten untuknya.
Kami memutuskan untuk kembali ke kos kami, bang Daeng memintaku untuk tinggal di kosnya saja. Barang-barang kak Anisa pun, akan dikirim ke alamat rumah orang tua bang Dendi yang berada di Kuala.
Kami baru selesai berbenah kos-kosan kami. Lalu, langsung menuju ke pesta resepsi pernikahan kak Raya.
"Bang Daeng... Kok kak Raya mau ya?" aku tengah duduk di samping bang Daeng yang tengah mengemudi.
"He'em, gak paham sama Raya ini. Padahal pas awal kerja sama Abang, pernah Abang godain. Waktu itu kan dia masih perawan, waktu dia umur dua puluh tujuh kalau gak salah." ia berkata sembari terkekeh samar.
"Kok bisa tak mau sama Abang?" tanyaku dengan memperhatikan kegiatannya.
__ADS_1
"Dia minta komitmen. Dia minta, Abang nikahin dia kalau sampai tembus perawan karena Abang. Waktu itu, Abang lagi kena tekanan dari dato. Abang terus-terusan diminta transfer untuk biaya Dikta, karena dato nyangkanya Abang malah lepas tangan sejak merantau ini. Padahal kan, Abang baru kerja itu umur dua puluh tujuh. Baru masuk di PT yang sekarang ini. Pas lulus kuliah, serabutan setahun, nganggur lama di Banda Aceh, di rumah mangge. Kan otomatis tuh Abang gak kirim-kirim buat pengobatan Dikta di sana. Karena, Abang pun jadi benalu mangge waktu itu. Makan, tidur, sholat, ngaji, tadarus, gitu-gitu terus kegiatan hampir dua tiga tahun."
Ohhhhhhh!
Agamanya didapat di Banda Aceh.
Aku paham, aku paham.
"Terus Abang mutusin buat gak usik Raya. Karena Raya pikirannya dewasa betul. Gak masalah kalau cuma colek-colek, toel-toel, remas part belakang gitu-gitu. Dia tau, kalau Abang memang usil. Tapi, kalau udah tindih-tindihan. Udah panik dia, udah minta komitmen aja." lanjutnya kemudian.
"Kalau Yuli, dia memang udah ada pacar sejak kerja sama Abang. Kalau lagi trip gitu, dia cek in kamar sebelah sendiri. Gak taunya, ada tuh pacarnya nyamperin. Kalau perempuan, udah bawa-bawa laki-laki aja kek gitu. Ya Abang juga biasa aja, profesional kerja aja." akunya seperti itu.
"Tapi aku heran deh, Bang. Kok bisa Abang tak na*su, padahal rekan kerjanya perempuan semua? Mana kan, dalam satu kamar lagi." ini yang masih mengganjal di hatiku.
"Karena memang Abang kek gini. Usil memang, Abang akui. Tapi, pikiran Abang gak pernah mesum. Maksudnya... Nabok part belakang perempuan juga, gak ada khayalan nakalnya. Cuma memang, tangannya iseng gitu nah. Seneng gitu, kalau tengok perempuan kesel manja gitu. Tapi memang, gak omes sama sekali. Gak bayangin lagi d*ggy dia, sambil nabok-nabok gitu. Gak, Dek. Abang bukan laki-laki yang pikirannya selalu ke situ." ia menoleh dan tersenyum padaku.
__ADS_1
"Adek juga jangan tersinggung ya? Kalau Abang lama gak nyentuh." lanjutannya membuatku bungkam.
Aku akui, aku rindu sentuhan laki-laki. Apa lagi, perlakuan yang bang Daeng berikan sungguh berbeda dengan mas Givan.
Saat aku baru merasakannya, dalam periode satu waktu dua ronde itu. Sampai hari ini, kami tidak melakukannya lagi lantaran aku haid.
Rasa rindu, akan sentuhannya kian menjadi-jadi. Aku masih teringat hangatnya perasaan yang ia tumpahkan.
"Bang...." aku menoleh kembali ke arahnya.
...****************...
Model Canda gini, berani minta ke suami gak ya 😂
Terus apa hukumnya, kalau udah minta tapi ditolak lantaran kecapean 🤣 aku pernah beberapa kali soalnya, tapi dableg, gak pernah mau ngerti 🤣😂😝🤭
__ADS_1