
"Nun*g*ng, Sayang."
Mataku melebar sempurna. Aku paling tidak ingin mencoba posisi ini.
"Abang tak mau gantian?" aku mencoba membuat bang Daeng melupakan keinginannya.
"Kenapa sih? Pengen e*utin kah? Abang udah pengen d*ggy, waktu itu Adek nolak." ekspresi wajahnya begitu buas.
Kenapa bang Daeng berbeda sekali dengan kali ini?
Ia menyertakan kepala kami, ia membuat satu kakiku naik ke atas bahunya. Namun, tanpa disangka. Hantaman mengejutkan langsung mendarat di sisi part belakangku, di mana posisi kakiku terangkat sebelah ini.
Sontak, atas perbuatannya. Aku langsung mengeluarkan suara yang lumayan keras. Aku terkejut, karena tamparannya itu. Tidak keras seberapa, tetapi cukup membuatku kaget.
Belum selesai juga rupanya, bang Daeng langsung memutar kaki kiriku yang berada di atas bahunya untuk pindah ke posisi kanan. Aku sekarang berada dalam posisi miring, tetapi ia langsung menarik pinggangku.
"Abang!!!" aku kini menung*ing di hadapannya.
Tenaga laki-laki ini hebat sekali.
Klek....
Aku tahu, itu adalah bunyi tutup botol gel pelumas milik kami. Namun, aku tidak merasa olesan di intiku.
"Uhmmm..." aku sebenarnya merasa jijik membayangkannya sendiri.
Bang Daeng menyapukan lidahnya di intiku, dalam posisi seperti ini. Aku merasa, kami seperti bintang. Meski jelas diperbolehkan dalam agama, tapi aku takut menyakitiku jika melakukan dalam posisi seperti ini.
"Tahan, Dek." aku merasakan benda tumpul itu mulai menekan perlahan.
"Ehmm, Abang...." pundakku digigit olehnya.
__ADS_1
Aku malah teringat akan posisi kucing kawin.
Plak.....
"Akh...." aku kembali mendapat tamparan yang mengagetkanku.
"Hmmm..." aku bisa mendengar dirinya tertawa samar.
Apa ini fantasinya?
Lalu ia merasa senang, karena fantasinya terpenuhi.
Mulut nang Daeng sudah tidak berada lagi di bahu belakangku. Aku menebaknya tengah memperhatikanku dari belakang.
"Rileks, Dek. Jangan ditahan." bang Daeng menekan pinggangku, agar menyentuh tempat tidur. Lalu, ia menggeser kakiku, agar merentang lebih lebar.
Posisiku, hanya bagian part belakang yang menukik.
Plak....
"Abang mulai ya?" aku merasakan pinggulnya sudah menyentuh pahaku bagian dalam.
Aku merasa batang itu mulai bergerak, geraman bang Daeng sungguh seperti kucing liar. Ia mencengkram part belakangku begitu erat, ayunannya semakin menjadi.
Ini tidak sakit.
Aku tidak merasakan sakit, saat d*ggy dengan posisi yang nyaman seperti ini. D*ggy tidak seburuk yang aku kira.
Ini terasa nikmat, seperti ronggaku tergesek dengan baik.
Plak.....
__ADS_1
Suara d*s*hanku semakin menjadi. Karena reflek kaget, otot part belakangku reflek mengencang seperti mengejan. Hal itu, membuat kucing liar itu tengah memburu sekarang.
Plak....
Aku sudah tidak tahan. Setiap tamparannya, aku sudah ingin merasa kl*maks.
Aku harus memahami, bahwa bang Daeng bukan tengah memberiku perlakuan kasar. Tapi ia membawaku, mencoba menyelami sensasi yang tak pernah aku dapatkan sebelumnya.
"Abang bukan pejantan tangguh untuk Adek." aku bisa mendengar nafas bang Daeng memb*bi buta.
"Bareng, Sayang."
Plak....
Aku mengaduh kenikmatan. Bang Daeng semakin cepat bergerak, ia seperti bersemangat setiap kali aku bersuara.
"Aku datang, Bang."
"Uhmmmm..."
Aku menyembunyikan wajahku di tempat tidur ini. Aku mere*as apa saja yang bisa aku gapai. Aku tak bisa menahan suaraku, aku tak bisa menahan gelombang kenikmatan ini.
"Bersama....."
Detik itu juga, aku merasa benar-benar terkoyak. Aku seperti terlepas dari kewarasanku. Aku mendapatkan gelombang yang tidak kunjung usai. Aku menggapai apapun, agar bisa membawaku ke tepian kesadaranku lagi.
Aku tidak membutuhkan durasi. Aku pun, rak menganggap penting ukuran sekarang. Sepanjang apapun batang, tidak akan mampu memuaskan jika tidak memiliki skill yang handal.
Hanya dalam satu posisi saja. Bang Daeng membawaku ke surga dunia. Ia adalah laki-laki terhebat.
...****************...
__ADS_1
Yey, langsung dapat julukan laki-laki terhebat.