Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD45. Dalam mobil


__ADS_3

"Kak, aku berangkat kerja dulu ya? Kakak ati-ati di kos, jaga diri." aku mengusap lengan kak Anisa.


"Udah deh jangan lebay. Nanti pun, kamu bakal balik ke sini lagi. Jangan seolah-olah mau pulang ke suami, terus gak pulang-pulang lagi ke sini." ia berkata dengan tertawa geli.


Aku pun ikut menarik garis bibirku, "Ya, Kak. Pamit dulu, Kak." ucapku kemudian.


"Ya, Dek. Ati-ati." kak Anisa ngeloyor pergi.


Aku menolehnya sekilas. Aku bisa melihatnya yang tengah menyerahkan kantong plastik pada bang Dendi.


Tinnnnnn....


Aku meluruskan pandanganku. Aku bisa melihat bang Lendra sudah berada di dalam mobil dengan Chandra di pangkuannya.


Aku mengangguk, kemudian segera melangkah ke arahnya.


Aku sedikit heran, kok bisa bang Lendra memarkirkan mobilnya dengan Chandra di pangkuannya? Apa ia sedikit memundurkan tempat duduknya? Agar Chandra tidak bersentuhan langsung dengan stir mobilnya.


"Sini, Chandra sama Biyung." aku menepuk pangkuanku, saat aku sudah berada di dalam mobil.


Aku duduk di bangku depan, di samping bang Lendra mengemudi.


"Biar nanti." bang Lendra mulai menjalankan mobilnya.


Ya Allah, kuatkan imanku. Semoga laki-laki ini, tidak sebuas pandangan matanya. Semoga laki-laki ini, tidak berani menyentuhku. Semoga laki-laki ini, tahu batasannya pada seorang wanita.


"Ya..."


Aku menoleh kembali pada bang Lendra. Ini bahaya sekali. Ia mengemudi, dengan Chandra di pangkuannya dan telpon yang berada di genggamannya.


Telepon genggamnya di geletakan di tempat yang berada di pintu bagian dalam mobilnya, aku bisa melihat jelas dari tempatku berada.


"Aku udah dapat hotel terdekat dari daerah budidaya itu. Biar aku reservasikan dari sekarang." suara perempuan yang berasal dari telepon tersebut.


"Biasa, pesen suit room satu. Tapi kau gandakan buktinya jadi tiga, pandai-pandai kau lah. Lagi gak sama bos ini, kita lebih bebas. Yang penting, uang transport cair kan lebih besar dari pengeluaran kita."


Aku hanya diam, menyimak percakapan tersebut. Aku mengklaim, bahwa bang Lendra adalah orang yang licik.


Tapi aku tidak boleh langsung menuduh. Aku akan mencari tahu lebih lanjut.


"Butuh hal lain?"


Aku menebak, bahwa yang menelepon adalah Raya.


"Transportasi? Ada bayi soalnya." ucap bang Lendra kemudian.


"Hah?" suara orang di seberang telepon terdengar terkejut.


"Kota selanjutnya?" bang Lendra seperti bos yang cerewet menurutku. Belum saja mendapat jawaban dari orang tersebut, ia sudah menanyakan hal lain lagi.


"Mobil atau motor, bisa dijangkau dua belas sampai tiga belas jam perjalanan tanpa istirahat. Kereta, gak ada. Pesawat pun, gak mendukung juga. Kota selanjutnya Lampung, Len. Mungkin kita dua mingguan di Jambi, biar proses laporan lewat email aja. Lanjut kita ke Lampung, sekitar satu bulan masa kerja. Mobil kantor, atau mobil sendiri?" perempuan tersebut seperti robot yang bisa menjawab semua pertanyaan.


"Sendiri."


"Ya, ditunggu di depan kantor."

__ADS_1


Setelah percakapan itu selesai, aku mendapatkan colekan yang mengagetkan. Karena, colekan itu berada tepat di bawah rusukku. Untung pabrik ASI untuk Chandra, tidak tersenggol olehnya.


"Kalau lagi kerja. Maksudnya, Abang lagi ngobrol sama klien. Panggil Abang pak, jangan abang." tegasnya dengan lirikan mematikannya.


Aku tidak mengerti, kenapa sorot matanya seperti memaksa perintah yang ia berikan.


Beberapa saat kemudian, seorang perempuan yang disebut asisten bang Lendra sudah berada di bangku belakang mobil ini.


"Beneran ada bayi?" ia melongok ke arah kami.


Anakku yang disebut bayi itu, malah menoleh ke arah perempuan tersebut dengan memamerkan giginya.


"Oh, iya. Kalau Canda kerja, kau peganglah dulu anak ini. Nanti aku transfer lebih buat bayaran kau."


Apakah ini salah satu rasa kasihan bang Lendra lagi?


Kenapa aku terus-terusan dibuat tidak enak hati dan diberi kemudahan olehnya?


"Bang..." aku menyentuh lengannya, yang tengah mengemudikan kendaraan.


"Shtttt..." ia menaruh telunjuknya di depan mulutnya, tanpa menoleh sedikitpun padaku.


Aku teringat akan dirinya yang menolak di panggil abang di depan klien, "Pak..." ucapku kemudian.


Ia menoleh padaku, jelas aku bingung mendapat tatapan marah dari dirinya.


"Kenapa gak sekalian ayah aja?"


Aku masih mencerna semuanya. Aku bukan tukang bergurau yang baik.


Namun, bang Lendra dan wanita di bangku belakang malah tertawa lepas.


Apa ini alasan bang Lendra, agar bisa membawa Chandra bekerja?


"Apa, Dek?" tanyanya dengan menyentuh punggung tanganku.


Ia sudah selesai dengan tawanya.


"Maksudnya kek mana sih, Bang?"


Jujur, aku benar-benar bingung saat ini.


"Iya apa? Lagi mikir jalur mana yang cepat, makanya minta kau diem dulu. Kau malah manggil abang jadi pak. Bisa aja candaan kau." jelasnya dengan kekehan samar.


Oh, seperti itu. Malah sekarang, aku yang renyah tertawa.


"Udah lupa mau nanya apa." ucapku kemudian.


"Yung... " aku teralihkan oleh suara itu.


"Adek bosan?" tanya bang Lendra, ia tengah mencegah tangan Chandra agar tidak mengucek matanya.


"Iyung...." rengekannya merambat seperti akan menangis.


Aku mengulurkan kedua tanganku, hendak mengambil alih Chandra.

__ADS_1


"Bentar-bentar, Dek." bang Lendra terlihat menoleh ke arah spion.


"Bentar ya, Ayah kasih tepi mobil dulu."


Aku melebarkan mataku padanya.


Apa dia sebut tadi?


"Yah, yah...." Chandra malah menangis lepas, dengan menendang stir mobil tersebut.


"Iya, Dek. Nih, nih." bang Lendra berhasil menepikan mobilnya.


Lalu bang Lendra mengangkat tubuh Chandra, kemudian aku menyambutnya.


Segera aku membuka tiga kancing kemejaku, lalu menyerongkan tubuhku. Agar bang Lendra tidak melihat pabrik ASI ini ke luar dari tempatnya.


Kemudian, aku menurunkan hijabku. Agar mampu menutupi wajah Chandra yang tengah menyusu.


"Keknya kita butuh susu formula, Dek."


Saat aku menoleh ke arah bang Lendra. Aku melihat matanya tengah fokus pada wajah Chandra yang tertutup hijab ini.


Lalu ia ingin menikmati pabrik ASI begitu? Meminta Chandra untuk lepas dari ASi eksklusifnya.


"Biar kalau kau kerja, Chandra ngamuk. Dia bisa nyusu di dot botol, pakek susu formula gitu kan?" terangnya setelah aku memberi spekulasi buruk.


"Tapi aku diminta mamah Dinda buat ASI eksklusif sampai Chandra dua tahun?" ujarku dengan memperhatikan wajahnya dari samping.


"Adinda?" ia menaikan sebelah alisnya, dengan menoleh padaku.


Sesaat kemudian, ia kembali fokus pada jalanan di depan.


Aku tahu, nama itu pasti familiar jika aku tidak menjelaskan. Tapi buat apa juga ia tahu? Aku sekarang sudah bukan menantu mamah Dinda lagi.


"Mamahnya ayahnya Chandra, Bang." terangku padanya.


Ia manggut-manggut, "Aku kira, dia orang yang bukunya Chandra sobek."


Itu tepat sekali. Hanya saja untuk apa ia tahu, saat aku kini sudah menjadi bekas dari bagian keluarga tersebut.


"Tau gak, Dek?" ia menoleh sekilas.


"Tak tau, Bang." jawabku cepat.


"Jangan dijawab dulu, Bondeng!" ia menarik daguku dengan tertawa kecil.


Apa Bondeng itu sejenis Bandeng? Ikan maksudku.


Aku masih menatapnya tidak mengerti. Ditambah-tambah ia melirikku, kemudian tertawa begitu renyahnya.


Aku seperti hiburan tersendiri untuknya.


Apa bondeng ini sejenis pap ma dalam bahasa Aceh?


...****************...

__ADS_1


Maaf untuk kakak-kakak semua 🙏🙏🙏 naskah belum stabil, ditambah ada kesibukan lain. Author minta pengertiannya, minta support lebih, minta dukungan sebanyak-banyaknya. Biar rajin nulis, biar mood bagus, biar terus bisa menyajikan bacaan yang bagus untuk kalian 😉🤗🙏


Hari ini, update hanya mampu sekali. Tapi seribu kata lebih kok, gak kek kemarin. Doain Author sehat selalu ya, Kak 😁🙏


__ADS_2