
Bola mataku merekam dengan jelas, saat mata bang Daeng mencilak ke atas dengan tubuh yang kaku.
Apa dia kejang?
"Bang....." aku langsung berada di sisinya.
Biji mata bang Daeng mencilak ke atas kembali, urat-urat leher dan tangannya begitu menonjol, seperti tengah mengangkat beban berat.
Aku sudah tidak bisa menahan ketakutanku.
Aku diajarkan ilmu agama yang cukup, aku diberikan contoh dan pemahaman yang luas. Aku mengerti ini apa. Sialnya, aku malah takut kehilangannya meski ini sudah kepastian.
Dadanya kembang kempis. Lehernya mendongak sampai ke belakang. Telinganya sampai memerah dengan mata yang tetap melihat ke atas.
Orang-orang mulai berdatangan. Aku tak memperhatikan siapa saja yang datang, tetapi mereka begitu panik dan mencoba membantu bang Daeng.
"Adzanin, Far!" aku mendengar perintah dari papah Adi.
Apakah benar bang Daeng sekarang tengah mengalami fase sakaratul maut?
Haruskah aku ikhlas?
Tapi aku tidak kuasa, melihatnya cukup lama dalam posisi seperti ini.
"Minta ruang." Kin hadir di sisi lainnya.
Ia mengecek bagian perut bang Daeng, yang ternyata mengeluarkan sedikit cairan merah di perutnya. Kemudian, Kin langsung mengecek pergelangan tangan bang Daeng, leher dan terakhir, Kin pindah ke bagian kaki bang Daeng.
Sesaat kemudian, aku seperti memberiku kode, kala ia mengecek bagian kaki bang Daeng. Kin menggeleng lemah, dengan tatapan sendunya.
Apa maut datang lebih dulu, sebelum pernikahan kita terjadi?
Apa semua pertanda yang ia berikan, adalah amanat untukku dan harus aku laksanakan?
Tapi aku tak mungkin melangsungkan pernikahan, saat calon suamiku sekarat seperti ini.
Aku mendapat usapan lembut di bahuku, "Yang ikhlas, Dek."
Aku menoleh, mendapati mamah Dinda yang banjir air mata.
Benarkah aku harus ikhlas di sini?
Aku memeluk tubuhnya yang masih menegang kaku. Saat telingaku menempel di dadanya pun, terdengar seperti suara nafas yang tercekik.
Aku harus ikhlas. Aku tidak tega melihatnya kesusahan dan kesakitan seperti ini. Ya, pasti ini begitu menyakitkan untuk bang Daeng.
Aku meminta bantuan, agar bang Daeng ditidurkan di lantai. Kemudian, aku memiringkan tubuhnya ke arah kanan.
Aku mendekatkan wajahku ke kepalanya, "Allahumma ahyihi, ma kanatil hayatu khairan lahu, wa tawaffahu idza kanatil wafatu khairan lahu."
Ini adalah doa untuk membantu orang yang kesulitan menghadapi sakaratul mautnya. Yang artinya, Ya Allah, panjangkanlah hidupnya jika itu lebih baik baginya, dan ambillah jika itu lebih baik baginya.
Tarikan nafasnya berangsur melemah.
Krokkkk....
Bagai suara tarikan kuat di kerongkongannya.
"Van...." suaranya bercampur dengan tarikan nafasnya.
__ADS_1
"Van, Van! Dipanggil." semua orang berseru memanggilkan orang yang dimaksud.
"Iya, iya." mas Givan berpindah ke sisi bang Daeng miring ke kanan.
"Gimana, Len?" tanya mas Givan kemudian.
"Kau gantikan aku." suaranya begitu berat dan tidak lancar.
Aku bisa melihat wajah bingung mas Givan, bahkan ia sampai menggaruk kepalanya.
"Kau gantikan aku akad." jelas bang Daeng dengan suara yang seperti menahan batuk.
"Iya, ok." mas Givan menjawab cepat.
Ia paham, sekarang bukan waktunya untuk berdebat.
Krek....
Bagai tulang yang dipatahkan satu persatu.
Bola mata bang Daeng mencilak ke atas. Kemudian aku meniup-niupkan sebuah lafal yang aku dapat dari pesantrenku dulu.
Nafasnya tertarik kembali.
"La ilaha illallah." ucapku dengan lantang ke telinganya.
Jangan tanyakan bagaimana banjirnya air mata ini. Sesuatu yang ingin aku miliki, malah aku ikhlaskan di malam sebelum pernikahan kami.
Bang Daeng bersuara lirih, "La ilaha illallah." ia mampu mengikutiku.
"Dzikir, Mah." aku menyenggol lengan mamah Dinda, yang berada di sampingku.
Aku kembali membisikkan ke telinga bang Daeng, hingga bang Daeng mampu mengikutinya sampai tiga kali.
Kemudian, aku segera membacakan surat Yasin yang sudah aku hafal di luar kepala. Mengusap tubuhnya, hanya membuatnya bertambah tersiksa. Aku hanya mempu meniup-niupkan keikhlasanku, yang semoga tidak membuatnya merasa berat meninggalkan dunia ini.
Hingga beberapa saat kemudian, tubuh bang Daeng melemah dengan sendirinya.
Aku diajarkan dalam pendidikanku untuk tidak boleh menangisi secara berlebihan.
Tapi kenyataannya. Aku malah meraung-raung hebat, mendekapnya erat dan menciumi jasadnya yang sudah tak berdaya.
Allah lebih sayang dirinya. Yang Kuasa mengambilnya lebih dulu, sebelum Engkau bebankan tanggung jawab dan dosa yang dipikul sebagai seorang suami.
Inilah rezeki, jodoh dan maut yang tidak ada yang tahu.
"Jam berapa?" aku mendengar mas Givan bertanya pada orang lain.
"Delapan belas lebih empat puluh lima menit." jawab seorang wanita, yang mungkin adalah Ria.
Mas Givan undur diri.
Digantikan dengan papah Adi yang langsung mendekap bang Daeng. Beliau pun, menggeser tubuh bang Daeng.
"Ikut Mamah, Canda. Biar Papah yang urus." perintah beliau dengan suara yang bergetar.
"Aku pengen liat, Pah."
"Biar anak-anaknya tau dulu, Pah." tambah mamah Dinda.
__ADS_1
Mulai dari mangge Yusuf, dato, Dikta dan Jasmine. Mereka merengkuh tubuh yang tidak berdaya itu.
"Jangan kelamaan, Pak. Maaf...."
Aku menoleh ke belakang. Sudah ada pak RT dan RW yang datang.
Suara toa masjid seperti tengah dites.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.... Innalilahi wa innailaihi rojiun, Innalilahi wa innailaihi rojiun, Innalilahi wa innailaihi rojiun.... Telah berpulang ke Rahmatullah, bapak Nalendra, kerabat teungku haji Adi. Pukul delapan belas lebih empat puluh lima menit....."
Pengumuman itu terdengar jelas dan masih berlanjut.
Namun, di antara orang-orang di luar ada yang tertawa. Aku segera memperhatikan, karena terlihat tidak sopan.
Aku bisa melihat papah Adi geleng-geleng kepala.
"Teungku haji Adi." celetuk seorang tetangga.
"Udah tak pantas dipanggil abang ya rupanya." sahut papah Adi.
Ternyata, pelayat sudah berdatangan. Mereka mentertawakan teungku haji yang tidak terima dengan sebutannya itu, bukan meledek kedukaanku.
"Mangge pasti gak sakit lagi sekarang. Mangge udah sehat, udah gak tersiksa lagi. Mangge orang baik, pasti disayang Allah." Jasmine begitu dewasanya.
Ia mengusap-usap wajah bang Daeng yang semakin memucat.
"Dek, ikut Mamah. Lendra mau diurus dulu." aku ditarik oleh mamah Dinda.
Aku tidak boleh berlarut-larut, agar hati dan kubur bang Daeng lapang dan terang.
Aku memilih untuk mendekap Chandra dan Ceysa yang tidak mengerti apa-apa itu. Aku terus melantunkan surat Yasin dan ayat-ayat suci Al-Qur'an, sembari menemani mereka bermain ponsel di ruang keluarga ini.
Mau bagaimana lagi? Anak-anak hanya bisa diam ketika bermain ponsel saja.
Anak-anak papah Adi pun terlihat repot, dengan mas Givan yang turun tangan juga.
"Kinasya!!! Cepat coba!" mas Givan memarahi Kin yang berada di dapur rumah yang ditempati mangge ini.
"Nanti coba, Bang! Aku lagi sibuk nih. Pelayat harus dikasih minum, harus dikasih cemilan."
Ada saja keributan mas Givan ini.
"Apa sih, Van?" mamah Dinda menyusul keributan di dapur itu.
Mereka bertiga muncul dari dapur. Dengan urat wajah tak bersahabat dari mas Givan.
"Aku sakit gigi, Mah. Kin suruh ambil obat, susah betul. Udah tak tahan lagi, rasanya mau nangis aja." ungkap mas Givan dengan membawa nampan berisi beberapa gelas yang tersusun rapih.
"Van, Van... Ambil KK, KTP, sama akte kelahiran kau. Buat keperluan......"
...****************...
Gak tau harus seneng atau sedih. Tapi yang jelas, aku pagi-pagi ditanyain orang tua karena mata bengkak. Disangka habis nangis karena berantem sama suami. Padahal, nangis gara-gara bang Daeng yang sudah tidak mampu bertahan di dunia pernovelan.
Ini penuh pertimbangan dari Author ya, Kak. Author gak main-main menghilangkan salah satu peran terbaik ini. Dalam real life pun, ini masuk di akal dan pernah terjadi. Author menulis dengan pengalaman, pengetahuan dan wawasan author.
Tapi dalam real life, ceritanya mempelai laki-laki meninggal karena oplosan. Mereka pesta miras, di malam hari sebelum dirinya jadi pengantin. Kan ramai tuh orang melekan, begadang tuh, sambil pesta miras oplosan. Pas harusnya akad, malah ke pemakaman untuk mengebumikan mempelai laki-laki.
Kurang lebihnya mohon maaf. Hanya saja seperti itu gambaran sakaratul maut dan tanda-tandanya yang terjadi pada beberapa orang yang Author kenal, sebelum mereka meninggal. Mereka merasa benar-benar sembuh, tidak merasa sakit lagi, doyan makan dan rutin BAB, sebelum malaikat menjemput mereka.🙏✌️🤗
__ADS_1