
Aku sudah trauma sekali dipasangkan infus. Namun, harus aku rasakan lagi sekarang. Setelah cek up, aku malah dipindahkan ke ruang inap.
"Nanti obat-obatannya disuntikkan dari selang infus, Dek." papah Adi menyentuh selang infusku yang tergantung.
"Obat apa lagi sih, Pah?"
"Kalium kau masih kebawa urin. Jadi dokter lagi ngusahain, biar kaliumnya gak larut di urin lagi. Jadi, biar diserap tubuh gitu loh. Makanya diminta rawat inap sementara tuh, karena obat-obatannya disuntikkan, bukan obat kapsul kek biasanya." papah Adi menarik kursi, lalu ia duduk di dekat ranjangku.
"Berapa hari aku di sini, Pah?" tanyaku kemudian.
"Paling tiga hari lagi." papah malah bermain ponsel.
Hufttt.... Membosankan harus berbaring di brankar rumah sakit lagi.
Kalium, kalium. Kalian jangan sepelekan jika berkeringat berlebih ya? Jaga asupan makanan kalian juga, apa lagi ketika tubuh tengah dilanda kelelahan terus menerus.
Memang terlihat sepele. Bahkan, kita tidak mengerti fungsi kalium dalam tubuh. Tapi jangan disangka, efek kekurangan kalium ini sangat beresiko untuk kita.
"Len... Canda dirawat inap lagi. Tolong minta siapa, suruh antarkan bantal, selimut, pakaian." papah Adi terdiam sejenak, "Iya, pakaian Papah juga. Papah nginep di sini. Minta ibu tinggal di rumah mamah dulu, kasian mamah sendirian."
Papah Adi adalah the real sayang istri. Ia sampai tidak mau istrinya di rumah sendirian.
"Pah, bang Lendra itu sakit apa? Sering meringis kesakitan, sekarang juga kan lagi demam terus."
Papah Adi memperhatikan wajahku sekilas, lalu ia melirik ke arah lain.
Ia memutar kursinya sejajar dengan brankar yang aku gunakan ini, "Komplikasi usus buntu. Ya itu yang bikin Papah ragu urus rujuk kalian lagi. Lendra sakit, Papah khawatir terlalu jauh. Nanti, malah kau jadi janda lagi."
Aku paham isi pikiran papah Adi.
"Papah memang tau, kalau Lendra ngajak rujuk?" tanyaku kemudian.
Beliau mengangguk, "Tau, Dek." papah Adi menyalakan televisi melalui remote televisi.
"Awalnya Givan bilang, mau rujuk sama Canda Pah. Tapi, mamah pun nimpali juga. Katanya, Lendra mau rujuk sama Canda. Mamah udah bilang, nanti aja kalau kalian udah pada sembuh. Gitu." terang papah Adi.
"Tapi aku belum iyain kok, Pah." aku memperhatikan wajah beliau dari samping, yang tengah serius menonton siaran ulang sepak bola.
"Iya, tau juga. Kau berat sama Ardi." beliau melirikku sinis.
__ADS_1
Nafasnya berhembus perlahan, "Papah kira tuh, kau udah putus sama Ardi. Makanya Papah diam aja, tak negur, tak apa, setiap kali papasan sama Ardi yang bonceng perempuan. Pernah juga, papasan sama Ardi dan itu perempuan dari dalam ladang, sekitar setengah sembilan malam. Waktu itu, Papah lagi ngobrol sama cek Nawi. Kebetulan, ketemu cek Nawi di jamboe dekat ladang. Tak lama, dari dalam ladang ada sorot lampu motor, terus keluar itu Ardi bonceng perempuan."
Kenapa sih, bang Ardi seperti itu?
Apa benar-benar, ia sudah tidak tahan menahan syahwatnya?
"Bukannya su'udzon, Papah pun diam aja pas tau Ardi keluar dari ladang. Tak cerita ke mamah, tak cerita ke Zuhdi juga."
"Aku tak tau apa-apa tentang Ardi, Pah." tanyaku kemudian.
"Ya udah aja makanya, jangan dipikirkan." papah Adi masih fokus pada siaran televisi.
"Baiknya aku sama siapa, Pah?"
"Baiknya, ya jadi janda aja dulu. Givan udah bener, tapi masalah dia sama Putri belum beres. Ya, ini sih masalah pribadi Givan. Papah tak berniat umbar ke kau, cukup Papah yang tau. Biar Givan selesaikan masalahnya sama Putri, terus baru rujuk sama kau. Tapi di sini kan ada Lendra, dia banyak berkorban buat kau, anak-anak kau. Tapi Papah khawatir tuh, masalah laki-laki ini tak gampang berubah."
Mengobrol dengan papah Adi, lebih banyak di rumah sakit saat ia tengah menemaniku seperti ini. Karena jika di rumah, papah Adi sibuk dengan urusan pekerjaannya sendiri.
"Jangan buru-buru gitu lah, Dek. Kalau misal jadi rujuk sama Lendra, atau Givan, ya tahun depan aja."
Aku hanya mengangguk, lalu terdiam.
Saat malah hari, bang Daeng datang dengan membawa banyak perlengkapan. Aku khawatir melihat wajahnya yang begitu pucat, meski ia tersenyum lebar semanis mungkin.
"Mamah lagi apa pas kau ke sini, Len?" papah Adi menghampiri bang Daeng, yang tengah menaruh barang-barang yang ia bawa.
"Mamah...."
Aku melihat reaksi kaget dari papah Adi, ia menarik tangannya yang bersenggolan dengan bang Daeng. Lalu mengusap-usapnya.
"Kau demam, Len?" ucapnya cepat.
"Biasa, Pah. Kecapean aja." bang Daeng begitu cuek, ia malah memberiku selimut dan bantal guling.
"Kecapean tak begini, Len. Papah juga sering kecapean, cuma anget aja tak panas tinggi gitu." papah Adi masih memperhatikan bang Daeng begitu serius.
"Bang Daeng dari kemarin panas tinggi, Pah." aku teringat hari pernikahan mangge Yusuf.
Di mana bang Daeng sudah demam sejak malam sebelum hari pernikahan mangge Yusuf.
__ADS_1
"Balik ke rumah aja deh. Atau mau periksa besok, tidur di sini?" papah Adi menepuk bahu bang Daeng.
"Papah aja yang pulang gih." bang Daeng memutar tubuhnya menghadap papah Adi, "Mamah lagi menggigil, pas aku minta barang-barang Papah tadi."
Papah Adi langsung mengambil ponselnya yang tergeletak di nakas, "Ada siapa di rumah? Nomor mamah tak aktif dari sore." raut khawatir jelas di sana.
"Ada Kin, Ghifar, anak-anaknya. Pada nginep di situ, pas aku kabarin kalau mamah menggigil." bang Daeng duduk di tepian tempat tidurku.
"Jadi gimana Papah?" papah Adi menggaruk kepalanya.
"Bingung." papah Adi menempelkan ponselnya sembari berjalan ke arah spring bed single itu.
"Hallo...." papah Adi bertelepon serius dengan seseorang di seberang teleponnya.
"Makan belum, Dek?" bang Daeng merapihkan anak rambutku.
Aku mengangguk, "Udah, Bang." aku malah memperhatikan wajahnya.
"Bang, besok periksa ya?" aku menggenggam tangannya, yang tadi merapihkan anak rambutku.
Benar-benar panas suhu tubuhnya.
"Gak usah, Dek." ia malah membuang wajahnya ke arah lain.
"Biar sembuh, biar bisa nemenin aku terus." aku sudah membayangkan yang tidak-tidak.
Ia menoleh padaku dengan tersenyum lebar, "Nemenin gimana?"
Terlintas di benakku, untuk membangkitkan semangat hidupnya. Jika anak-anak, pasti menjadi salah satu alasannya hidup. Maka aku akan menjadi tujuannya untuk tetap hidup.
Mungkin aku terlalu percaya diri. Namun, aku masih merasa bahwa dia benar-benar masih mencintaiku.
Satu lagi rahasia besar yang selalu aku tepis. Dia, tetap menjadi cintaku. Laki-laki yang paling pintar memperlakukan istrinya dengan sebaik mungkin.
Aku menarik tangannya lagi dan menggenggamnya. Netra coklat tuanya begitu lelah, wajahnya pun terlihat pucat.
"Aku ngajakin Abang ru......
...****************...
__ADS_1
Rujak? Memang sih paling enak ngerujak sambel asem gitu, dengan setting pesawahan yang luas. Kita duduk romantis di saung tengah sawah, sambil makan rujak ðŸ¤