Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD365. Keluarga yang belum ikhlas


__ADS_3

Tidak juga sepertinya. Mungkin lebih ke konsep, mas Givan ingin kami melakukan malam ritual itu.


Hufttt


Apakah aku bisa?


Apakah aku mampu?


Apakah gatal di bawah bijinya juga udah sembuh?


Bukannya aku tak menerima kekurangannya. Masalahnya, jika beradu seperti ini pasti penyebarann akan meluas.


Dulu aku pernah mengalami keputihan karena efek awal KB. Kemudian, pada selang*angan mas Givan pun menjadi memerah dan berbekas.


Saat aku sembuh, merah-merah pada selang*angan mas Givan pun sembuh. Yang artinya, hal itu memang bersangkutan.


Maaf, jika jorok membahas hal ini. Tapi dalam rumah tangga, pasti saja kalian mengalaminya meski tidak sama dengan kasusku.


"Nenek.... "


Chandra masuk dengan bergandengan tangan dengan Key. Di tangannya, banyak sekali tentengan.


"Biyung, aku beli daster." Key berjalan ke arahku.


Aku menahan tawaku. Bisa-bisanya ia memberikan daster untuk ibunya ini.


"Makasih ya?" aku menyambut kantung plastik berwarna hitam ini.


"Ya, Biyung. Buat Biyung lima, buat nenek lima." Key menoleh ke arah adiknya, "Ayo Bang Chandra, ke atas yuk? Kita unboxing mainan pancing kita."


Chandra sampai dipanggil bang oleh kakaknya. Pasti ada drama tersendiri.


"Aku nyari adek Ceysa. Aku beli mainan buat dia." Chandra mengedarkan pandangannya.


"Kalau adek Ceysa udah balik, nanti Biyung suruh ke atas. Adek Ceysanya masih main."


"Ya, Biyung."


Kedua anak tersebut melarikan diri, dengan diikuti oleh kak Ifa.


Jujur, aku tidak tenang Ceysa berada di lingkungan asing. Namun, aku memilih amanah untuk menyampaikan pesan pada papah Adi. Untuk mengatur acara bang Daeng, agar setelah maghrib saja.


"Pah...." aku berseru dengan mengelilingi rumah megah ini.


Sangat tidak sopan, saat aku datang dan mengganggu kemesraan mertuaku. Namun, yang jadi masalah. Aku yang malu sendiri, karena mereka tetap bermesraan meski aku sudah muncul di hadapan mereka.


Papah Adi tetap duduk dengan mengusap-usap lengan istrinya, dengan mamah Dinda bersandar pada dada suaminya. Mereka tengah bersantai di halaman belakang, yang terdapat kursi santai dari rotan sintetis.

__ADS_1


Sungguh romantis.


Isakan kecil terdengar. Aku tetap melangkah, meski tak enak mengganggu mereka.


"Namanya juga makhluk hidup. Di kehidupan, pasti ada kematian. Kalau Abang meninggal duluan, Adek nikah lagi aja ya? Tak apa banyak cucu juga." papah Adi tahu keberadaanku.


Tetapi beliau cuek saja, dengan tetap menenangkan istrinya.


"Kita bunuh diri aja bareng-bareng. Tapi yang sekiranya mati bareng tuh, jangan ada yang nolong. Apa lagi dibawa ke rumah sakit salah satunya."


Kenapa aku selalu tertawa, jika mamah Dinda mengoceh seperti anak-anak.


Aku menarik kursi teras berbahan besi. Lalu aku menaruhnya di dekat kursi rotan tersebut, kemudian duduk di kursi teras itu.


Mereka mengetahui keberadaanku di jangkauan mereka. Tapi mereka enggan, untuk menyahuti panggilku tadi.


"Dosa!" hanya itu yang keluar dari mulut papah Adi, untuk merespon ucapan istrinya.


Sepertinya, mereka masih berat melepas bang Daeng. Terutama mamah Dinda, idola yang sempat menjadi musuh bang Daeng.


"Kenapa, Dek?" tanya papah Adi, dengan melirikku.


"Mas Givan minta acaranya abis maghrib aja, Pah." ucapku kemudian.


Papah Adi manggut-manggut, kemudian ia melepaskan pelukannya pada istrinya.


"Sini, Dek." mamah Dinda menepuk tempat yang diduduki suaminya tadi.


Aku segera berpindah posisi, "Chandra sama Key udah datang, Mah." aku membuka obrolan.


"Papah udah cerita juga masalah Ceysa. Jangan boleh, kalau tak sama kau." ini mirip seperti keputusan mas Givan.


"Tapi aku mau urus acara bang Lendra sampai tujuh hari, Mah. Sedangkan, mereka pulang ke Makassar tak lama lagi." aku berat untuk memutuskan.


"Ya udah. Bilang aja, lain kali gitu ke Makassarnya. Terus terang aja gimana."


Aku mengangguk, "Iya, Mah. Nanti ngomong pas ketemu di acara buat bang Lendra aja." tuturku dengan memperhatikan hamparan luas halaman belakang ini.


"Kau KB aja, Canda. Suruh Givan urus dan stabilkan dulu semua usaha yang dia pegang sekarang. Biar kalau kau hamil, dia bisa fokus sama kau. Maksudnya.... Udah tak mondar-mandir ke luar kota gitu."


"Kalau aku tanya mas Givan dulu gimana, Mah? Takutnya dia punya planning lain. Aku takut ganggu start rencananya dia." sudah cukup aku membuat ambyar rencananya untuk rumah tangga kami dulu.


"Yaaa, tanya dulu tak apa." mamah Dinda memainkan cincin di jemarinya.


"Mamah stress betul." lanjutnya tiba-tiba.


"Besok shopping yuk? Kau mintalah uang sama Givan. Coba pengen tau Mamah, gimana dia setelah punya uang."

__ADS_1


Ah iya, aku pun ingin tahu bagaimana ia setelah memiliki uang banyak ini. Apa ia masih seperti mas Givan dulu? Maksudku, menjatahku cukup tak cukup ya hanya segitu.


"Kalau aku dikasih banyak, mampir ke klinik kecantikan juga sih Mah." aku sudah menyusun rencana untuk laser kembali.


Karena, skincare rutin itu memakan waktu. Sedangkan semacam laser wajah, hanya butuh beberapa menit dan akan terlihat hasilnya sekitar sepuluh harian. Ya harus menunggu beberapa hari, karena wajah kita akan memerah dan mengelupas dulu setelah perawatan itu. Seperti berganti kulit lah konsepnya.


"Ya udah atur aja, kalau memang dikasih banyak sih."


Aku langsung manggut-manggut dengan semangat.


"Aku mau keluar dulu ya, Mah?" aku berniat untuk membantu acara tahlilan bang Daeng.


"Ehh, ambil Ceysa aja gih. Kasian Giska, Zuhdinya lagi sibuk pengukuran." ujar mamah Dinda, sebelum aku bangkit dari dudukku.


"Ukur apa, Mah?" aku menoleh ke arah beliau.


"Itu sih, suami kau minta buat pagar beton di sekitar rumahnya. Terutama di halaman samping, yang barengan sama halaman samping rumah Ghifar. Katanya, biar Canda tak bisa say hay sama Ghifar."


Aku tertawa di sini.


Mamah Dinda ikut cekikikan saja, "Serius, tadi ribut pagar beton di sini. Pas siang itu nah. Kau istirahat dzuhur, Givan kan pulang ke sini buat makan siang."


Aku tidak tahu, jika ayahnya Chandra jelalatan dengan pakaian adatnya.


"Tau bakal rujuk sama Canda tuh, tak jadi aku buat rumah tetanggaan sama kau. Gitu kata suami kau." lanjut mamah Dinda.


Ternyata, di balik keakraban mereka. Mas Givan dan Ghifar masih berseteru saja.


"Ya udah, Mah. Aku ke rumah Giska dulu ya, mau ambil Ceysa." ujarku kemudian.


"Ya udah, ati-ati. Cepat ya? Udah sore soalnya."


Aku hanya mengangguk, lalu segera pergi.


Aku berjalan kaki, dengan melewati beberapa tetangga yang asik berbisik-bisik saat aku lewat. Aku tersinggung dengan sikap mereka. Pasti mereka berpikir jelek tentang keluarga mamah Dinda, yang di mana anaknya menikahiku saat mempelaiku berpulang ke Rahmatullah.


Hingga sampailah aku di rumah ini. Aku langsung naik ke tangga teras, kemudian mengetuk pintu rumah Giska.


Tok, tok, tok.


Terdengar ramai, suara Hadi yang tertawa lepas pun tertangkap telingaku.


Blaghhhh...


"Ya, cari siapa?"


...****************...

__ADS_1


Kakak ipar kau, Giska. Masa iya gak kenal 😌 eh, Giska bukan sih 🙄


__ADS_2