
Aku hanya mampu meringis kuda. Aku akui, aku kelewat batas memakinya.
"Aku kesal, aku dibondeng-bondeng terus." aku membela diri, agar ia tidak semakin marah padaku.
"Abang ngomongnya bahasa sana terus. Aku tak paham." aku yang kini mengecurutkan bibirku, pura-pura marah padanya.
Plak.....
Aku merasa hantaman yang terasa di part belakangku. Memang tidak begitu kuat, tapi cukup membuatku kaget.
Mataku jelas terbuka lebar, aku terkejut mendapat perlakuan tidak sopan ini.
Aku ingin menangis, aku pun ingin marah. Tapi bagaimana cara mengekspresikannya?
Bang Lendra melenggang pergi begitu saja. Ia mendahuluiku jalanku, tanpa menoleh padaku sedikit pun.
"Abang kurang ajar!" suaraku sudah bergetar.
Bang Lendra sepertinya bisa mendengar ucapanku. Langkahnya terhenti, lalu menoleh kembali ke arahku.
Ia tersenyum lebar, seakan tak memiliki dosa padaku. Namun, bias kaget bisa aku tangkap dari raut wajahnya kemudian.
"Kenapa, Dek?" ia melangkah terburu-buru menghampiriku.
Aku memang cengeng. Aku malah seperti anak kecil yang menangis tersedu-sedu, karena dibuli teman sebayaku.
"Abang jahat!!" aku memukul tubuhnya, dengan papan kayu untuk alas menulis yang aku bawa-bawa.
"Hei!" iya menahan papan kayu yang terus terarah padanya.
Lalu ia memelukku tiba-tiba, pelecehan demi pelecehan ia torehkan tanpa merasa berdosa.
Aku mendorong-dorong tubuhnya, mencoba melepaskan pelukannya yang tak aku pahami.
"Ok, gak dipeluk. Adek jangan mukulin Abang. Adek kenapa?"
Adek, adek, adek.
Sebutan ini yang aku inginkan dari mas Givan, bukan orang tidak sopan ini.
"Yuk, ke mobil yuk? Gak enak, takut dilihat orang." ia mengulurkan tangannya, membujukku untuk mengikutinya.
Apa lagi ini?
Apa setelah ini tangannya akan bersikap lebih.
Aku memukul tubuhnya sekali lagi, masih dengan papan yang sama. Aku marah padanya. Hanya saja, aku tidak mengerti cara mengekspresikannya.
"Adek kenapa?" ia mencengkram pergelangan tanganku, yang tengah memegang papan alas ini.
__ADS_1
Aku menatap wajahnya. Benar apa yang kak Anisa katakan, ia mengunci pandangan lawan bicaranya.
"Aku dulu korban perk*saan! Terus Abang kek gini ke aku?! Abang sama aja bej*tnya kek pelaku yang tega sama aku!" aku berbicara dengan tempo yang cepat, dengan suaraku yang terdengar tidak stabil.
Aku masih menangis karena tindakannya.
Aku tidak mengerti tatapan apa yang ia berikan. Aku tidak mengerti bahasa tubuhnya.
"Maaf, Dek. Maaf, gurauan Abang keterlaluan." ia menyatukan telapak tangannya di depan dadanya.
Kepalanya tertunduk, mungkin itu tindakan dari permintaan maafnya.
"Maaf Abang gak tau. Abang biasa bergurau kek gini." terangnya lagi, masih dengan posisi yang sama.
"Jangan nangis, Abang minta maaf. Abang gak akan ulangi lagi." akunya kemudian.
Lalu ia meluruskan pandangannya lagi padaku.
"Abang minta maaf. Adek jangan nangis." aku bisa melihat raut penyesalannya.
Kapan mas Givan menyadari kesalahannya, lalu meminta maaf seperti ini?
Bahkan, dulu aku meminta maaf atas kesalahannya padaku. Agar dia mau mengerti, bahwa aku tidak suka bertikai. Namun, hal itu membuatnya semakin besar kepala.
"Dek, Canda...." ia menyenggol papan alas yang aku pegang.
"Jangan ngelamun di tengah ladang." tambahnya kemudian.
"Yuk..." ia tersenyum samar, dengan mengulurkan tangannya.
"Aku tak suka bergurau kek gitu-gitu. Aku trauma." terangku dengan memberanikan diri untuk berbicara dengan menantang pandangannya.
"Iya, Abang paham. Maaf ya? Abang gak tau soalnya." nada bicaranya, senyumnya, begitu menghanyutkan bahwa dirinya adalah laki-laki yang paham bersikap.
Halus dan menenangkan.
"Abang jalan duluan." aku memeluk papan alas tulis ini, di depan dadaku.
"Ya, Dek." ia berbalik, kemudian melangkah mendahului.
Aku membuang nafas beratku. Ada saja cobaan hari ini.
Hanya masalah ini, aku sudah menangis terguncang. Apa lagi, jika mendapat problem lain yang di luar kendaliku.
"Kita jemput Chandra sama Raya dulu. Kerja hari ini udah selesai. Lepas ini kita mau ke mana?" bang Lendra bersuara kembali, saat aku baru duduk di sebelah tempatnya mengemudi.
"Terserah aja." moodku belum membaik kembali.
"Abang gak lagi-lagi kek gitu, kecuali kalau dapat izin." aku tak menoleh padanya, tetapi aku bisa mendengar suara kekehannya.
__ADS_1
Dia pikir, ini gurauan yang lucu?
Aku pun sepertinya tak sudi, memberinya izin untuk menampar part belakangku. Sekalipun tidak sakit, tapi menurutku itu seperti penganiayaan.
Tak jauh dari lokasi ini. Aku bisa melihat Chandra tengah duduk bersama Raya. Chandra terlihat anteng dengan mainan di tangannya.
"Hai, Nak." bang Lendra menurunkan kaca jendela mobilnya.
"Turunin, Ya. Biar dia ada inisiatif buat jalan nyamperin aku." bang Lendra turun dari mobil.
Aku yakin, bang Lendra akan membawa Chandra masuk ke dalam mobil. Biarpun aku tidak turun dari mobil ini.
"Iya, i ya... Yah." aku melongok dari kaca samping kemudi, agar aku bisa melihat interaksi antara Chandra dan bang Lendra.
Terlihat Chandra tengah berdiri dengan kakinya, tetapi ia enggan untuk melangkah.
Tangannya berusaha menggapai tangan bang Lendra yang terulur. Rengekan manjanya, mencoba membuat orang berbelas kasih untuk membantunya memberi pegangan. Agar dirinya berani untuk melangkah.
"Ayo, Ayah di sini."
Apa-apaan dengan bang Lendra ini?!
Ayah!
Ayah!
Aku ingin suami baruku, maksudku ayah sambung Chandra tidak dipanggil ayah. Melainkan, papah atau sejenisnya. Tapi tidak dalam waktu dekat.
Menurutku juga, bang Lendra tidak termasuk dalam kandidat. Ia terlalu egois untuk jadi ayah.
Semalam pun, Chandra tertidur dengan tempat yang begitu sedikit. Aku sampai tertidur terlalu tepi, karena bang Lendra begitu serong ke arah kami. Padahal di belakangnya, memiliki tempat lebih banyak.
Tangannya juga tidak mau dia. Seenak jidatnya, ia memelukku dan Chandra. Aku paham itu di luar kendalinya, karena ia sampai mendengkur hebat. Hanya saja, harusnya ia sadar jika di tempat tidur itu bukan hanya ada dirinya.
Kak Raya paling benar memilih sofa untuk tempatnya tidur. Karena di sofa, ia bisa begitu lelap tanpa gangguan dari bang Lendra.
"Ughhhh... Ciut nyali kau!" akhirnya bang Lendra menggendong Chandra, karena ia terlihat tidak sabar menanti Chandra melangkah.
"I yum, i yah." Chandra menepuk-nepuk wajah bang Lendra.
"Om, ya om. Ayah, ya ayah. Jangan om ayah." apa itu yang dimaksud Chandra.
Bang Lendra ini, sok paham betul bahasa bayi.
"Kita mampir makan dulu. Terus balik ke hotel, kita bobo siang sampai sore. Terus malemnya OTW halan-halan, Biyung gak diajak. Karena masih mewek aja, Biyungnya cengeng." bang Lendra menempatkan Chandra di pangkuannya, sembari mengemudi kembali.
Jika diingat kembali, obrolan bisnis ini hanya memakan waktu satu jam. Selebihnya, kami mencari informasi terkait ladang ini. Lalu, hanya bertanya-tanya tentang seputar ladang ini. Pukul sepuluh pagi, kami sudah bebas tugas kembali.
"Ehh...." aku kaget, saat punggung tanganku digenggam seseorang. Lalu bergerak ke arah depan.
__ADS_1
...****************...
Siapa sih yang suka megang-megang Canda? 🤔