Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD320. Titik terang


__ADS_3

"Terus, Putri lobi masalah usahanya. Jujur, Abang pengen kaya. Abang takut di rumah kekurangan stok makanan. Banyak ketakutan Abang, makanya gas melon di kos aja sampai ada dua buat persediaan."


Aku mengusap-usap daguku. Hmm, pantas saja ia tidak kaya-kaya. Ternyata, ia dalam misi menyicil panai.


Panai semacam mahar, jeulame jika di sini. Ya, itu pemahamanku saja.


"Uang itu, sekarang larinya ke mana?" tanyaku kemudian.


"Ke ibunya Putri. Putri kasih kerjaan, iming-iming hak milik sarang walet. Abang udah capek kerja di jaringan gelap gini, Dek. Beresiko, jam kerjanya acak-acakan. Makanya, Abang majulah buat dapatkan sarang walet itu. Ke Dikta gak seberapa, tapi ke Putri ini kek deposit yang gak ada pencairannya. Curhat ke mangge, diminta ikhlasin aja dua puluh miliaran itu, coba balik porotin Putri katanya, kalau memang sulit ikhlas. Cuma dua itu, saran dari mangge. Ya okelah, apa yang orang buat ke diri Abang, Abang coba balikan lagi ke diri dia. Kabur kan Abang, nolak Putri mentah-mentah. Jamin Jasmine gak nentu, cantolin ke apartemen uang yang Abang niatkan buat Putri itu. Makin agresif tuh Putri, udah gak kewalahan amarahnya. Mulai lah step awal di situ, porotin Putri. Tapi, baru tujuh miliar, rekening Adek udah dibekukan aja."


Ohh, uang tujuh miliar itu ternyata?????


Aku paham.


"Jadi, masalah rekening itu gimana?" tanyaku kemudian.


Bang Daeng mengedikan bahunya, "Terserah Adek. Sebetulnya, Abang kesal aja karena masuk dua puluh miliar, tapi pernikahan digantungkan sampai Abang bosan. Abang tadinya pengen terus-terusan morotin Putri, sampai balik dua puluh miliar itu. Tapi, udah keburu jatuh cinta ke Adek."


"Sebetulnya, pernikahan Abang sama Putri akhirnya gimana? Terus, uang tujuh miliar atas nama aku mau diapakan?" aku mencoba mendapat kejelasan di setiap cerita.


"Gagal lah. Udah gagal dari sebelum kita nikah."


Kenapa aku masih belum mudeng juga?


"Kenapa?" mungkin ia memahami kebingunganku.


"Terus sejak kapan berhenti buat ngumpulin panai itu?" tanyaku satu persatu, agar aku memahami segalanya.


"Sejak lama, kan putus tuh sama Putri hampir dua tahun. Terus enam bulan sebelum Adek datang ke Padang, Abang itu udah balikan lagi dengan misi porotin Putri. Tapi akhirnya Abang milih udah aja ikhlas, karena Abang udah pengen nikah sama Adek. Ngerti gak?"


Aku mengangguk, "Ngerti, Bang. Terus gimana lagi?" aku ingin memastikan semuanya, agar aku tidak salah paham dan menyalahkannya melulu.

__ADS_1


"Yang uang tujuh miliar itu, ya uang porotin Putri sejak enam bulan balikan sama Putri, sebelum nikah sama Adek. Untuk uang dari jaringan gelap, Abang cuma ada beberapa aja. Karena Abang gak aktif lagi main pengiriman, sibuk sama bisnis halal. Abang cuma main kosmetik ilegal, itu pun udah jarang, karena pelabuhan Batamnya lebih ketat sekarang. Untuk emas batangan itu, itu murni uang bonus dan lain-lain. HP juga, bukan uang dari jaringan gelap." terangnya kemudian.


Kurir dark business ternyata bang Daeng ini.


"Masalah Abang tak nikahin Putri ini, murni panai?" tanyaku kemudian.


"Yaaa....." ia menggosok telapak tangannya, "Yang pertama, jujur karena panai. Abang malu sebenarnya buat ngakuinnya, karena harga diri laki-laki diukur dari kemampuan finansialnya menuhin panai. Tapi, alasan selanjutnya karena sifat Putri. Ya memang, kalau udah cinta, pasti alasan apapun diterjang." lanjutnya perlahan.


"Abang tak jelas." aku masih tidak memahami alasannya.


"Hufttt...." ia menyangga tubuhnya ke belakang dengan tangannya.


Lalu, ia kembali duduk tegak dengan memijat kakiku.


"Awal mulanya, mau tanggung jawab, tapi terhalang panai. Givan juga sekarang mulai ribut panai, sampai dia chat Abang. Tanya aja kalau tak percaya. Jadi bisanya Abang gak nikah-nikah sama Putri dari Putri ngandung Jasmine itu, karena orang tuanya gak bisa dinego masalah panai. Terus, di mana masanya Abang bosan berjuang. Dia kan yang agresif dekatin Abang lagi. Nampak tuh sifat aslinya. Mana Abang dari awal gak cinta sama dia, ditambah tau sifat aslinya, jadi kek ilfeel sendiri gitu. Ini perempuan apa sih, kok suka ngatur dan maksa, ditambah lagi ngerasa bos padahal sama ayah anaknya sendiri. Gitu, Dek. Dari situ tuh, udah males betul sama yang namanya Putri. Tapi, dia ini licik juga. Diacak-acak semua jaringan gelap yang Abang kuasai, polisi diaturnya di mana-mana. Jadi, Abang kalap kan karena usaha terbesar Abang dulu ya dari jaringan gelap. Coba sabar, fokusin ke Suplai Nova aja, PT yang di Padang itu. Tapi dia makin menjadi, jadi ya coba ikutin permainan dia sembari porotin dia. Paham gak? Harus aja dijelaskan begitu rincinya, gak bisa nyimpulin sendiri dari cerita Abang." di akhir kalimat, bang Daeng seperti menggerutu.


Aku terkekeh geli, "Ribet soalnya." sahutku kemudian.


Benarkah Putri sampai demikian?


Aku menyipitkan mataku, "Bohong ya?" tuduhku kemudian.


"Abang gak bakal bohong sekarang. Biar Adek tau cerita tentang Jasmine, yang selama ini Abang sembunyikan. Udah capek bohong, Dek. Nanti tambah-tambah dosa Abang nanti."


Aku mengusap-usap daguku, aku ragu dengan segala pengakuan dan ceritanya.


Oh, iya. Putri pernah mengatakan bahwa bang Daeng selalu berdalih, ketika datang ke rumah orang tuanya.


"Ganti, Dek. Udah abis itu." bang Daeng sudah ada di depan nakas, ia tengah mengaduk sayur yang terdapat jagung di dalamnya.


"Au ainan." Ceysa malah turun dari ranjang.

__ADS_1


"Ke mana, Dek?" bang Daeng mengikuti anaknya itu.


Tak lama, bang Daeng muncul dengan Ceysa di gendongannya. Mainan piano kecil yang bisa berbunyi, ada di dekapan Ceysa.


"Di sini aja mainannya." bang Daeng mendudukkan Ceysa di dekatku kembali.


Kemudian, ia berada memijat telapak kakiku. Dengan duduk di tepian tempat tidur.


"Bang...."


"Hmmm?" ia memandangku.


"Kata Putri, Abang selalu berdalih kalau main ke rumah orang tuanya. Jadi seolah Abang ini alasan aja, buat mundur dari tanggung jawab."


Alisnya menyatu, "Putri bilang gitu?" ia seperti terkejut.


Aku mengangguk, "Mamah Dinda juga tau." jawabku kemudian.


"Bener-bener ini perempuan." bang Daeng menggerutu dengan geleng-geleng kepala.


"Kenapa, Bang?" tanyaku kemudian.


"Abang gak tau, Abang dalih di bagian mananya. Tapi, dulu itu. Setiap Abang datang, Abang kan setor buat panai, karena diminta ibunya Putri. Di situ, kita diskusi cari jalan keluar, karena Abang belum sampai ke tiga puluh miliar. Selalu sama, yang pada akhirnya Abang ambil opsi ini, karena gak ada saran apapun dari mereka. Padahal, Abang berharap panai bisa diturunkan."


"Nah, opsinya itu apa?" tanyaku cepat.


...****************...


Opsinya apa?


Masih penasaran gak nih 😆 keknya terlalu pusing ya 🤭 author aja sampai rontok rambut 😝

__ADS_1


__ADS_2