
"Nen, Iyung..." Chandra berjalan cepat dengan alisnya yang melengkung.
Entah kena sawan apa, dari bayi Chandra sering sekali menyatukan alisnya ke tengah-tengah. Ia mirip seperti emoticon 🤨.
"Wah, Papah juga mau dong."
Itu suara Ghifar.
Ghifar tengah berada di tengah-tengah anak-anak yang bermain. Ia merebahkan tubuhnya, dengan mainan boneka yang ditumpuk di atas perut dan dadanya. Sepertinya itu adalah ulah Kal, karena hanya Kal yang berada di dekat Ghifar. Anak-anak yang lain, mereka anteng bermain mainannya masing-masing.
"Bapa juga mau dong. Wah, pasti seger nih. Papah ambil sedotan dulu ya?" tambah Ghavi, yang membuat orang-orang yang berada di sini tergeletak geli.
Tapi, tidak untuk Chandra.
"Iyung! Nen!" ia memukul dadaku.
Ia masih melengkungkan alisnya, ia tidak peduli dengan sekitarnya.
"Yuk, nen." aku membawanya dalam dekapanku.
"Jangan lah, Dek!" mamah Dinda menahanku, saat aku tengah membuka kancing teratas dress ringan yang aku kenakan ini.
"Biarin, Mah. Udah tak ada airnya ini. Pasti nanti juga dilepasnya lagi." aku menjuntaikan hijabku di depan dada.
"Di kamar Papah aja, Dek." papah Adi melewati kami dengan segelas minuman yang asapnya mengepul.
"Di sini aja, Pah. Aman kok." aku menutupi kepala Chandra, yang tengah menikmati pabrik ASI yang ia rindukan.
"Nen!" ia memukul-mukul pabrik ASIku.
Pasti airnya memang tidak keluar.
"Nen...." tangisnya pecah dengan wajahnya muncul di balik hijabku.
"Udah tak ada airnya, Bang. Yuk, nen sama Mama." ajak Ghifar dengan memperhatikan Chandra yang menangis sambil duduk.
Oh, jadi panggilan Kinasya itu mama. Aku kira mamah.
"Ya tuh! Sana sama mama aja, nenya lebih besar." Ghavi menunjuk Kin yang baru muncul dari arah dapur. Namun, Chandra lebih milih berlari ke arah teras saat melihat kakeknya tengah menyapu.
"Engkek, Engkek..." tangis Chandra manja.
"Sini, sini." suara papah Adi terdengar berseru.
Aku langsung menunduk, aku tiba-tiba merasa takut.
"Mah... Udah masak buat makan malam. Aku tidur dulu bentar." Kin langsung menaiki tangga, tanpa menyapaku.
Sepertinya, ia marah padaku.
"Ada Canda ini Kin."
Aku langsung deg-degan, saat Kin berjalan ke arahku.
Ia tersenyum ceria, lalu bercipika-cipiki ria denganku.
"Maaf ya, Canda. Aku capek kali soalnya. Kaf rewel terus." ujarnya kemudian.
__ADS_1
"Tak apa. Tadi pun aku langsung tidur." balasku dengan memperhatikannya yang melirik sinis suaminya.
"Kaf itu loh, Yang! Masa sama Ibu terus." bentak Kin, membuatku terlonjat kaget.
Ya ampun, harusnya Kin tak membentak suaminya di keramaian keluarga seperti ini. Karena Ghifar pasti malu.
"Bawa aja ke sini! Jangan banyak ngomong!" ketus Ghifar membuatku semakin syok.
Ghifar yang selalu bernada lembut, ternyata bisa ketus juga.
Kin berlalu pergi, lalu datang dengan menaruh Kaf begitu saja. Kaf digeletakan di dekat papahnya, di atas karpet permadani ini.
Tangis Kaf langsung pecah. Ia menendang tak beraturan, dengan suara yang begitu menggelegar. Ternyata Kaf lebih dominan mirip Ghifar. Tidak seperti Kal, yang dominan mirip Kinasya.
"Aduh... Suara Ghofur kalah kuatnya sama kau!" Ghavi mengangkat tubuh Kaf.
"Ada yang sakit kah badannya? Sama meme yuk, kita ke tukang pijat." Ghavi membawa Kaf naik ke lantai atas.
Kembar berarti berusia sebelas bulan, Kal empat belas bulan dan Chandra dua puluh bulan. Aku belum bertemu semua ipar di sini.
Tak lama, gerombolan keluarga bergelimang emas itu turun. Aku menyebutnya seperti itu, karena Aksa pun mengenakan perhiasan emas. Memang hanya gelang saja, tapi itu cukup aneh untukku. Karena Aksa adalah anak laki-laki.
"Wah, ada tamu jauh." sapa Tika dengan dua anaknya yang berada di gendongannya.
Hebatnya Tika, ia sampai berotot karena mengurus anak-anak kembarnya.
Ia langsung menyambutku dengan senyum terbaiknya.
"Udah dari siang kok, cuma tidur tadi." terangku kemudian.
"Bang... Bawa Kaf dulu. Sekalian mijit kembar." aku bisa menangkap suara Ghavi.
"Tinggal dulu ya, Canda." aku mengangguk, kemudian Tika berlalu pergi.
Mungkin, mereka sudah mengerti harus memanggilku dengan nama saja. Apa lagi, aku paling muda di antara ipar yang lain. Eh tidak juga sepertinya, karena usia Winda satu tahun lebih muda dariku.
"Mah, aku ke belakang dulu ya?"
Mamah Dinda hanya mengangguk, karena ia tengah fokus pada aplikasi belanja onlinenya. Mamah Dinda pasti kangen berbelanja. Insya Allah, aku akan mengajak beliau dan ibu ke butik langganan mamah Dinda.
Gelak tawa terdengar dari area belakang. Aku bergegas, agar tidak ketinggalan keseruan.
Terlihat, Key tengah berlarian dengan Gavin dan Gibran. Aksa juga ikut dalam keseruan, ia berada di bagian paling belakang. Sedangkan Ria dan ibu, mereka tengah mengawasi saja dengan makan cemilan.
"Sendiri aja, tak ngajak-ngajak jajannya." ujarku dengan menghampiri mereka.
"Siapa suruh tidur aja."
Ria adalah adik yang tidak ramah.
"Ada pasar malam tak, Dek?" tanyaku dengan mencomot jajanannya.
"Ih, Mbak!" Ria menatapku tajam.
Aku hanya tertawa, kemudian lanjut memakan cemilannya.
"Suamimu dulu si Givan?" tanya ibu lirih.
__ADS_1
Aku hanya mengangguk samar.
Aku mendapat usapan lembut dari ibu, "Jadi selama ini kamu tinggal di mana?" ujarnya lembut.
"Di Padang, Bu. Aku kerja, tapi udah tak kerja kurang lebih dua bulan. Nanti kita pulang ke Jawa yuk, Bu? Kita jualan isi ulang galon, es krim, gas elpiji gitu-gitu." aku akan hidup bersama ibuku, adikku dan juga anakku.
"Ibu ngikut kamu, kalau kamu memang gak keberatan." ia tersenyum padaku.
"Ya tak lah, Bu. Ibu ini ada-ada aja. Makasih, udah sekolahin aku. Mondokin aku apa lagi, biayanya tak sedikit dan aku tau itu. Makasih buat semua pengorbanan Ibu." aku menggenggam tangannya.
"Itu kewajiban orang tua, Ndhuk." ia mengusap-usap tanganku yang berada di atas punggung tangannya.
"Kalau bapak kandung aku kemana, Bu?" tanyaku kemudian.
Karena, dua kali menikah aku selalu menggunakan wali hakim.
"Udah meninggal, Ndhuk. Kalau gak salah, pas ada bencana di tanah Sulawesi. Bapak kamu kan merantau ke sana, ibu pun tau dari temen lama dari sosial media."
Keren, ternyata ibuku tidak gaptek.
"Terus jenazahnya ditemukan tak?" aku pun pernah mendengar kabar duka dari tanah Sulawesi itu.
"Ditemukan, dipulangkan ke kampung halamannya."
Ya Allah, ternyata nasib ayah kandungku begitu tragis. Aku tak menyangka, ternyata ia sudah tiada sekarang.
"Canda.... Mandi! Sholat!" suara itu semakin dekat.
"Vin, Bran... Mandi, sholat, ngaji!!!" mamah Dinda muncul di ambang pintu belakang.
"Ya, Mah." mereka berlari ke arah ibunya.
"Ihh, Kak Ducky." Gibran seperti terperangah melihatku.
Ia memasang wajah lucunya, dengan telunjuk mengarah ke arahku.
"Ya, Kak Ducky udah balik. Sana ajak ke meunasah." mamah Dinda mengusap keringat di pelipis Gibran.
"Ok, mandi dulu Kak." si kecil ganteng itu berlari masuk.
Hanya Gibran yang cukup dekat denganku. Gavin sedikit alot mulutnya.
"Kau pun mandi, Ria!" tegas mamah Dinda dengan sorot mata yang mengarah pada Ria.
"Aku jagain Key, Mah."
Dasar, anak muda. Mengelak, adalah hal yang paling menarik.
"Ada Ibu. Alasan! Mandi sana! Sholat! Mau kau kek mana aja terserah kau. Yang penting sholat, terus sana ikut Gavin sama Gibran ngaji. Kau pun ngaji, tak usah segala jagain mereka. Mereka tau jalan pulang pergi ke meunasah sendiri, mereka biasa main di sekitar sini. Jadi cepet! Jangan ngelak lagi!" keganasan mamah Dinda keluar juga.
"Cepet, Canda!"
"Ya, Mah." aku buru-buru masuk, sampai mendahului beliau yang masih berdiri di ambang pintu.
Hal seperti ini saja. Memang terkadang menjengkelkan, tapi aku merindukan hal-hal seperti ini.
...****************...
__ADS_1
Up satu lagi nanti 🤗