Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD193. Ingin keluar malam


__ADS_3

"Demi perhiasan, rela dititipkan benih."


Aku menoleh cepat, ke arah perempuan yang tengah membuat susu dalam botol dot. Ia mengusikku yang tengah anteng mencuci piring.


Aku paham sindirannya. Aku mengerti maksudnya. Aku berpikir, pasti kabar tentang aku hamil ini sudah menyebar di rumah megah ini. Tak luput dari si Kaktus ini, ia pasti mendengar kabar ini juga.


Bukan aku tidak mengharapkan hadirnya benih cintaku. Lebih buruknya, aku sempat berpikir untuk meminta ibu agar membantuku meluruhkan buah cintaku ini.


Setakut itu aku menghadapi penghakiman. Meski nyatanya, raja dan ratu rumah ini mendukungku begitu tulus.


"Terus balik ke mantan mertua. Ngarep betul dikasihani. Karena sadar, setelah ini dia bakal kesusahan dengan perut besarnya."


Aku diajarkan berucap baik, saat membuat makanan untuk keluarga kita. Apa lagi, ketika tengah membuatkan susu untuk anak. Hal itu cukup berpengaruh, dalam kehidupan. Satu yang aku pahami, satu yang aku pelajari. Mencuci beras sebaiknya menggunakan tangan kanan dan juga mengucapkan kalimat syahadat. Agar keluarga kita yang memakan beras yang kita cuci itu, bisa mendapat kebaikan. Aku belajar dari nasehat guruku dulu.

__ADS_1


"Setidaknya, aku dapat emas dan berlian. Dari pada kau, udah dihamili, tak dapat apa-apa juga. Bahkan, sarung bantal yang kau ileri setiap hari itu bekas pakai aku." aku meliriknya dengan senyum mengejek.


Matanya membulat, mulutnya sedikit terbuka.


Aku segera menaruh piring kotorku yang sudah aku cuci bersih. Lalu aku berlalu meninggalkannya yang masih mematung di tempatnya.


Yang jelas, hamil pun, aku bukan hamil di luar pernikahan. Anakku memiliki nashab ayahnya, bang Daeng. Untuk sekarang, kenyataan itu sudah cukup membuatku tenang.


"Ayo, Canda." mamah Dinda benar-benar ingin merasakan jalan-jalan.


"Dekat aja, di rumah tante Shasha. Nanti kau alasan ke papah kalau ketahuan. Bilang, kau pengen makan Chic-Chic. Mamah mau ngobrol, mamah juga pengen tau kabar mereka." mamah Dinda mengesampingkan ponselnya.


"Apa itu Chic-Chic? Masa aku bohongin papah, mana bisa aku." bukannya aku ingin menolak ajakan beliau.

__ADS_1


"Jajanan. Jadi tuh tante Shasha punya kedai depan rumah gitu, ada tempat makannya. Enak loh, masih buka sampai jam sepuluh. Ada jajanan lain juga. Rashi pun dagang seafood bakar dua ribuan, yang kau sering jajan itu." mamah Dinda menaik turunkan alisnya.


Aku tidak bisa menolak jika sudah dihadapkan dengan jajanan.


"Oke deh. Aku ajak Chandra ya, Mah?" aku hendak bangun. Namun, mamah Dinda mencekal tanganku.


"Jangan lah, apa lagi ajak Key. Givan bisa ngamuk, kalau tau anaknya belum tidur jam segini. Ini udah jam malam anak-anak." mamah Dinda setengah berbisik. Padahal tidak ada siapa-siapa di lantai bawah ini. Anak-anak pun, sudah berkumpul di lantai atas.


"Kok mas Givan tak ngamuk, kalau Chandra yang belum tidur?" aku merasa Chandra dibedakan dari gadis mas Givan. Jujur, aku selalu iri dengan mas Givan yang memperlakukan Key dengan amat spesial. Sedangkan Chandra, ia terlihat biasa saja.


"Givan ngamuk, ya papahnya anak-anak yang maju. Lagian, Chandra mana pernah tidur cepat."


Aku tak mau ambil pusing. Aku menganggap, ini hal sepele saja. Agar aku tidak memiliki beban pikiran.

__ADS_1


...****************...


Masih slow 😎


__ADS_2