
"Aku Pajero, kau belikan kuda. Kau kandang sama akomodasi aja, Va. Gimana?" ujar Ghifar dengan mencolek saudara-saudaranya.
"Terus, yang ngurusin kuda ini siapa? Jangan Bang Givan, nanti dijual sama istrinya." bisik Ghavi, yang sampai ke telingaku.
"Ada suaminya Giska. Taik burung aja dia urus, apa lagi kuda." tambah Ghava kemudian.
"Kalian beneran pengen belikan Mamah ini itu? Papah sih tak yakin. Kuda nanti dilepasnya di ladang, Pajero ditinggal di rumah kawannya kalau main." papah Adi melirik istrinya.
"Ya Allah... Orang lupa kalau bawa mobil Abang, masih aja dibahas-bahas." mamah Dinda berjalan ke arah papah Adi dengan tertawa kecil.
"Padahal Abang nurut aja. Bang, Mobilio. Oghey.... Bang, Expander. Oghey.... Bang, Sigra. Yang peunteng hai Dek beusiloe-siloe, hana pue sangsi, menyoe ka judoeh." papah Adi malah bersenandung.
Sigra memang mengandung arti segera, dalam bahasa sini. Salah satu koleksi mobil milik keluarga pun, ada yang bermerek Sigra.
"Sampai nyampe ke Jazz, Abang bawakan cash buat Adek. Masih aja minta Pajero, panas jaba jero. Tetangga kita ginjalnya masih aman tak itu?" tambah papah Adi kemudian, dengan berjalan ke arah dapur.
Mamah Dinda tertawa geli, lalu ia mengekori suaminya dengan Hadi di gendongannya.
"Beli Beat aja, Bang." suara mamah Dinda tertangkap telingaku.
"Serius loh ini, Vi!" aku menoleh ke arah sumber diskusi, yang berada di sampingku.
"Rumah kau di belakang rumah aku, Dek. Say hai kan kita enak, ibu masih bisa ke sana ke mari." suara genit Ghifar tertuju padaku.
"Akhhhh...." Ghifar langsung melotot, karena seseorang di sampingnya tengah mencubitnya kuat.
Setelah itu, Kin pergi naik ke lantai atas dengan menggendong Kaf yang tertidur pulas. Ghifar cari mati. Kin tidak bisa diguraui dengan hal seperti ini.
"Nah, terus abis say hai. Satu jam kemudian, datang tuh pengumuman kematian kau di meunasah." ujar mas Givan, setelah Kin tidak terlihat lagi.
"Liat aja nanti." Ghifar bangkit dari duduknya, lalu berjalan ke arah teras rumah.
"Kau pilih siapa, Kakak ipar?" tanya Ghavi dengan menyenggol lenganku dengan jarinya.
"Tak semua, udah tau rasanya." jawabku lirih.
Namun, sepertinya tidak ada suara apapun saat aku berbicara tadi. Membuat perhatian kini tertuju padaku.
Ya ampun, sepertinya aku keceplosan.
"Ihhh..." Ghavi menunjukku dengan ekspresi menuduh.
Aku cepat-cepat berbenah, lalu kabur dengan membawa beberapa piring kotor ke dapur. Untungnya, tak semua orang mendengar suaraku tadi.
Setelah aku mencuci piring, aku berniat untuk ke halaman belakang. Karena di sana terdengar suara mamah Dinda. Aku sudah mengantuk kembali, jadi lebih baik aku mengobrol.
__ADS_1
"Chandra udah kenyang belum ya, Dek?" tanyaku pada Ria, ia membantuku mencuci piring tadi.
"Udah, Kak. Chandra sih makan sedikit-sedikit, tak lama juga minta jajaj, minta uwehhh, minta yessss cucu." Ria menirukan ucapan Chandra ketika mengatakan hal itu.
"Beneran dikasih es?" Chandra kecil selalu bergidikan ketika menyentuh es.
"Iya, susu formula, diseduhnya air dingin."
Chandra sudah banyak kemauan sekarang.
Aku memilih untuk berjalan ke halaman belakang. Aku juga ingin tertawa dan mengobrol, meski selalu sesak kala melihat wajah Nadya.
Namun.
"Iya, Abang belikan." papah Adi tengah menciumi pipi istrinya.
Aku mundur satu langkah, aku bersembunyi di balik pintu belakang. Aku malu melihat adegan itu.
"Ya udah tuh, gerakannya." padahal mamah Dinda tengah menggendong cucunya.
Dasar laki-laki, tua pun tetap saja suka hal gila.
"Goyang di sini?"
"Bukan, Adi Riyana." suara mamah Dinda menggeram.
"Beli Beat dulu. Nanti malamnya dikasih goyang." lanjut mamah Dinda.
"Motor datang, kita masuk kamar." kenapa aku malah bertahan di sini? Kan otomatis jadi merekam semuanya.
"Ya, Bang. Sana cepetan!"
Aku langsung muncul, agar tidak dituduh menguping.
"Sini, Canda." mamah Dinda menepuk tempat di sebelahnya. Ia duduk di teras, dengan kaki menapak di rumput yang terlihat begitu indah.
"Hadi tidur kah, Mah?" aku melongok, melihat wajah Hadi yang bersembunyi di ketiak neneknya.
"Iya, sampai ketiduran. Kasian, pengen nen." mamah Dinda mengusap surai Hadi, yang sepertinya masih belum dicukur sejak dilahirkan.
"Hadi berapa bulan sih, Mah? Keknya besar betul." badannya terlihat berisi dan juga panjang.
"Satu bulan. Biasa, bayi modern. Belum empat puluh hari juga, udah ke sana ke mari. Pas mamah baru balik, Giskanya lagi jalan-jalan ke mall sama suami sama anaknya. Balik-balik sore, langsung ke sini. Cerita, katanya abis laser wajah, terus bekas-bekas stretchmark dihilangkan. Rambut ya udah dicuci, udah diwarnai. Katanya, lepas nifas nanti mau dipotong pendek. Pengen ganti penampilan baru. Mamah sih trauma, belum lepas nifas udah bersih-bersih begitu. Belum selesai nifas, baru sebulan, udah dipakai papah. Langsung bulan selanjutnya tak haid lagi, langsung hamil kembar."
Aku baru percaya hari ini, ternyata cerita itu benar adanya.
__ADS_1
"Jadi jaraknya dekat betul ya, Mah?"
"Iya. Kau mau hilangkan stretchmark tak? Nanti Mamah yang bayar. Giska mau diulang, setelah bekasnya hilang. Dilaser kan, kek gosong dulu, ngelupas dulu."
Keren juga penghasilan Zuhdi. Padahal tadi ia merendah, ia mengatakan nganggur setiap hari.
"Aku udah, Mah. Dua kali laser, udah pada hilang. Terus dimasker apa gitu yang terakhirnya, gel tebel itu nah Mah." aku menunjukkan perut bawahku.
Kebetulan, hari ini aku menggunakan setelan daster yang memiliki tali di depan.
Mamah Dinda mengangguk, alisnya langsung menyatu seperti Chandra.
Kenapa memang?
Apa terdapat tanda merah lagi?
Tapi, perasaan hanya di leher itu.
"Kau kerja apa sih di sana? Penghasilan kau berapa? Dulu Mamah jadi penulis, uang tak sampai buat perawatan full body. Perawatan full, setelah punya suami, karena dimodalin papah Adi."
Mampus aku.
"Sekertaris supply chain, Mah. Gaji lima koma lima. Tapi utuh, karena makan apa tuh, diganti pihak perusahaan. Kan ada tujuh bulan lebih aku kerja, jadi kumpul tuh uang." semoga alasanku sampai di logika mamah yang cerdas.
"Kemarin datang, kau pakai tas merek Celine. Berapa lebihan dari PT?"
Rasanya aku ingin kabur saja.
"Tergantung, Mah. Kan, setiap hari dihitung dana lima ratus ribuan buat penginapan dan makan. Kan aku bareng di kamar sama asisten supply chain, jadi uang tinggal itu dibagi dua di akhir nanti."
Mamah Dinda manggut-manggut, "Sejak kapan kau terlampau cerdas kek gitu?"
Bukan aku terlampau cerdas. Sayang saja, bosku memang orang yang licik.
"Mah... Aku pengen pulang ke Cirebon. Aku mau buka usaha di sana sama ibu, sama Ria juga." aku mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa harus di Cirebon? Di sini aja, di bekas warung nasi itu. Itu kan, tanahnya udah dibeli papah. Nanti tinggal bangun aja, sekalian bangun rumah Ghifar, Ghava sama Ghavi. Ibu sama Ria, tetap bisa bantu Mamah ngurus cucu juga. Mamah sih tak bakal anggap mereka ART, tak bakal Mamah suruh-suruh mereka buat masak atau lainnya. Bantuin Mamah urus cucu-cucu yang segunung itu. Memang, kau mau usaha apa? Mamah bukakan, hasil silahkan buat kau, buat orang tua kau. Yang penting, jangan pergi dari jangkauan papah sama Mamah." mamah Dinda menyentuh lenganku.
"Mah....
...****************...
Baik banget ya Allah 🥺
Aku buronan mertua dan ipar 😣 dari tahun lalu gak pernah berkunjung lagi 😩 padahal cuma setengah jam perjalanan 😢 padahal gak jualin apa-apa, kek Nadya gitu 😣 eh jadi curhat 🤦
__ADS_1