
Papah Adi terkekeh kecil, "Bu, Givan memang anaknya begitu. Tapi dia ke adik sendiri itu malah menjaga. Ke Giska, ke Icut juga. Giska itu kek tak punya urat malu ke saudara laki-lakinya. Dari dada tumbuh sebesar biji salak, sampai sebesar mangga itu, dia santai aja gitu. Pakai kacamata wadah aja di dalam rumah, sampai SMA dia begitu. Sekarang punya suami pun, kalau lagi ASI-in anaknya, ya Zuhdi yang teriak-teriak suruh Giska tutupin atau ke kamar. Karena di blak-blakan aja gitu, pada menyusui di depan saudara laki-lakinya."
Yang jadi masalah, adalah Ria yang notabene adik ipar. Kalau Giska dan Icut, mereka dari kecil sudah satu rumah dengan mas Givan.
"Ya beda Pak, masa Ria disamakan Giska. Giska sih itu akan adik sekandung. Kalau Ria kan, Givan ini sifatnya ipar." benar kata ibu.
"Ya tinggal nanti tanyakan Rianya aja." ujar papah Adi.
Jika menanyakan, itu bisa saja sudah kejadian. Itu namanya bukan menjaga, tapi perihal bertanya saja.
"Malah pusing Ibu sih, Canda." ujar ibu dengan wajah murung.
Siapa yang tidak pusing, jika anak gadisnya dibawa oleh menantu yang cabul? Biarpun ibu tidak mengetahui seperti apa kecabulan mas Givan, tapi sepertinya ibu tahu bagaimana tabiat mas Givan.
Ditambah lagi, ia pergi tanpa jatah dariku. Hanya o**l satu kali saat itu saja. Sampai sekarang, mas Givan belum mendapat pelepasan kembali.
Aku jadi memikirkan, khawatir ia berani jajan di Kalimantan. Mamah Dinda memiliki kesibukan sendiri, beliau tidak akan memata-matai satu anaknya itu.
Satu malam berlalu. Ra merengek saja, karena lebih sering aku geletakkan di tempat tidur. Mau bagaimana lagi? Dia amat berat dan aku tidak kuat. Aku masih merasa nyeri, jika berusaha mengangkat tubuhnya. Masalahnya, Ra sudah menyentuh angka sepuluh kilo lebih. Ia seperti bayi raksasa yang amat besar. Pakaian saja, Ra lebih sering hanya menggunakan diapers. Membeli baju untuk Ra, rasanya percuma saja. Karena muat hanya beberapa hari saja.
Karena jarang bayi berukuran besar seperti ini. Pakaian pun, produser tidak melulu membuatkan ukuran raksasa.
Diapers saja, sampai ia memakai ukuran L. Ra benar-benar jumbo, aku pun baru melihat bayi seperti ini.
Kinasya pun mengatakan, bahwa kenaikan berat badannya akan melambat di usia satu tahun. Yang artinya, Ra mungkin akan memiliki berat stabil setelah ia berusia satu tahun.
Hingga siang hari ini, Ghifar muncul dengan geleng-geleng kepala.
"Anak kok dibiarkan aja nangis gitu, Canda?! Nanti dia bisa stress, tak mau ASI atau sufor. Bahaya loh." Ghifar nyelonong masuk ke dalam kamarku.
Aku sudah berusaha menenangkannya. Mengajaknya berbicara dan memberinya ASI.
"Aduh, anak Papa. Sama Papa yuk?" Ghifar mengangkat tubuh besar Ra.
Ghifar menimang Ra sebentar. Lalu kakinya melangkah ke luar kamar. Aku segera bangkit, kemudian mengikuti langkah Ghifar.
"Mau di bawa ke mana, Far?" tanyaku cepat, sebelum Ghifar membawanya jauh.
__ADS_1
"Ke depan, main ke studio. ia menjawab tanpa menoleh ke arahku.
"Ya, udah. Kalau Ra nyari ASI, tolong anterkan pulang dulu." seruku dari ambang pintu.
Sedangkan Ghifar, ia sudah turun dari teras dan mengenakan sandalnya.
"Biar nanti suruh jalan sendiri aja, Canda." sahutnya dengan terkekeh.
"Anterin, Far!" aku sedikit tegas.
"Iya, Canda. Aku ngerti." sahutnya dengan melangkah lurus menuju ke pagar rumah.
Ghifar tidak lewat dari pintu samping. Mungkin sengaja menghindari mata Kinasya.
Hingga satu jam kemudian, papah Adi pulang dengan menggendong Ra.
"Minta tolong ambilkan makan, Dek. Ibu Muna udah masak belum?" papah Adi selalu pulang untuk makan siang.
Itung-itung uangnya dikumpulkan, untuk pernikahan mereka. Itu bukan masalah untukku.
"Kau makan belum?" pertanyaan papah Adi terdengar cukup jauh.
"Udah, Pah. Mau nidurin Ra, terus aku juga mau tidur." aku juga sudah sholat dzuhur dan memerintahkan anak-anak sholat dan tidur siang juga.
Anak-anak sering tidak terkontrol, jika diminta untuk tidur siang. Padahal itu penting, untuk mengistirahatkan tubuh mereka.
Aku menyajikan sepiring makanan dan segelas air putih. Sayur daun kelor, juga dengan ikan laut. Aku banyak makan ikan, setelah melahirkan bayi Gembul ini.
Aku diminta untuk memakan ikan itu, agar otak Ra cerdas dan aku pun lekas pulih. Sebenarnya sudah pulih, hanya masih terasa nyeri saja sewaktu-waktu.
Ra dipindahkan ke kamarku oleh papah Adi, kemudian aku diminta untuk menidurkan Ra. Dengan papah Adi kembali ke ruang tamu, untuk menyantap hidangannya.
Kegiatan seperti ini, berlanjut sampai rombongan mas Givan kembali. Sayangnya, mereka bertiga kembali dengan orang baru. Yaitu, ibu Bilqis.
Ria yang sepertinya ditinggal di Kalimantan sendirian. Aku jadi khawatir pada anak itu, aku takut Ria tidak bisa mengurus dirinya sendiri.
Seperti yang iya kenal. Ra begitu girang, saat ayahnya berjalan menghampirinya yang berada di gendongan papah Adi. Tangan dan kakinya sampai menendang tidak beraturan. Suara celotehnya, seperti menuntut ayahnya untuk menghampirinya.
__ADS_1
Namun, selangkah sebelum mas Givan sampai di hadapan anak itu. Mas Givan menggeser posisinya, kemudian langsung memelukku.
Semua orang sampai tergelegak, saat Ra menangis lepas seketika itu juga. Ra cemburu pada ibunya sendiri.
"Mana Yayahnya, Ra?" tanya mamah Dinda, yang melangkah ke arah kami.
"Yayayayayaa....." bayi dua bulan itu, berusaha menggapai ayahnya.
Sedangkan mas Givan, sengaja sekali menggoda anaknya.
"Aduh, anak Yayah. Kasiannya, drama terus." mas Givan melepaskanku, kemudian beralih ke anaknya.
Suara Ra yang terdengar seperti kucing kawin itu, terdengar lepas saat ayahnya menggurauinya dengan menciuminya bertubi-tubi. Anak yang lain biasanya akan mengamuk karena risih, tetapi Ra malah sebaliknya
"Kangen ya, Ra?" aku menepuk punggung mas Givan pelan.
Mas Givan melirikku, kemudian menyunggingkan senyumnya.
"Ra apa Biyung yang kangen?" pertanyaannya membuatku malu sendiri.
"Apa sih, Mas?" aku terkekeh dengan bersembunyi di lengannya.
"Silahkan pada masuk, istirahat." ucap ibu, yang baru muncul dari dalam rumah.
Aduh, tadi aku meminta ibu untuk membantuku melipat pakaian. Apa hal ini akan terendus mas Givan? Karena ia kan tidak suka aku meminta bantuan orang tua. Mas Givan lebih suka hal itu belum aku kerjakan, daripada beres tapi orang tua ikut mengerjakan.
"Ayo masuk, Mah." aku menggandeng mamah Dinda.
Kami masuk berurutan, agar muat saat melewati pintu masuk. Setelahnya, kami duduk bersama di ruang tamu. Dengan Ra yang masih girang di dekapan ayahnya.
Ra rupanya sudah hafal jelas rupa dan bau ayahnya. Ditambah lagi, kami sering videocall bersama. Mas Givan sering mengajak Ra berkomunikasi, meski bahasa Ra tidak dimengerti.
"Ini Bilqis udah selesai, Bang. Selanjutnya gimana? Abang nikahin siapa?"
Papah Adi diberikan pilihan? Aku kira, lepas surat cerai disobek itu. Mereka sudah memutuskan akan bersama kembali.
...****************...
__ADS_1