
Hanya bang Daeng, yang membuatku biasa saja dengan Ghifar.
Namun, status mantan istri yang tersemat di statusku dengan mas Givan. Membuatku merasa, bahwa mas Givan seperti sosok kakak yang baik. Aku sering mengadu padanya, meski sarannya begitu pro seperti kehidupan bebasnya.
Untuk sekarang, hatiku bagaimana?
Entahlah.
Aku merasa terkagum-kagum melihat sosok bang Ardi.
Teuku Ryan versi hitam manis, ia memiliki hubungan denganku. Bagaimana aku tidak kesengsem dan bangga?
Entah perasaanku untuk siapa. Karena, setiap kali melihat wajah sendu bang Daeng. Aku merasa sangat bersalah, aku merasa begitu egois.
Tapi, jika mengingat segala kesalahannya. Termasuk kebohongan yang ia beri, aku begitu sakit hati. Aku merasa ditipu olehnya.
Aku tidak keberatan, jika ia mengaku bahwa sudah memiliki anak dengan perempuan lain. Toh, aku pun memiliki anak dengan suami lamaku.
Sudahlah, aku ingin fokus pada bang Ardi saja sekarang.
"Ngelamunin apa, Dek?" ia melingkarkan tangannya di pinggangku.
Cup....
Ia mengecup pipi sebelah kananku.
Aku memegangi pipiku, lalu melirik padanya. Ternyata, cerongo juga laki-laki ini.
__ADS_1
"Abu jangan kek kemarin lagi. Aku galau terus, tau tak?" aku memanyunkan bibirku.
Namun, ia malah menyambar bibirku yang mengerucut ini. Ia sampai mencekal rahangku. Tanpa jijik, ia mengabsen gigiku dengan na*sunya.
Aku memukul dadanya, "Bang....." aku mencoba bersuara.
Tetapi, l*dah kami yang malah membelit.
Aku ingat cara bergurau mamah Dinda dengan suaminya. Sedikit ekstrim memang. Dengan cepat, aku meremas kepala keduanya yang terlapisi wearpack berwarna hijau itu.
"Akhhhh....." ia mengaduh, dengan memegangi tengah-tengah tubuhnya itu.
Ia langsung melirikku tajam. Aku hanya bisa memberikan cengiran tanpa dosa padanya.
"Awas aja!!!" ia memberi ancaman dengan nada menggerutu.
"Apa?" aku bertolak pinggang.
Aku tertawa lepas. Aku begitu puas melihat wajah kecutnya itu.
"Tuh, Dek. Biyung nakal." bang Ardi malah mengadu pada Ceysa.
Aku menoleh pada Ceysa. Anak itu tengah anteng seolah menyantap hasil masakannya sendiri.
Aku berbalik memperhatikan bang Ardi.
Aku menepuk pahanya, "Sana kerja! Udah jam setengah delapan."
__ADS_1
Tidak terasa, waktu cepat berlalu bersamanya. Tadi, saat aku bersama dengan Ceysa. Jam masih menunjukkan setengah tujuh saja.
"Nanti, Dek. Lima belas menit lagi." tangannya merangkul pundakku, satu tangannya lagi berada di perutku.
Seperti dejavu, aku teringat ketika bang Daeng sering melakukan hal ini. Ia suka sekali mengusap-usap perutku, meski waktu itu aku aku belum mengandung.
Aku menyentuh tangannya, kemudian aku menoleh pada laki-laki ini dengan wajah datarku.
"Jangan aneh-aneh! Ceysa masih ASI. Jangan buat aku kek sapi perah."
Tangannya seketika enyah dari atas perutku. Tawanya begitu lepas membahana.
"Katanya... Lagi pada ke Lhokseumawe ya?" ia masih merangkulku, tangannya mengusap-usap bahuku.
"Iya." aku menoleh pada Ceysa kembali. Anak itu tengah menambahkan kerupuk, sisa pelengkap bubur ayam yang ia makan tadi pagi.
Ia menaruh kerupuk itu di atas penggorengan mini, lalu penggorengan itu ia taruh di atas kompor. Ia seolah tengah memasak kerupuk itu.
"Sepi dong. Abang main ah nanti malem, mau latihan dulu. Biar pas ujian praktek, Abang udah bisa."
Aku menoleh cepat. Ia malah tengah cengengesan, dengan pandangan tertuju pada tembok yang kosong.
Pasti ia tengah membayangkan yang bukan-bukan.
"Jangan sampai kena grebek, Bang. Bukan kita aja yang malu, tapi orang tua kita juga." ucapku kemudian.
Ia melirik ke arahku. Ia mengedipkan sebelah matanya begitu genit, "Kan.....
__ADS_1
...****************...
Nanti malam abu Ardi main gak ya 🤔 gak sabar liat mereka tes drive 😌 ehh ðŸ¤