Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD87. Masa otot


__ADS_3

"Laki-laki tuh mikir Dek ke situnya. Kalau Abang gak pandai rawat istri, udah itu istri kek daster seratus ribu enam biji. Tipis, longgar dan nyaman, Tipis, karena istri kurang makan. Longgar, karena melahirkan dan gak mampu rawatnya. Nyaman memang nyaman, karena sadar bahwa kita sendiri yang milih." lanjutnya dengan memijat pelipisnya.


Benarkah ada laki-laki yang memikirkan ini semua untuk istrinya?


"Apa?" bang Daeng begitu ketus, saat aku bergelayut manja di lengannya.


"Aku dulu waktu mabok laki-laki, sampai ngomong buat nanti kita jadi peternak aja. Waktu itu doi OB di rumah sakit, krisis betul keuangannya. Support finansialnya aku habis-habisan. Belanja bulanan, aku yang nambahin. Karena dia cuma ada budget dua ratus ribu, buat kebutuhan dapurnya sendiri." ucapku kemudian.


"Terus??? Masa ada laki-laki yang cinta sama kau gini, dia mabok kau gini. Kau malah mau timbal balik morotin Gue? Karena kau dulu diporotin OB rumah sakit itu? Ishh, tidak bisa! Semua ada timbal baliknya!"


"Awwww...." tubuhku melayang dalam dekapannya.


Aku mengalungkan tanganku ke lehernya, aku takut ia tidak kuat menahan berat tubuhku.


"Aku gempita, Bang."


Namun, ucapanku barusan membuat moodku seketika memburuk. Aku pernah mengatakan hal yang sama. Lebih parahnya, orang tersebut malah mengatakan bahwa berapa harga persatu kilo bobot tubuhku.


"Bondeng ini! Gempita, Gisel, lewaaaatttt...." ucapnya dengan semangat.

__ADS_1


Lalu, bang Daeng menurunkanku di atas tempat tidur.


"Adek...."


Aku hanya meliriknya malas, karena moodku benar-benar kacau sekarang.


"Mood aku lagi buruk lah, Bang. Salah ngomong tadi, bikin inget aja." aku membelakanginya dengan memeluk bantal.


Sejauh ini aku berpindah-pindah hotel. Aku tak pernah menemukan bantal guling. Aku hanya mendapat empat bantal berukuran cukup besar, dalam satu ranjang king size ini.


"Kenapa sih?" bang Lendra merebahkan tubuhnya di belakangku, tangan isengnya mulai beraksi. Telapak tangannya merambat dari pahaku, hingga berhenti pada pinggangku.


"Ini keknya masa otot ya, Dek? Soalnya pas kemarin itu, rasanya kok ini bukan lemak." tangan bang Daeng malah mencengkram part belakangku.


Aku menarik tangannya, lalu menempatkan di pinggangku lagi. Ini lebih aman, dari pada tangannya bertengger di part belakangku.


Aku membalikkan tubuhku, agar berhadapan dengannya.


"Aku dulu rutin squat sebelum hamil, kira-kira tiga tahun lah. Terus lepas empat minggu setelah melahirkan juga, dipaksa suruh latihan squat sama neneknya Chandra. Aku dulu selalu squat, weighted, plyometrik, rotation, archer push up. Main chair dips dan plank juga. Ada kegel, sama yoga juga. Tapi itu bener-bener tinggal semua, lepas neneknya Chandra pindah ke Brasil." aku selalu ikut serta jika mamah Dinda olahraga.

__ADS_1


"Wuih, pantas aja." matanya terlihat berbinar tidak percaya.


"Aku mulai lagi pas iddah kemarin. Tapi pas kerja ikut Abang, jadi males gerak lagi." akuku jujur.


"Yuk ke tempat gym, cari keringat." ia begitu semangat dan bergegas.


"Aku belum ada baju sama sepatunya." aku bangkit dan masih duduk di atas tempat tidur ini.


"Ya ayo, beli dulu sama Abang."


Ucapan seperti itu, mampu mengukir senyumku begitu lebar.


"Ya, Bang. Siap-siap dulu." aku bergegas mempersiapkan diri.


Bukannya aku matre. Namun, perhatian kecil seperti ini tak pernah aku dapatkan sebelumnya.


...****************...


Haus kasih sayang dan perhatian kecil

__ADS_1


__ADS_2