Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD370. Butuh


__ADS_3

"Canda...." suara itu mengganggu kenyamananku.


Pasti, mas Givan meminta haknya. Itu juga, merupakan kewajibanku.


"Canda...."


Cup....


Bibirnya yang begitu dingin, menyentuh pipi bagian kiriku.


Aku langsung meluruskan punggungku, lalu menghadap wajah mas Givan yang tengah duduk di pinggiran ranjang.


"Makan sih."


Sebentar, makan memiliki banyak makna dalam ruang lingkup yang luas.


"Makan apa, Mas?" tanyaku kemudian.


Sebenarnya, jantungku sudah berdegup tidak karuan.


"Ceplok telor tak apa, jangan mie. Aku makan siang tadi jam tiga, makan mie cup lagi. Aku tak mau makan mie lagi."


Ok, aku mengerti. Padahal sudah deg-degan tadi.


"Aku masak kerang darah kupas, Mas. Udah dimasukkan ke kulkas sih. Tapi bisa aku angetin lagi." aku memilih untuk duduk sejenak di kepala ranjang.


"Ya udah tak apa, gih angetin. Apa mau aku temani?"


Kapan lagi coba mas Givan waras?


"Iya, Mas. Ditemani." aku langsung menurunkan kakiku ke ranjang.


Kemudian, aku melangkah lebih dulu ke dapur.


Bermesraan, memelukku dari belakang mungkin ya?


Ya, aku bisa mulai dari situ sepertinya. Hal yang tidak pernah kami lakukan dulu.


"Dimasak apa, Canda?"


Aku tengah mengeluarkan hasil masakanku tadi pagi yang belum habis.


"Dibumbu merah gitu. Cuma cabe merah, bawang putih banyak aja." aku menunjuknya lebih dulu ke mas Givan, sebelum menggorengnya.


"Ya udah, diangetin aja." aku bisa melihatnya tengah mengambil nasi.


Aku sudah fokus dengan kompor. Sedikit menambah air, pada masakanku juga. Karena mas Givan menyukai masakan yang sedikit berkuah.


"Mas aku jangan dipanggil Canda, tak enak aku dengar di telinga. Mas juga jangan panggil Mas pakai aku, tak enak didengar telinga orang.


"Terus apa? Cendol gitu?" suara itu mendekat ke arahku.

__ADS_1


Aku terkekeh geli, "Kek Ghifar ke istrinya gitu loh, yang-yangan." ujarku kemudian.


Mas Givan pun ikut tertawa, "Aku tak pernah yang-yangin perempuan. Paling banter itu dek, itu pun mulut tak latah."


Mas Givan berdiri di sampingku.


Bolehkah aku mengharapkan pelukan suamiku? Seperti di novel-novel pada umumnya?


Tapi, sayangnya novel ini tak umum.


"Tak apa dipanggil adek juga." ujarku dengan menoleh ke arahnya sekilas.


"Aku yang tak mau, malah inget Fira." saat mengatakan itu, urat wajahnya datar.


Aku meliriknya sekilas, lalu mematikan kompor.


Fira ibu kandungnya Key.


Banyak rahasia dalam diri mas Givan, yang tidak pernah aku ketahui. Andai saja bisa banyak mengobrol dengannya, seperti bang Daeng.


Aku tidak tahu alasannya meninggalkan ibunya Key, sampai-sampai ia pun enggan memiliki hubungan lagi dengan ibunya key, saat dirinya duda kemarin. Padahal, aku mendukung hal itu kemarin. Sayangnya, ia yang tak mau dengan alasan sudah pernah.


Tentu itu bukanlah alasan yang jelas.


"Udah nih, Mas." aku memindahkan ke piring kembali.


Ia masih berdiri di sampingku.


Aku menunaikan segala perintahnya. Sekarang, aku tengah menemaninya bersantap.


"Gih tidur." ia seperti risih dengan aku yang memperhatikannya terus menerus.


"Mas udah tak butuh aku lagi?"


Ia mendelik cepat, "Butuh, makanya dinikahin. Cuma sekarang, suamimu nyuruh kau istirahat. Besok pagi kau harus bangun pagi, kita mau jalan-jalan ke car free day. Paham tak, Canda?! Ngomong tuh, butuh aku tak. Mentang-mentang lama tak dipakai, udah ngaco aja."


Aku salah kah dalam bertanya?


"Ya udah, aku tidur dulu ya Mas?" aku bangkit dari dudukku.


"Iya, subuh bangun. Subuhan! Biar tak berat beban aku di akhirat." mas Givan masih menikmati makanannya.


"Ya, Mas."


Aku akui, aku kurang dalam beribadah sejak lepas dari ikatannya. Hanya mas Givan, yang mampu membawa agamaku lebih dekat. Meski dengan paksaan dan bentakannya, yang membuatku rutin sholat tepat waktu.


Aku memilih untuk berbaring di sebelah Ceysa lagi. Biar saja mas Givan yang tidur di kasur angin satunya lagi, yang berada di sebelah kasur Key.


Seperti inilah suasana kamar dengan banyak anak. Banyak kasur seperti tempat pengungsian.


~

__ADS_1


Mas Givan masih sibuk saja, meski ini hari minggu. Kini ia kedatangan tamunya bang Daeng, yang bertugas untuk mengurus segala dokumennya bang Daeng.


Aku ingin banyak mengobrol bersamanya. Tapi dengan keadaannya yang repot seperti ini, ia pasti akan mengamuk jika aku menanyakan banyak hal.


"Bentar ya, Dek?" mas Givan masuk ke dalam ruko, membiarkanku sendirian di teras ruko ini bersama anak-anak.


Usaha galon masih lancar, hanya saja kini Ria berjualan pop ice dengan toping yang menarik juga.


Sepertinya, mas Givan akan memiliki kepentingan dengan ibu. Sampai-sampai, ia ngeloyor begitu saja. Karena biasanya kan, ia tidak mau turun tangan sendiri. Jika menyampaikan sesuatu atau berpesan pada ibu, mas Givan pasti akan menggunakan jasaku.


Ia pasti memintaku, untuk berbicara pada ibu dan mengatakan tentang segala maksud dan tujuan mas Givan.


Car free day pagi tadi berjalan lancar, dengan semua anak-anak yang merasa bahagia. Mereka mendapat barang impiannya, termasuk Ceysa juga. Ceysa begitu girang, saat menguyah es s*su ketan boba itu.


Permintaan yang sederhana, tetapi membuatnya begitu bahagia.


Tidak luput dengan Zio juga. Anak itu tengah menggandrungi puzzle, yang memiliki bentuk segitiga dan persegi.


Keminatan Zio dan Chandra tidak beda jauh, mereka menggunakan otaknya dalam permainannya. Chandra dengan balok susunnya, Zio dengan puzzlenya. Jika sudah memiliki proyek dengan mainan mereka, Zio dan Chandra anteng dan tidak mau diganggu.


Ya, persis seperti ayahnya.


Tetapi tidak berlaku dengan Key. Anak itu masih hiper aktif saja, Key lebih suka berlarian ke sana ke mari seperti kupu-kupu yang terbang bebas.


Yang membedakan Chandra dan Zio adalah satu. Chandra yang tukang emosi, dengan Zio yang tukang membatin. Ia tidak menangis seperti Chandra, atau melapor seperti Chandra. Tapi Zio akan diam tertunduk, dengan matanya yang melirik ke orang yang membuat dongkol hatinya.


Sejak bayi sampai sekarang, aku selalu memperhatikan kebiasaan Zio yang satu itu.


Jika cengeng, ya memang Chandra masih cengeng dan baperan saja.


Mas Givan muncul, dengan mengipas-ngipasi wajahnya dengan dokumen. Sepertinya, ia masih mengobrol dengan ibu yang mengikutinya.


"Ya, Bu. Nanti aja, Bu. Lusa atau kapan kalau Zio. Aku mau jebol perawan dulu soalnya, Bu. Ini aja bingung anak-anak mau dititipkan siapa."


Bukan hanya ibu yang tertawa lepas, tapi para tukang galon yang tengah sibuk beraktivitas.


Memalukan aku saja mas Givan ini.


Eh, tunggu dulu. Perawan? Aduh, bagaimana ini? Aku tidak percaya diri. Apalagi, setelah melahirkan Ceysa aku benar-benar tidak merawat intiku sama sekali.


Aku khawatir mas Givan mengeluarkan lagi kata-kata mutiaranya. Aku tidak siap mendengar kala ia mengatakan, 'Kok tak gigit.' Pasti aku langsung menangis saat itu juga.


Apalagi, mas Givan tidak seperti bang Daeng. Mas Givan tidak tahu merawat wanitanya, ia hanya tahu cara menggunakan wanitanya dengan benar.


"Nih...." mas Givan menyodorkan sebuah map padaku.


Apa ini? Apa perjanjian pernikahan? Seperti yang tengah viral.


...****************...


Kok kaku hati sendiri author dengan Canda 😆

__ADS_1


__ADS_2