Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD202. Tidak akur


__ADS_3

"Heh... Ngurus gimana? Aku Ayah, tugas aku kerja lah. Kurang ataupun lebihnya, nyatanya aku udah berusaha buat hidupin dia. Capek tau kerja kasaran, di rumah itu waktunya istirahat, bukan urusin lagi tugas rumah yang terbengkalai. Memang kau, enak langsung dapat pabrik, tinggal lanjutin tanpa merintis."


Setiap laki-laki memiliki pemikiran yang berbeda.


Ditambah lagi, mas Givan seperti merasa dirinya penuh perjuangan. Sedangkan, Ghifar hanya melanjutkan.


"Apa? Mau mentokin ke Papah lagi? Papah juga di rumah tak pegang kerjaan rumah, itu tugas Mamah. Masanya aku sadar anak aku banyak dan masih kecil-kecil juga, naluri laki-laki pasti turun tangan buat bantu. Nah, nyatanya kan Canda kemarin bisa handle sendiri." lanjut mas Givan dengan nada nyolot.


"Terserah kau lah, Bang. Rupanya, kau lebih senang liat anak kau berantem nangis, terus liat istri kau kelaparan sampai gemetaran."


Mereka sepertinya punya dendam masa lalu. Mereka terlihat tidak akur, jika sudah ada masalah sedikit saja.


"Udah! Kenapa sih?!" mamah Dinda meraup wajah Ghifar.


"Aku didzolimi terus, Mah." Ghifar menghadap ibunya. Nada suaranya terdengar begitu memelas.


"Kau yang dzholim. Kakak ipar kau mau dirujukin, kau malah gaulin. Dendam betul rupanya." mas Givan melemparkan bekas kantong kresek yang dir*mas pada Ghifar.


Ghifar menoleh pada kakaknya, wajah jahilnya terpasang sempurna.


"Sayangnya, tak ada yang nandinging kau dalam hal selingkuh. Aku ingat istri terus, mau jahat tak bisa. Mana pusaka tak mendukung lagi. Malu sendiri asli aku, Bang." Ghifar terkekeh renyah.


"Abang tipe orang setia, tak bisa Abang selingkuh hati. Itu Nadya cuma khilaf, bukan Abang selingkuh." elak mas Givan.

__ADS_1


"Ya udah, sana pada membela diri." ujar mamah Dinda kemudian.


"Aku tak membela, Ma. Aku memang ranting yang kering."


Tawa samar menyertai kami.


"Pah... Serius nih. Aku bangun yang di atas, toko Canda, rumah Bang Ghifar, bang Ghava sama bang Ghavi cover sendiri." Zuhdi mulai membuka obrolan serius.


"Ya, lah. Ghifar, Ghava, Ghavi kau cover juga. Giska nanti makan apa?!" sahut papah.


"Ke kamar aja yuk. Nih dibawa makanannya. Sini, anak-anak juga Mamah bawa masuk." mamah Dinda mengangkat Kaf sekaligus kasurnya.


Aku mengangguk, lalu mendekap Chandra dalam gendonganku. Uhh, akhirnya aku bisa sepuasnya memandang wajah Chandra. Entah apa dunia yang ia gemari sekarang. Ia benar-benar tidak suka digendong.


Ya, kami memilih kamar Giska untuk berkumpul.


"Memang betul udah bersuami lagi, Canda?" tanya Giska dengan menaruh anaknya pelan di atas tempat tidur.


"Udah." aku mengutak-atik ponselku.


Sayangnya, memang kami tidak pernah berfoto. Hanya bang Daeng yang rajin memfoto diriku, tidak dengan diriku.


"Entar deh, aku coba cari sosial medianya." aku masih mencoba menemukan sosial media milik bang Daeng.

__ADS_1


Aku teringat, aku pernah memblokir akunnya. Setelah terbuka, aku segera mengetikan nama yang sama dengan yang aku blokir tadi.


Lama aku mencari, sampai akhirnya aku mengetikkan namanya beberapa kali.


Nihil.


Sosial medianya lenyap.


Jalan satu-satunya, hanya mengintip sosial media milik Putri. Sayangnya, akun Putri adalah akun private.


"Mah... Kemungkinan tuh apa yang terjadi sama Lendra? Awalnya, dia masih hubungi aku lepas turun dari pesawat. Dia pun pap lobi hotel, masa dia ambil kunci kamar." aku menjeda ceritaku.


"Nah... Terus dia itu tiba-tiba tak aktif, sampai lamanya satu minggu. Hingga akhirnya aku tau, kalau dia tunangan di sana. Aku milih pergi dari kosnya, terus ganti nomor HP. Sekarang, sosial medianya pun hilang. Dia tak ada kabar. Bahkan, kak Anisa pun sampai bingung mau bayar hutang. Soalnya, Lendra kek hilang gitu aja. Padahal, di sosial media tunangannya itu sering upload foto bareng."


Aku malah berpikir, bahwa bang Daeng disekap oleh keluarga bos walet itu. Tapi jika dipikir secara sehat, memang bang Daeng ini siapa? Dia bukanlah bos, dia juga bukan orang penting. Tidak sampai di pikiranku, bahwa bang Daeng disekap hanya untuk status pertunangan.


Bang Daeng bukanlah wanita, apa lagi bidadari tercantik yang orang-orang pasti akan berlomba meminangnya. Ini sangat aneh menurutku.


Tapi apa motif bang Daeng hilang kabar, lalu bertunangan seperti ini?


...****************...


Aku juga pusing, Canda. Udah hampir nyerah rasanya 😭

__ADS_1


__ADS_2