
"Sana balik kau, Far!" suara mas Givan begitu lepas.
"Eh, sombongnya kau!" Ghifar terkekeh, dengan menepuk dada suamiku.
Mereka berhadapan sekarang.
"Pergi! Bawa papah kau!"
Hilang senyum di wajah Ghifar. Wajahnya langsung kaku, mendapat pengusiran dari kakaknya itu.
"Bang.... Aku pikir kita masih keluarga?" suara lirihnya begitu kecewa.
Aku menarik kaos Ghifar. Semoga Ghifar mengerti akan isyaratku, karena sebaiknya ia membawa pulang papah Adi dulu. Mas Givan susah dijinakkan dan diberi pengertian.
Aku akan mengajaknya mengobrol, setelah aku menservisnya. Karena waktu-waktu itu, di mana mas Givan begitu jinak dan mengerti akan orang lain.
Ghifar mundur satu langkah. Ia melirikku sekilas, kemudian ia mengangguk samar.
"Ayo kita balik dulu, Pah." ujar Ghifar, dengan berbalik badan dan berjalan ke arah sofa tempat papah Adi duduk.
Aku bisa melihat mamah Dinda dan suaminya saling memandang. Pasti, mereka dibuat kaget dengan pengusiran yang mas Givan lakukan.
Aku hanya bisa melihat mereka berdua yang membuka dan menutup pintu sendiri. Lalu, aku memandang suamiku yang masih cosplay menjadi laki-laki jahat ala Indosiar.
Tanpa sepatah katapun, aku memilih untuk mendekapnya. Aku bisa mendengar detak jantungnya yang begitu cepat, dengan tarikan nafasnya yang memburu. Emosinya masih tidak stabil.
"Bang.... Pause lama betul sih!" seru Mavendra.
"Awas, Canda!" perintahnya lirih.
__ADS_1
Aku mengangguk, kemudian melepaskan pelukanku padanya. Aku membiarkannya kembali ke ruang keluarga, untuk bermain game dan bersenda gurau dengan saudara. Berharap, amarahnya hilang dengan sendirinya.
"Mah...." aku berjalan ke arah beliau.
"Apa, Canda?" mamah masih terlihat santai saja.
Padahal, tragedi suaminya diusir anaknya baru saja terjadi.
"Mah.... Mamah maunya gimana sih? Kok tak ngeladenin papah tadi?" aku duduk di samping beliau, dengan langsung mengganjal pinggangku dengan bantal sofa.
"Maunya papah jujur, biar Mamah bisa ambil keputusan untuk bertahan atau milih menua sendiri."
Aku memperhatikan beliau yang masih sibuk mengetik itu, "Tapi kemarin Mamah bilang bagaimana papah aja. Papah tuh masih nanyain Mamah aja tau, Mah." aku menyangga kepalaku dengan tangan kananku, yang sikunya menjadi tumpuannya.
"Ya iya, sama aja." mamah Dinda menghela nafasnya dengan menoleh ke arahku, "Dengan dia masih ada komunikasi sama Bilqis, berarti kan memang ada jalan untuk mereka bersama. Mamah tak akan halangi, silahkan aja. Tinggal ceraikan Mamah silahkan, karena Mamah tak mau proses. Terus urus juga harta gono-gini, Mamah tak mau usaha Mamah selama ini sia-sia. Itung-itung, buat bekal hari tua Mamah."
Aku manggut-manggut, "Dengan Mamah tak mau diceraikan, berarti Mamah ada niat bertahan dong?"
"Mamah tak bertahan juga, buktinya Mamah pergi. Mamah cuma jalani kehidupan Mamah. Suami ngaku, sadar, minta maaf, ya Mamah mungkin akan pikirkan. Suami milih pisah, ganti pendamping hidup, ya Mamah coba ngerti keadaan, bahwa kebutuhan papah itu udah bukan Mamah lagi." di akhir kalimatnya, suaranya bergetar.
Pasti begitu sulit, memutuskan keputusan yang seperti ini. Harus kuat hati, harus lebar sabar.
"Kenapa Mamah bisa ngambil pilihan yang kek gini?" aku mengusap air mataku sendiri, karena tidak sanggup membayangkan jadi seorang mamah Dinda.
Dulu aku kabur dari suami, tetapi aku dipungut dan ditampung oleh orang-orang baik. Bukan berdiri sendiri seperti mamah Dinda. Ada anaknya pun, mas Givan malah meminta hutang pada ibunya yang tengah kesulitan ini.
"Dari dulu Mamah gini, Mamah memang kek gini ambil keputusan. Tanya papah Hendra, apa ada dulu Mamah minta cerai, waktu dia ketahuan hamilin perempuan? Mamah sekarang juga tak minta cerai, cuma ya silahkan diproses gitu." mamah Dinda menggeleng berulang, "Tak ada tuh Mamah minta cerai. Bahkan Mamah tau kondisi kehamilan perempuan itu lebih dulu, sebelum kebenaran itu terungkap. Mamah pakai cara Mamah sendiri, ulur-ulur perceraian, dengan pindah ke Lhokseumawe. Sampai akhirnya, perempuan dan keluarganya itu malu sendiri, karena anak gadisnya itu mau aja dihamili pria beristri. Sisi egois Mamah saat itu, malah ngajak papah Hendra kabur ke Lhokseumawe. Biar papah Hendra lepas tanggung jawab, biar tentram sama Mamah. Meski Mamah akhirnya ngalah juga, tapi Mamah puas tengok mereka dan keluarganya malu, belum lagi hidup dalam kemalangan terus. Mungkin, keadaan yang bikin Mamah jadi setega ini."
Padahal beliau sadar, bahwa dirinya tega.
__ADS_1
"Dulu tuh, papah tak berani gini ke Mamah. Sadar diri, mungkin memang udah tua. Ya wajar, suami cari yang sepuluh tahun lebih muda. Bahkan, waktu dirinya beristri dua aja. Papah itu tak pernah tiduri si istri keduanya. Tapi Mamah terlanjur sakit hati karena kebohongannya. Belum lagi, karena tak diakui. Ditambah lagi, Mamah dibatasi dengan dunia luar. Ngerasa bener-bener kek budak cinta gitu loh. Gara-gara rasa cinta Mamah ke papah waktu itu, bahkan rela gitu nampak bodoh bak perempuan yang tak pernah dapat pengalaman hidup." tambah beliau kemudian.
Pengalaman hidupku belum seberapa, dibandingkan dengan pengalaman beliau. Mas Givan pun, tidak sepenuhnya bersalah saat tragedi reuni dulu. Tapi aku begitu egoisnya, sampai meninggalkan suamiku.
Sekalipun mamah Dinda egois. Ia juga memikirkan bagaimana caranya membuat pasangan kapok.
"Kenapa kok harus gitu ditabrak, dilukai laki-lakinya?" ini adalah pertanyaan yang membuatku bingung sendiri.
"Karena buktinya ada, gitu loh. Dilukai gimana? Dulu kah? Waktu Mamah pukul papah pakai botol beling?"
Aku melongo, aku kaget mendengar tindak kriminal mamah Dinda. Pantas saja mas Givan begitu tempramen, ternyata ibunya seperti ini.
Aku mengangguk, untuk menjawabnya.
"Karena dulu reflek aja. Dimadu diam-diam itu rasanya kek masak telor di atas dada. Telor bisa mateng, karena panasnya hati. Belum lagi di situ ibunya papah ngenalin istri keduanya ke Mamah. Kau bayangkan aja jadi Mamah."
Pasti rohku langsung keluar saat itu juga.
"Mah, tips jadi wonder woman dong." aku menyentuh tangannya, yang berada di atas bantal sofa.
Namun, mamah Dinda malah tertawa lepas.
Hebat sekali. Dengan keadaan pikiran seperti ini, mamah Dinda bisa tertawa lepas.
"Tak ada yang perlu dicontoh. Manusiawi, banyak buruknya. Tapi Mamah dari muda, memang patah hati, nangis, kecewa, marah, pokoknya masalah perasaan itu, akhirnya pasti nangis. Nangis itu tak ada jeda kalau Mamah. Nangis terus, lap air mata, terus pipis, ingat lagi, nangis lagi. Tak ada kegiatan makan, makanya bisa drop. Nangis ini, paling satu hari. Kegiatannya ya hanya menyendiri, mencoba menghibur diri sendiri. Paling lama itu dua hari, tiga hari lah, Mamah udah bisa atur pikiran dan bisa beraktivitas seperti biasa lagi. Hari selanjutnya, kek ngerasa lebih kuat sendiri aja. Intinya gini aja deh, introspeksi diri. Misal contohnya Givan selingkuh nih. Contoh aja, bukan betulan. Kita perhatikan nih, apa yang jadi harapannya pada kita, tapi ia dapatkan di selingkuhannya. Kalau jawabannya udah ketemu, ya udah kita nangis. Jangan lebih dari tiga hari beban pikiran tentang masalah ini, jangan sampai bikin badan sakit. Tapi Mamah malah biasanya sehari aja udah sakit, asam lambung naik, tensi darah langsung turun. Sambil penyembuhan sakit, sambil kita pikirkan jalan keluarnya. Misal karena kita tak bisa masak nih, makanya Givan selingkuh. Setelah sembuh sakit, kau nazar harus bisa belajar masak. PERBAIKI KUALITAS DIRIMU SENDIRI. Masalah ditinggalkan atau dipertahankan, itu biar jalan dengan sendirinya. Kau tak perlu terlalu memikirkan, kau tak perlu mengharapkan. Karena, kita bakal lebih kecewa dan lebih sakit hati." mamah Dinda sampai memperjelas kalimat yang begitu bijak itu.
"Saat masanya kita udah jadi yang terbaik, dia akan nyesel dengan sendirinya." lanjutnya kemudian.
Aku ingin bertepuk tangan dan tersenyum. Sayangnya, aku malah terharu tidak jelas.
__ADS_1
Mood hamil membuatku semakin aneh.
...****************...