Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD194. Kang Tisna


__ADS_3

"Ya udah deh. Aku ambil uang dulu, Mah." aku sebenarnya malas naik turun tangga.


"Haduh...." mamah Dinda menarik lengan bajuku.


"Tak usah lah, Mamah ada uang. Tambah malam nanti. Perjalanan lima menit, nanti lama debatnya aja."


Aku mengangguk, lalu berjalan mengikuti tarikan tangan beliau. Mamah Dinda butuh teman, sedangkan aku butuh jajan. Klop sudah.


"Mana ya sandal Mamah?"


Aku sudah siap dengan sandal jepitku, tetapi mamah Dinda yang tengah mencari-cari keberadaan sandalnya.


Tin....


Lampu motor menyorot masuk. Kemudian, dua motor mengikuti motor yang paling depan.


Mamah Dinda menepuk jidatnya, "Apes!" gerutunya, membuatku tertawa dengan menutup mulutku.


"Ketawa lagi kau!" aku mendapat lirikan tajam, dengan lengan baju yang mamah tarik.


"Assalamualaikum... Nenek. Hadi mau nginep." Giska terlihat begitu ceria, meski kulit wajahnya masih terlihat mengelupas karena perawatan tersebut.


"Ck... Besok aja lah." sahut mamah Dinda terdengar malas.


"Heh!!!" seru papah Adi, membuat mamah Dinda tersenyum kuda.

__ADS_1


"Mau ke mana itu? Hawa-hawa mau keluar ya?" papah Adi berjalan ke arah teras rumah yang kami pijak.


"Itu Bang, Canda minta jajan." mamah Dinda memberiku kode dari lirikan matanya.


"Malam loh, Dek. Jajan apa sih?" papah Adi memandangku.


"Itu katanya, Bang. Mau jajan ke tante Shasha." mamah Dinda memberi alasan lagi.


"Hmm... Van, Van." papah Adi melambaikan tangannya.


"Jangan dimasukin dulu motornya. Antar dulu ke tante Shasha. Jangan mampir-mampir! Cepatlah! Obrolan kita belum rampung." papah Adi menggiring istri dan anak perempuannya masuk.


Gelak tawa Zuhdi terdengar samar, "Sikat...." ujarnya dengan memutar stang motornya.


Ia tengah memarkirkan kendaraannya, hendak masuk ke dalam bagasi mobil yang berada di samping kamar tamu.


Dengan gudang makanan berada di lantai atas. Aku jadi berpikir bahwa penghuni rumah takut stok makanannya dijual oleh Nadya.


"Ayo, Canda."


Lamunanku buyar. Melihat laki-laki ganteng yang sudah bersiap di atas kendaraan, hasil penjualan maharku dulu.


"Aku tak bawa uang. Bentar deh." aku melepaskan sandalku kembali.


"Hei... Canda. Jajan aja kan?"

__ADS_1


Aku menoleh cepat, lalu mengangguk kepalaku berulang.


"Ya udah ayo." ia menepuk jok di belakang motornya.


"Memang punya uang?" aku memakai sandalku kembali dengan ragu-ragu.


"Ck... Ngeledek betul. Sepuluh ribu, dua puluh ribu sih ada kali."


Kini aku sudah berada di dekatnya, "Kurang lah. Jajan aku banyak." aku takut kurang untuk membayar jajanan, jika mas Givan hanya memiliki uang dua puluh ribu.


Helaan nafasnya begitu berat, lalu ia melirikku tajam.


"Jangankan buat jajanin kau makanan. Jajan perawan pun aku mampu." ketusnya kemudian.


Aku tertawa renyah, lalu menepuk pundaknya. Aku lupa, jika ia paling tidak suka jika harga dirinya diinjak-injak. Pasti ia tersinggung, saat aku mengatakan hal tadi. Pasti ia berpikir, bahwa aku menyepelekan isi kantongnya.


"Ya udah ayo jalan, Bang. Ke pasar sepuluh ribu kan, Bang?" aku sudah nangkring di atas jok motornya.


"Berangkat...." ucapnya membuat tawaku pecah.


Ada-ada saja. Segala ia menirukan suara kang Tisna.


Motor yang kami naiki berjalan perlahan. Bau khas mas Givan, begitu mengingatkanku saat masa-masa kita dulu.


"VAN.... KE MANA KAU?"

__ADS_1


Aku langsung menoleh ke belakang. Terlihat....


...****************...


__ADS_2