
"Far... Aku ngantuk. Kau pindah lah kalau mau tidur!" aku membuat sekat dengan bantal.
"Kenapa sih?" ia menoleh sekilas padaku, kemudian ia aktif bermain ponsel kembali.
"Nanti malah peluk-peluk." aku hanya mencoba meminimalisir hal yang akan terjadi nanti.
"Tak ada orang ini."
Hah?
Jawaban apa itu?
"Aku belum ngantuk juga, Dek." tambah Ghifar kemudian. Ia memunggungiku, dengan bermain ponselnya.
Namun, aku sudah menguap beberapa kali.
"Mau kapan pulang ke mamah?" tanyanya kembali.
"Besok tak apa." aku ingin cepat menjemput Chandra.
__ADS_1
"Aku mau tiga harian di sini. Aku pengen tenang, tanpa teriakan Kin." ia kembali memandang plafon kamar ini.
Masalahnya apa sih? Sampai-sampai Kinasya sekarang seperti racun untuknya.
"Kenapa sih jadi gitu? Dulu kau aman aja diteriakin Kin."
Aku beberapa kali melihat Ghifar hanya diam, saat Kin menariknya kasar atau meneriakinya dengan suara yang menggelegar. Ghifar hanya diam, menghela nafasnya, kemudian mengikuti keinginan Kin.
"Mungkin lagi radang gendang telinga aja. Suka nging-ngingan telinga, kalau nada ngomong Kin udah naik satu oktaf. Diajak ngomong lembut juga, jawabnya ngegas terus. Tak ngomong-ngomong, ya kaku hati. Ngajakin bercanda, udah tajam aja mata melirik. Ditoel manja, malah balas dengan gaplokan kuat. Mamah tau sendiri, aku noel pinggang Kin, sambil senyum, nanya lagi apa. Dia langsung melotot tajam, digampar pipi aku. Di depan mamah itu tuh, makanya mamah kasih izin aku buat nenangin diri. Takutnya, aku malah keceplosan talak dia. Kin juga disuruh introspeksi diri, makanya sengaja dipisah begini. Biar dia sadar, aku ini siapanya, penting kah buat kehidupannya, sampai-sampai begitu kasarnya sama suami sendiri. Memang, tak pantas aku omongin ini sama kau. Tapi, aku cuma mau kau tau aja tentang rumah tangga aku. Biar tak melulu aku yang disalahkan. Kek papah, dia ada di pihak Kin dari awal. Entah chip sakti apa yang ada di kepala papah, di pemikirannya, perempuan tak pernah salah. Kin salah begitu pun, dibelanya, dikatanya Kin tak bakal kek gitu, kalau aku udah sesuai jadi suaminya." Ghifar menghela nafasnya, "Aku udah ngerasa jadi yang terbaik. Uang ya, silahkan. Mau apa, mau ini, mau itu. Kalau aku mampu, aku belikan juga surga untuknya. Se*s, menurut aku tak ada kurang-kurangnya. Sok berapa kali sehari minta, yang penting ada ngomongnya. Aku bukan laki-laki peka, yang paham kode-kodean. Perhatian, waktu, ngertiin dia, aku tak ngerasa kurang. Sejak kau pergi, aku ini di rumah aja, sama Kin, sama anak-anak. Kerjaan, aku nyuruh orang semua. Karena aku paham, ngurus anak ini memang capek, apa lagi bukan satu anak. Pengasuh ada, Ria juga dapat tugas giling baju. Dari bangun tidur, udah aku tanyakan dia butuh apa, dia pengen apa. Aku sadar, selera makan perempuan hamil itu kalau pagi down betul. Aku tau itu, aku coba turun ke dapur sendiri buat nyenengin dia. Dari buka mata, sampai aku tidur lagi, aku selalu ada di jangkauan dia. Jangankan kek Ghava, Ghavi. Temen nyamper, izin nongkrong, malam baru balik. Tak bisa aku begitu, HP bunyi terus. Aku juga sadar, dengan aku milih nikah, udah bukan waktunya lagi buat main-main sama kawan. Kalau masih pengen main sama kawan, aku pasti ambil opsi nunda pernikahan. Bukan aku iri ke Ghava sama Ghavi, toh opsi buat nikahin Kin pun karena keinginan aku sendiri. Aku bukan iri karena masih pengen bebas, aku tak begitu, aku sadar diri." suaranya menurun bergetar.
Hati Ghifar pasti sangat kaku sekarang.
"Aku akui, aku stress jalanin keseharian yang begitu-begitu aja. Download aku game online, main game. Tapi aku tau waktu, kalau dia udah tidur, anak-anak tidur, main game lah aku. Itu pun salah lagi, puncaknya waktu dia nifas itu. Udah lah, aku ngalah, uninstall aplikasi game. Entah apa yang jadi Kin kek gitu, sempet aku berpikir, apa Kin kena baby blues? Sampai nanya aku ke mamah, bukan aku ngatain istri sendiri, tapi dia kek hilang waras. Mamah pun cuma bisa diam, terus datangin temannya yang profesinya kek psikolog gitu. Ngobrol aja sama Kin, sama mamah, dia kek tamu biasa, biar Kin tak tersinggung, karena aku sama mamah pernah nuduh Kin hilang waras." terangnya sesekali menoleh ke arahku.
"Terus? Apa kata temen mamah itu?" tanyaku setelah menyimak ceritanya dengan cermat.
"Emosinya tak stabil, mungkin dia capek sama rutinitasnya, mungkin dia pengen santai, pengen liburan. Jadi kek, Kin ini butuh me time." jawab Ghifar kemudian.
Tubuhnya miring ke arahku, lalu ia memeluk bantal penyekat di ranjang ini.
__ADS_1
"Aku langsung atur jadwal kan sama mamah, nunggu mamah sehat, mamah sanggupi jaga anak-anak. Terus, aku ajaklah Kin jalan-jalan di Brasil. Apapun yang dia tanya, apapun yang dia tunjuk, langsung aku turuti. Tapi, fokusnya dia ke HP aja. Telponin mamah sepuluh menit sekali, nanyain Kal, Kaf, Aksa, Chandra, Key. Nanyain jemuran kering belum. Terus, nelpon lagi karena dia lupa cuci botol susu anak-anak. Jadi kek raganya jalan-jalan, tapi pikirannya di rumah." aku paham posisi apa yang Ghifar jelaskan, karena naluri seorang ibu memang seperti itu.
"Bukan aku belain Kin. Tapi, ibu-ibu itu pasti kek gitu Far. Aku pun sampai sakit, karena mikirin Chandra yang kau bawa. Cara terbaik buat bikin aku lupa sejenak dari khawatirin Chandra itu. Aku yakini diri aku sendiri, bahwa Chandra berada di tangan yang tepat. Udah gitu, aku fokus tuh kerja. Udah malam jam sembilan, belum ngantuk. Aku udah siap-siap buat kerjaan besok. Aku buatlah dulu kepala, sama kaki laporan. Entah apa itu disebutnya, aku selalu nyebutin yang di bagian atas dokumen itu kepala, yang tanda tangan itu kaki. Jadi, besok tinggal isi laporan aja. Gitu terus siklusnya, sampai sekarang. Wajar, namanya ibu-ibu. Pastilah selalu ingat anak. Apa lagi, Kin punya Kaf yang masih kecil. Itu pasti susah betul buat Kin." aku bukan orang yang pandai, tapi aku mencoba membagi tips yang aku coba.
"Mamah pun bilang kek gitu. Aku tanyakan sama Kin, tiba-tiba dia malah minta lanjut pendidikan. Dia mau ambil spesialis bedah, atau spesialis paru aja, kalau tak lolos di bedah. Papah ngamuk, papah nekanin sama aku, nekanin sama Kin, kalau istri itu harus di rumah, suami yang kerja. Papah kan kolot, jadi ya tau sendiri aja." aku langsung mengangguk, di akhir kalimatnya.
Aku membenarkan tentang pola pikir papah Adi, yang sedikit kolot dan tidak bisa menganut toleransi yang tinggi.
"Ya aku pun sadar. Kin itu ibu terbaik. Dia bisa urus anak-anak dengan baik, bisa handle semuanya, bisa didik sesuai usia. Kalau Kin pendidikan lagi, nanti siapa yang bakal gantikan posisinya di rumah. Keluar kan mulut aku, aku mampu, aku nikah lagi aja. Kena tendangan si Madun, lepas satu gigi, ini pakai gigi palsu." Ghifar membuka mulutnya, ia menunjukkan deretan gigi samping kirinya. Di sana terlihat gigi yang warnanya berbeda, tidak terlalu kuning seperti giginya yang lain.
Aku ingin tertawa, jika tidak mendengar penjelasan Ghifar selanjutnya.
"KDRT mungkin udah masuknya. Tuh, lebam aku belum hilang. Ini kena tonjok, ini dipukul pakai gagang sapu." Ghifar menunjukkan pinggang dan tulang pinggulnya.
"Aku....
...****************...
Ya Allah, cah bagus. Kenapa kok gak bisa ngendaliin Kin? Mamah Dinda juga kasar, tapi suaminya bisa ngendaliin. Ghifar bocah betul, atau Kin yang ngerasa tua?
__ADS_1