
"Far... Tolong paham tentang aku. Cuma Chandra semangat aku." aku harus bagaimana, agar Ghifar mau mengerti.
"Aku janji tak akan ngelarang kau buat temuin Chandra. Dia bakal aku rawat sama Kin, mungkin aku bakal cari pengasuh buat anak-anak yang kami besarin. Tapi itu pasti dalam pengawasan Kin, Canda. Aku begini, biar kau bisa jadi orang. Biar kau tak keteteran, biar kau cepat dapat kerjaan yang layak. Mamah Dinda terpaksa ninggalin bang Givan sama pengasuhnya bang Ken, biar dia bisa kerja. Kau harus paham itu, Canda. Kau repot, anak kecil rawan di malam hari, kau tak sesuper yang ada di khayalan kau." Ghifar menekan suaranya ketika berbicara.
"Gini aja deh. Kita bakal jemput Chandra, kalau memang Akak bener-bener kerepotan. Tapi tolong, pegang kartu ATM ini. Setidaknya, Akak harus bisa makan, Chandra harus tetap makan." Kinasya memaksa aku untuk menggenggam kartu pipih ini.
"Nis...." bang Dendi sudah tidak sabar untuk pergi sepertinya.
"Bang..." tiba-tiba Ghifar menghampiri bang Dendi.
"Nitip Canda, nitip Chandra. Boleh minta kontak Abang?" aku melongo, melihat Ghifar sampai demikian padaku dan juga Chandra.
"Boleh-boleh, Bang. Aku asli Bireuen kok, orang sendiri."
Aku melihat mereka saling bertukar kontak telepon mereka.
"Bireuennya di mana, Bang?" tanya Ghifar kemudian.
Mereka di depan mataku, aku bisa melihatnya dengan jelas.
"Kuala, kabupaten Bireun."
Ghifar mengangguk, "Dengan siapa?" Ghifar mengulurkan tangannya.
"Teuku Dendi." aku tidak heran, dengan awalan nama Teuku yang semerbak di provinsi ini.
"Ok, saya Ghifar. Nitip ya, Bang. Kabarin aja kalau ada apa-apa dengan kakak saya dan keponakan saya." Ghifar tak membubuhkan ipar, saat mengatakannya pada bang Dendi.
"Oh, siap-siap Bang. Mari semuanya, kami pamit dulu."
Saat bang Dendi mengatakan hal itu, Chandra malah menangis kaget. Ia seperti dicubit, atau dikagetkan seseorang.
Padahal tidak sama sekali.
Dia aman dalam gendongan kak Anisa
__ADS_1
Aku menunduk, melangkah ke luar mengekori kak Anisa.
"Nen yuk." aku mengambil alih Chandra, saat sampai di depan mobil sewaan ini.
"Ke Bireun dulu, nengokin orang tua. Dua jam setengah perjalanan." ucap bang Dendi, ketika kami sudah berada di dalam mobil.
Aku mengusap pelipis anakku, yang dipenuhi dengan keringat ini. Chandra tengah menyusu, tetapi mulutnya bergumam terus. Chandra tengah kesal, ini yang aku pahami dari bahasa tubuh Chandra.
Aku merasa sedih, karena di usianya sekarang. Ia malah kehilangan figur seorang ayah.
Aku merasa usapan di punggungku, "Udah, jangan nangis. Bang Dendi rela kok jadi ayah sambungnya Chandra." ucap kak Anisa dengan tersenyum manis.
"Udah insecure duluan, ayah kandungnya ganteng kali."
Ucapan bang Dendi membuatku malah tertawa. Air mataku pun terasa hambar, karena suasana hatiku kian membaik.
"Aku dulu pernah dituduh laki-laki ganteng itu hamil sama orang. Ditambah lagi, anaknya lahir mirip aku. Mungkin itu kali ya, yang bikin dia nyuruh aku bawa Chandra?" aku masih kesal dengan kenyataan ini.
"Nanti kau nyumpahin terus kalau anak kau mirip suami kau, sedangkan kau udah pisah. Nanti kau kata, dasar anak laki-laki baji*gan. Udah otomatis kekloning itu nanti, ba*ingan lagi yang kau s*suin itu."
Aku paham, mungkin aku diminta untuk berhati-hati bertutur kata.
Apa kak Anisa tidak pernah melihat orang kembar?
"Namanya kembar, Bodoh!"
Aku tertawa renyah, karena suara bang Dendi selalu menghantarkan keceriaannya di setiap ledekannya dengan kak Anisa.
"Yang tadi Ghifar itu, istrinya yang kasih kau ATM itu ya?" kak Anisa terlihat tengah mengingat sesuatu.
"Iya, Ghifar mantan aku. Tapi aku malah nikah sama abangnya. Terus, Ghifar nikah sama kakak angkatnya. Istrinya itu dokter, hobi masak. Galak luar biasa, kasar lah, tapi dia penyayang. Nadya itu, yang mau dinikahin ayahnya Chandra tadi. Dia sempat dilempar dua kursi teras, sama satu meja teras. Sampai dia itu, kek hujan-hujanan beling."
Bang Dendi sampai menepikan kendaraan ini. Kami berhenti di tengah jalan, yang kanan kirinya adalah ladang kopi.
"Kok bisa hidup berkeluarga dalam satu rumah?" tanya bang Dendi dengan menoleh ke arahku.
__ADS_1
"Skandal gak sih, Canda? Saudara angkat malah menikah?" kak Anisa pun melontarkan pertanyaannya.
"Ceritanya panjang, Kak. Intinya, kami sekarang udah kek keluarga. Aku sering nitip anak ke istrinya Ghifar, istrinya Ghifar pun sama. Kami titip-titipan anak, besarin bareng-bareng. Apa lagi, istrinya Ghifar itu lagi ngandung lagi sekarang. Jadi dia tak kek dulu, dia tak bisa handle segalanya sendiri. Aku menantu pertama di rumah itu. Tapi, sejak ada Kinasya itu. Dia yang kek menantu sulung. Yaa... Mungkin karena Ghifar itu anak sulung ayah mertuaku, sedangkan ayahnya Chandra cuma anak dari mantan suami ibu mertuaku." aku harap mereka mengerti cerita singkat yang berbelit ini.
"Ghifarnya kaya, Kin juga keturunan orang kaya. Materi ada, tapi ada aja cekcok tiap hari. Masalah T*pperware hilang lah, Kin sampai ngamuk besar. Masalah anak rewel lah, disuruh ke warung lah. Ada aja gitu, padahal uang mereka tak kekurangan. Aku... Udah diuji materi, hati, pikiran, batin, tapi masih ada aja ujian ini. Apa hidup itu harus kek gini kah?" aku menerawang jauh.
"Pasti ada aja, Dek. Abang aja bujang, terjebak sama janda. Kalau milih buat dilepas, aku bergantung sama Jeni. Kalau tak ada uang sama sekali, makan, rokok, aku minta sama Jeni. Bertahan sama Jeni, orang tua tak restuin. Jadi kapan nikahnya gitu loh? Kadang orang tua kek merasa, anak bujang mereka itu begitu berharga, misal harus disandingkan dengan janda. Aku nangkapnya kek gitu, tapi kalau ditembusin langsung ke orang tua, mereka ngelak dari alasan itu. Mereka tak tau aja, tingkah bujang mereka di rantau orang. Kadang pengen ngeluarin ucapan itu, tapi takut bikin orang tua kecewa. Dua puluh tujuh tahun tuh, Dek. Di kampung Abang, mereka udah pada punya keturunan semua."
Yang bujang saja, rupanya mereka punya masalah dalam orang tua mereka.
"Memang gak bisa cari lain, Bang?" sepertinya kak Anisa baru mengetahui masalah bang Dendi, yang rupanya terhalang restu.
"Ada, tapi kau pun janda juga."
Kak Anisa langsung manyun saja.
Lalu bang Dendi tertawa lepas, membuatku ikut menyuarakan tawaku.
Jika sudah melihat mereka saling mengejek, aku merasa begitu plong karena bisa tertawa.
"Lebih-lebih sering dipakai bang Lendra. Nanti, kalau kau nikah sama Abang. Bang Lendra nanya ke Abang gini, gimana Enis, masih enak tak?"
Aku tertawa renyah kembali, meski mendapat cubitan langsung dari kak Anisa.
"Mamah kamu ngetawain Tante terus tuh, Nak." kak Anisa mengusap rambut Chandra.
"Jawab aja, Bang. Rasa durian gitu."
Kak Anisa sampai melotot, dengan mencubit kembali lenganku.
"Kok bisa rasa durian, Dek?"
Bang Dendi sepertinya tidak mengetahui, tentang alat kontrasepsi yang kak Anisa dan bang Lendra pakai kemarin.
"Itu, Bang. Soalnya....
__ADS_1
...****************...
Udah disuntik bahal sebelum cabut gigi 😁 jadi gak sakit lagi ya, Canda 👍