
"Ya Allah, Ven. Uang kau kebanyakan kah? Ngintilin terus!" bang Lendra begitu marah, karena kak Venya selalu ikut kami bekerja.
Kurang lebih sudah satu bulan ini, ia ikut dengan kami ke sana ke mari.
"Len... Cek in kamar sebelah yuk?"
Hah? Aku melongo, mendengar seorang wanita berterus terang untuk menyewa kamar dengan bang Lendra.
"Lagi gak pengen!"
Kak Venya pernah bercerita. Tentang bang Lendra yang selalu welcome pada dirinya. Namun, sekarang dirinya merasa begitu tak dipedulikan oleh bang Lendra.
Bahkan, kak Venya mengatakan bahwa Chandra membuatnya iri. Karena Chandra begitu menarik perhatian bang Lendra, tidak dengan kehadirannya di sini.
"Biar aku buat pengen. Aku ngalah deh, biar aku yang servis." kak Venya tanpa malu mengatakan hal itu.
Apa lagi, di kamar ini ada kak Raya dan juga aku.
Sedangkan Chandra, tentu ia tengah pulas menikmati aroma ketiak bang Lendra. Makanya kami bisa mengobrol banyak, karena pusat perhatian kami tengah kelelahan di bawah naungan bulu ketiak.
"Gak mau aku, Ven. Cari lah yang lain!" penolakan lagi yang bang Lendra berikan.
"Jadi gitu cara main kau, Len? Kalau udah janda, kau udah gak mau lagi?!" seruan Venya begitu melengking.
"Aku lagi beresin masa depan aku. Enis udah perlahan lepas dari aku, Putri lagi aku usahakan. Kalau memang aku sama kau ada jodoh pun, aku berani ngajak nikah. Tapi gak untuk sekarang, aku lagi berbenah biar bisa punya keluarga kecil yang berkecukupan perut dan perhatiannya. Bukan masalah janda ataupun perawannya. Karena sebelumnya pun, aku memang udah gak pernah mau main sama kau lagi kan setelah kita putus dulu? Kenapa tiba-tiba sekarang kau ngajakin se*s segala? Kau mau jebak aku, biar anak suami kau ada ayahnya?!" bang Lendra malah meladeni mantan pacarnya ini untuk berdebat.
"Aku pindahin Chandra dulu, Bang." aku mencoba mengambil alih Chandra dari dekapannya.
Aku berjalan ke ruang tamu, kamar hotel bintang tiga ini. Aku baru tahu, jika untuk perjalanan bisnis diperuntukkan dengan kamar hotel seperti ini. Persis seperti kamar hotel saat kami berada di Jambi, hanya ukurannya lebih kecil sedikit dari hotel yang di Jambi.
Pertengkaran mereka semakin hebat. Bang Lendra menyahuti terus menerus ucapan Venya. Venya pun tidak mau kalah, ia terus meneriaki bang Lendra.
Entah kapan sesi pertengkaran itu akan berhasil.
~
"Tanda tangan di sini, Dek." aku tengah diminta untuk menandatangani dokumen perceraian aku dan mas Givan.
Bang Lendra meminta orang yang kemarin hari menembak dokumen palsu untukku, untuk mengurus surat ceraiku. Aku pun baru mengetahui, ternyata jasa mengurus dokumen seperti ini cabangnya begitu luas. Orang yang datang ke kamar hotel ini, tentu berbeda dengan orang yang datang ke tempat kos bang Lendra. Tapi mereka masih satu instansi terkait dokumen palsu atau asli seperti ini.
Untungnya, kedua buku nikah ada di genggamanku. Jadi prosesnya cukup mudah, asal aku pun memiliki uang saja.
__ADS_1
Jenis surat cerai ini tanpa sidang. Jadi seperti aku yang menceraikan mas Givan tanpa mediasi apapun. Datang surat itu pada mas Givan, lalu rumah tangga kami selesai. Seperti itu yang dijelaskan oleh orang yang bang Lendra percayakan.
Ini sudah lima hari, dari pertengkaran bang Lendra dan Venya itu.
Pertengkaran itu diakhiri oleh Venya yang diminta pergi oleh bang Lendra. Namun, saat aku berpapasan dengan Venya di ruang tamu. Venya malah memberiku pelototan tajam, seolah aku bersalah atas renggangnya hubungan mereka.
"Tunggu kabar selanjutnya, Len." orang tersebut membereskan dokumen yang diperlukan.
"Ok siap." bang Lendra mengantar orang tersebut ke depan pintu.
"Yung...." anakku sudah sampai di sudut sofa.
"Ati-ati, Nak." aku menghampiri tempat Chandra berdiri.
Ponsel milikku berbunyi, aku langsung melirik ponselku yang tergeletak di atas meja ini.
Kak Anisa?
Ia meneleponku?
Tumben-tumbenan.
"Ya, Kak." aku langsung menerima panggilan telepon tersebut.
Sebentar, aku harus mencernanya lebih dulu.
"Siapa yang menikah?" aku tidak bisa menahan pertanyaanku.
"Ini, habis selesai akad di Jawa. Tanggal enam nanti resepsi, tanggal dua belas semacam ngunduh mantu di kediamannya bang Dendi." penjelasan apa ini? Kenapa semua ucapannya membuat aku bingung?
Bang Lendra sudah tiba, ia langsung tersenyum lebar pada Chandra.
"Bang... Ini kak Anisa ngomongnya tak jelas." aku memberikan ponselku pada bang Lendra.
"Apa sih?" bang Lendra menyambut uluran ponsel yang aku berikan.
"Ya, Dek Cantik." bang Lendra malah melakukan panggilan video pada kak Anisa.
"Kau lagi cosplay jadi pengantin kah?" pertanyaan heran itu muncul dari bang Lendra.
Namun, aku melihat bang Dendi yang duduk di sebelah kak Anisa dengan pakaian pengantin adat Jawa.
__ADS_1
"Hei... Kau ngapain, Den?" bang Lendra kembali bertanya.
Aku berpindah duduk di samping bang Lendra, agar bisa melihat gambar tersebut lebih jelas.
Bang Dendi malah mengedipkan sebelah matanya genit, kemudian ia tersenyum dan menjawab lawan bicaranya. Sepertinya ia di sana tengah mengobrol.
"Ada apa sih? Kok ramai?" bang Lendra dan aku terbingung-bingung di sini.
"Aku nikah pagi tadi, Bang." terlihat kembali wajah kak Anisa yang begitu full make up.
Bang Lendra terdiam sejenak, lalu ia mengukir senyum manisnya.
"Waduh, hari patah hati bujang kos-kosan ini." gurauan bang Lendra ada saja.
Aku baru mengerti sekarang, kak Anisa dan bang Dendi telah menikah. Hebat sekali, satu bulan bang Dendi langsung memberi gerakan yang mengejutkan.
"Selamat ya, Dek. Samawa, bahagia selalu. Semoga cepat langsung bikin adik buat Chandra, biar Chandra ada kawannya."
Aku melirik Chandra. Anak ini kolot sekali. Saat mendengar namanya disebut, ia langsung merambat mendekati bang Lendra. Ia sepertinya penasaran dengan seseorang yang membahas namanya itu.
Aku melihat kak Anisa malah menangis tergugu. Ia tertunduk jelas, dalam penglihatanku di layar ponsel ini.
"Jangan nangis! Jangan bikin kecewa Dendi, dia laki-laki baik." aku merasa pesan dari bang Lendra ini dalam sekali.
Aku memahami, bahwa kak Anisa tengah terluka karena tidak bisa menikah dengan laki-laki yang ia cintai ini. Tetapi harusnya kak Anisa bisa mencegah pernikahan itu, jika memang ia tidak ingin menikah dengan bang Dendi.
"Jangan nangis, nanti make up kau hancur. Coba kasih telponnya ke Dendi."
Beberapa saat kemudian, wajah bang Dendi sudah terlihat jelas di layar ponsel.
"Kos-kosan kita diobrak-abrik. Rendi bede sabu, tapi jadi kos yang lain ikut diperiksa aja." bang Dendi langsung menjelaskan, hanya mulutnya yang terlihat di layar ponsel. Sepertinya, ia tengah berbisik-bisik dengan layar ponsel ini.
"Terus?"
Laki-laki langsung paham konteks mengobrol mereka, meski salah satunya tidak bertanya.
"Aku lagi sama Enis di.......
...****************...
Cuma di novel ini, nama penulis cuma sebagai peran pelengkap aja 🤣 Mana tabiat Anisa jelek lagi, gak bagus kek tokoh utamanya.
__ADS_1
Coba deh tengok novel lain, aku pernah baca nama penulis yang jadi tokoh utama.
Kaku bae 😆