Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD388. Sudah di rumah


__ADS_3

"Bukan, Canda. Mamah di daerah Pantai Ujong Blang. Kalau blok rumah kita kan, Gang Ujong Blang. Kalau daerah mamah, di Pantai Ujong Blang. Pantai Jomblang, sama deh pokoknya itu. Mamah tinggal di jalan Kenari, agak masuk gang sih. Gangnya itu, pas di belakang SMPN 12 Lhokseumawe. Itu rumah lama kita, rumah sebelum mamah nikah lagi sama orang Bener Meriah itu."


Mas Givan sampai tidak sudi menyebut papah Adi.


"Nanti lahiran di rumah mamah ya Mas? Aku pengen diurusin." aku masih mempertahankan nada manjaku.


"Iya. Nanti aku pulang pun, kita main ke mamah." suara radio seperti walking talking terdengar mengganggu.


Mas Givan pun, terdengar tengah berbicara dengan orang lain.


"Nanti besok aku telpon lagi, Canda. Kau tidur lah, ini udah malam."


"Ya, Mas. Ati-ati ya, Mas?" aku sudah mendapatkan alamatnya.


"Ya."


Tut......


Panggilan terputus. Kemudian aku langsung tersenyum lebar pada papah Adi.


"Aku tuliskan dulu alamatnya ah, biar tak lupa." aku segera mengetikan di ponselku.


"Alamatnya kurang rinci, Canda. Jalan Kenari itu panjang. Cek aja google map coba, kalau tak percaya."


Benarkah?


"Bentar, aku cek Pah."


Benar saja. Tapi mas Givan tadi mengatakan, letak rumahnya di belakang SMPN 12 Lhokseumawe.


"Tapi ada gang itu loh, Pah." aku menunjukkan pada papah Adi.


"Ya, nanti kita cek satu persatu gangnya."


Alhamdulillah. Papah Adi pun akan ikut serta, untuk menjemput mamah Dinda.


"Pah, pokoknya mamah harus bisa pulang. Lima bulan lagi aku lahiran, aku belum bisa mandiin bayi." aku memasang wajah memelas pada papah Adi.


"Udah, kau tidur aja! Daripada ngoceh terus, Canda! Lebih baik kau diam, biar batin aku tak ngetawain kau aja."


Aku segera menoleh ke arah sofa panjang. Ghifar memang iseng. Aku kira, ia tertidur sedari tadi. Tidak tahunya, ia menguping.


Papah Adi tertawa samar, "Tau ini, Bocah. Bikin risih aja dari tadi." tambah beliau, membuat tawa Ghifar begitu lepas.


"Suami kau tau, marah nanti! Udah nih, cepet tidur di sini. Biar aku yang nemenin Papah." Ghifar bangkit, kemudian berjalan ke arahku.


Mau tidak mau, aku meninggalkan kursi ini. Aku langsung merebahkan tubuhku di sofa panjang ini. Karena di spring bed single, ada Giska dan Hadi. Sedangkan Zio dan kak Lia, sudah pulang dengan Ghavi. Kami semua, silih berganti menjaga papah Adi.


~


Kasihan sekali panutanku. Ia tidak bisa berdiri tegap, tidak bisa bernafas lega juga. Jika beliau berjalan, beliau diminta untuk menggerakkan bahunya juga, agar lend*r tidak menumpuk di paru-parunya.


Jika ingin batuk, disarankan untuk menaruh bantal kecil di atas dada. Agar mengurangi rasa sakit di bagian yang cidera.

__ADS_1


"Aku tinggal sama Papah di sini ya?" aku menemani papah Adi, yang tengah duduk seorang diri di teras rumah.


Lusa setelah hari itu, papah Adi benar boleh pulang. Hanya saja setiap obat habis, beliau diminta untuk cek up kembali.


"Tak usah." beliau masih terdiam dengan pandangan kosong.


"Kasian Papah di rumah sendirian, aku tak tega." sedari tadi aku memperhatikan wajahnya, ia terlihat begitu memprihatinkan.


Key dan kak Ifa tinggi di rumah bagian Key. Makanan anak-anak pun, dihandle oleh ibu Muna.


Anak-anak tinggal mandiri bersama pengasuhnya, hanya saja mereka pasti selalu makan bersama dan bermain bersama. Hanya ketika tidur saja, mereka pulang ke rumah mereka masing-masing.


Bisa dibilang rumah sederhana dan minimalis. Seperti perumahan tipe 36. Satu kamar, ruang tamu, dapur dan kamar mandi. Tapi memang, halaman kami begitu luas. Halaman rumah kami saling menyatu, dengan dikelilingi pagar beton.


Di bagian atas rumah anak-anak tidak dipasang genteng. Melainkan menggunakan betonan. Bermaksud, agar kelak mereka dewasa bisa membangun rumah mereka kembali. Ya seperti dibuat lantai dua, seperti itu.


"Mungkin ini konsekuensinya." jawab papah Adi, dengan helaan nafas panjang.


"Papah tau konsekuensinya begini, tapi kenapa Papah berani ambil resiko?"


Di bagian alis papah Adi, memiliki luka kecil. Di bagian pucuk kepalanya juga, terdapat dua jahitan yang belum kering.


Mamah Dinda benar-benar tidak main-main dalam misinya. Sekali seruduk, sampai patah tiga tulang rusuk. Hal ini terjadi, karena kemungkinan papah Adi tidak menggunakan sabuk pengaman ketika berkendara. Membuatnya tersentak ke depan, dadanya terpentok setir mobil.


Ini adalah gambaran dari dokter. Karena papah Adi masih enggan menceritakan kejadian yang sebenarnya. Bercakap banyak pun, baru semalam saja.


Papah Adi lebih banyak diam, meratapi nasibnya dan keadaannya sekarang. Apalagi, saat baru tersadar itu. Air matanya seperti pot bunga, yang terus merembes karena terlalu banyak disiram air.


"Papah pikir, mamah bakal tanyakan dulu ke Papah. Bukan langsung celakain suaminya sendiri."


"Tapi kemarin Papah ngerasa bersalah sama mamah, berarti Papah sadar dong bahwa perbuatan Papah itu salah?" aku berhati-hati sekali dalam memilih kata, agar papah Adi tidak tersinggung.


Papah Adi mengangguk, "Papah salah. Harusnya, Papah tak terlalu dekat dengan perempuan. Harusnya, Papah tak izinkan perempuan menumpang juga."


Benarkah hanya menumpang?


Tapi kejadian kecelakaan tersebut bukan di sekitar Pintu Rime Gayo, bukan sekitar Kenawat Redelong juga. Tapi kejadian itu, berada di daerah Timang Gajah. Berarti ini bukan dalam acara menumpang, tetapi papah sengaja menjemput untuk pergi. Karena perempuan tersebut, berasal dari Pintu Rime Gayo.


Eh, bagaimana sih?


Jika aku mendadak pemikir seperti ini. Aku merasa, kepalaku berasap.


"Papah mau makan apa? Aku buatkan ya?"


Namun, papah Adi malah menggeleng.


"Panggil Ghifar aja, kapan mau antar buat jemput mamah."


"Telpon aja lah, Pah. Aku pernah ke rumah Ghifar, tak enak sama Kin. Kin main langsung bentak-bentak Ghifar aja." Kin benar-benar sakit jiwa menurutku.


Aku kakak iparnya, tak mungkin rasanya aku meladeni Ghifar. Suamiku lebih tampan, ya meski memang lebih manis dirinya.


"Ya udah sok."

__ADS_1


Aku langsung merogoh sakuku, kemudian mengutak-atik ponselku.


"Hallo, Far." panggilan diterima oleh Ghifar langsung. Karena suara penerima, seperti suara laki-laki.


"Ya, gimana?" suaranya terdengar begitu lemas.


Apa ia bangun tidur?


"Kata Papah, kapan jemput mamah?"


"Besok pagi jam tujuh kita berangkat. Ghava, Ghavi, Zuhdi, Giska juga ikut." Ghifar seperti menguap lebar di sana. Sampai suara tarikan udaranya terdengar begitu jelas.


"Aku ikut, Far."


"Iya, Cendol! Kau udah bilang ikut, udah seribu kali. Ngomong lagi! Ngomong lagi! Aku tinggal juga kau sekalian."


Aku malah tertawa lepas. Suara Ghifar begitu menggemaskan. Lembut dengan ritme yang cepat.


"Ya udah. Malam tidur di Papah, Far. Papah tak ada temennya. Ditemani aku, katanya tak mau." aku melirik ke arah papah Adi.


Beliau hanya geleng-geleng kepala saja.


"Iyalah, kau berisik. Mulut kau setelah hamil yang ini, nyerocos aja. Nanti Papah malah tak bisa istirahat."


Aku cekikikan sendiri. Aku tidak merasa seperti itu, tapi memang keluarga besar ini pandai mengomentari orang.


"Nanti Giska sama Zuhdi pindah ke situ katanya. Aku pengen tidur di rumah hari ini aja. Besok sih, tidur di sana lagi pun aku sanggup." aku mengerti maksud Ghifar.


"Wah, udah gatal ya?" tawaku begitu lepas.


"Heh! Mulut ya?!" suara Ghifar terdengar beserta geraman.


Aku tertawa kembali, "Ya udah. Besok on time."


Tut.....


Aku langsung mematikan panggilan telepon ini.


Aku tersenyum lebar pada papah Adi. Kemudian, aku menepuk bahu beliau pelan.


"Tenang, Pah. Anak-anaknya siap sedia. Menantu terbaik pun siap sedia ini. Aku tak apa urus Papah juga."


Namun, aku malah mendapat delikan tajam.


"Diam lah, pening loh Papah ini!"


Aku tertawa lepas kembali.


Aku bangkit dari kursi teras ini, "Udah ah, aku mau bersih-bersih rumah dulu sedikit sih. Nanti kalau banyak-banyak, aku bisa capek."


"Terserah kau, Canda! Kau tidur pun, tak apa. Tak ada yang nyuruh kau buat beres-beres juga."


Tawaku menggema kembali. Entah kenapa, aku merasa tergelitik melihat orang-orang di sekelilingku terlihat kesal padaku itu.

__ADS_1


...****************...


Wkwkwk, sekarang kau bisa haha hihihi. Belum tau aja bentuk kehebohan anaknya 🤣


__ADS_2