Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD139. Petuah papah


__ADS_3

Kamera tidak stabil. Sesaat kemudian, aku hanya bisa melihat plafon dan lampu yang menggantung.


"Ngapain kau? Kirain di dapur. Buatin Papah kopi dulu, Papah tak bisa tidur." suara itu begitu jelas.


Baik, sepertinya aku harus diam tak bersuara. Agar papah Adi tak mengetahui, ternyata Ghifar tengah melakukan panggilan video denganku. Ditambah ucapan papah Adi itu, aku yakin Ghifar mencari tempat untuk melakukan panggilan video denganku.


"Nanti tambah tak bisa tidur kalau minum kopi, Pah. Lagi pun, nanti Papah kena marah mamah kalau ketauan minum kopi." itu adalah suara Ghifar.


Aku pun bisa mendengar suara gelas berdentang, lalu suara air yang mengucur.

__ADS_1


"Ya udah susu aja, atau teh. Terserah apa aja, jangan kopi."


Sebucin ini papah Adi di usianya dengan mamah Dinda. Aku jadi menahan tawaku, aku teringat wajah papah yang padam karena dimarahi mamah Dinda.


"Takut istri nie." suara Ghifar sedikit jauh.


"Papah tak takut mamah, buktinya mamah dimarahin Papah tetap nangis, Papah masih punya wibawa sebagai seorang suami. Tapi menjaga kepercayaan itu susah, Papah pernah tak dianggap kehadirannya. Papah pernah di posisi tak dibutuhkan, istri sampai menuhin kebutuhan biologisnya sendiri, istri sampai kerja sendiri. Papah pernah ngerasain, tak dilihat saat papasan sama istri sendiri. Makanya... Istri tidur, kau pun ikut tidur. Ngapain kau malah video call di lorong kek gini? Lampu dapur nyala, sengaja biar dikira lagi ambil minum? Papah kan udah bilang dari awal, beribu kali Papah nasehatin tentang istri idaman. Perempuan cemburuan, kau ambil, alasan karena bisa sembuh sama dia seorang. Udah kek gini nih, Far. Tak ada pernikahan kedua, ketiga, keempat buat kau. Matikan itu panggilan video! Tidur sama istri kau sana!"


Aku paham, papah Adi salah paham di sini.

__ADS_1


"Pah, aku tak pernah ngobrol enak. Kin lebih suka marahin aku, ketimbang ngajak ngobrol bercandaan."


Hah?


Aku tidak percaya, Ghifar malah membela diri. Bukannya mengiyakan nasehat papah Adi. Ghifar cari mati rupanya.


"Papah pernah bilang, Far. Cari pendamping yang enak buat ngobrol, karena kita tua cuma bisa ngobrol. Jauh-jauh hari, sebelum kau merantau, Papah pernah ngasih tau tentang itu. Jangan karena alasan kau ini, kau punya pilihan buat nikah lagi. Menikah kembali dengan alasan apapun, tak bakal papah benarkan kalau istri kau masih hidup. Kau harus punya celah, kau harus pandai cairkan suasana, biar Kin enak kau obrolin. Dia sama mamah sama Papah tuh ngobrol enak, Far. Dasar kau aja, yang memang tak bisa cairkan suasana hati Kin. Istri nifas, kau bikin stress terus. Belum aja ada kejadian sama Kin, baru kau tau rasa sendiri. Papah pernah dibuat berada di titik paling lemah, pas mamah kau lahirkan Ghavi. Sadar, sesadar-sadarnya Papah di situ, setinggi-tingginya ego Papah, nyatanya Papah lebih takut ditinggal mati sama mamah. Papah sadar masa itu juga, harusnya Papah ambil keputusan dari dulu, cerai ya cerai masa Papah punya istri dua dulu. Karena istri mengandung, stress, akibatnya fatal. Mamah kelelahan menjelang tarikan terakhirnya, untungnya nafasnya masih ada meski pakai bantuan alat medis. Kalau Papah sama mamah cerai dari awal, mungkin tak ada tuh kejadian mamah drop setelah melahirkan. Papah cerai sama mamah, Papah masih bisa liat mamah, Papah bisa rujuk sama mamah. Nah, kalau mamah meninggal saat itu. Apa tak gila Papah, karena tak pernah ketemu mamah lagi untuk selamanya?"


...****************...

__ADS_1


Siapa yang masih ingat nasehat papah Adi, masa Ghifar masih di kota Cirebon?


__ADS_2