
"Iya, nanti aku share lokasi deh kalau udah sampai di sana. Udah dulu ya, mau siap-siap ke pesawat dulu."
Tut...
Aku langsung memandang layar ponselku. Aku teringat kembali pada bang Daeng, karena ia pernah mematikan panggilan teleponnya sepihak.
Canda.
Chat masuk dari bang Dendi. Ia mengirimkan foto dirinya bersama kak Anisa, yang foto bersama di ujung jalan rumah megah itu.
Ya, aku masih hafal tempat ini.
Ada di sana, Bang? Kak Anisa dibawa ke sana kah?
Pasti ramai suasana di sana.
Yaps, ngontrak di kontrakan punya mantan mertua kau. Sebulan empat ratus lima puluh, dapat harga diskon. Karena permalam di sana dihitung seratus dua puluh ribu, penginapan ya konsepnya?
Seperti biasa, balasan dari bang Dendi adalah paket komplit.
Iya, Bang. Kak Anisa udah berapa bulan, Bang?
Aku menanyakan calon keponakanku.
Baru positif, Dek. Periksa kemarin itu, janin baru lima minggu. Keknya lepas Enis datang ke Padang itu sehari, dia kan langsung datangin Abang. Katanya kesel, tak jadi liburannya. Jadi liburan di sini sama Winda, Tika, sama Ghava.
Ohh, rupanya masa itu kak Anisa langsung bertolak dari Padang. Pantas saja, ia tidak ada kabarnya. Ternyata, ia tengah bersama suaminya.
Wah, seneng ya Bang? Aku jadi pengen.
Balasku kemudian.
Jangan dong, apa lagi anak bang Lendra. Jangan sampai ya.
Kenapa bang Dendi membalas demikian? Setahuku, kak Anisa pun tidak tahu pasal aku sudah menikah dengan bang Daeng.
Kenapa memang, Bang?
Aku ingin tahu alasan, di balik larangannya.
Udah jauh kah sama bang Lendra?
Kenapa bang Dendi balik bertanya?
Udah, Bang. Memang ada rencana buat jemput Chandra juga sama dia.
Aku tak mungkin memungkiri, bahwa aku dan bang Daeng saling mencinta.
Bang Dendi mengirimkan satu foto padaku, sayangnya aku harus mendownloadnya terlebih dahulu. Karena aplikasi chatting milikku, tidak disetting untuk langsung mendownload gambar.
Dadaku berdegup kencang, jari-jariku langsung gemetar, ujung kaki terasa begitu dingin.
Mataku memanas, melihat pemandangan yang menyakiti perasaanku. Suamiku tanpa pikir panjang, ia bertukar cincin dengan perempuan lain.
Kenapa bang Daeng tega?
Apa ia tidak sedikitpun kasihan padaku?
Apa ia lupa bagaimana terpuruknya aku?
__ADS_1
Atau, ia ingin aku trauma dengan segala cinta yang laki-laki berikan?
Aku sudah menangis dengan sendirinya. Aku tidak percaya dengan foto hasil screenshot, yang dikirim oleh bang Dendi.
Udah tunangan, dua hari yang lalu kalau tak salah. Tuh, ada tanggalnya juga. Dari awal Abang udah bilang, kau mesti hati-hati sama dia. Kok bisa sekarang kau bilang kau udah jauh sama bang Lendra, sedangkan dia sekarang tunangan sama Putri?
Aku meraung-raung, karena lukaku seperti tersiram air cuka.
Saat sudah aku pasrahkan diriku, saat sudah aku pasrahkan harga diriku, saat sudah aku pasrahkan kepercayaanku padanya. Ia malah melakukan pengkhianatan serapih ini?
Jadi ini jawaban dari nomornya yang tidak bisa dihubungi selama satu minggu?
Harusnya aku berpegang teguh, pada petuah-petuah dari orang terdekatku. Harusnya aku melihat nasib kak Anisa, yang menjadi tempat pembuangan na*sunya saja. Harusnya aku mau mengerti, bahwa dia adalah manusia yang tidak pernah menghargai seorang perempuan.
Kenapa aku sebodoh ini?
Sedangkan tandinganku adalah laki-laki misterius, licik dan penuh rahasia.
Sampai hari ini, aku selalu takut ditinggalkannya. Namun, ia seolah menginginkanku bertahan dengan racun yang ia suguhkan.
Jadi untuk apa, status pernikahan yang ia berikan padaku?
Jadi untuk apa, waktu dan tanggung jawab yang ia berikan selama ini?
Apa aku kurang mengabdi?
Apa aku kurang bisa memuaskannya?
Apa aku tidak seperti yang dia inginkan?
Apa aku lalai menjaga suamiku?
Apa aku bukan idaman untuknya?
Sampai tindakannya tanpa memikirkan tentangku sama sekali?
Apa kurangku padanya?
Sepasrah itu aku memberikan seluruh cinta, kasih, waktu, pikiran dan hatiku hanya untuknya. Laki-laki baik, laki-laki yang membuat banyak perubahan untukku, laki-laki yang menyempurnakan kedudukannya di hatiku.
Aku kira dia adalah obat, ternyata dia adalah luka terhebat.
Dia datang, membawa banyak barang mewah dan berharga untukku. Ternyata, ia hanya membuatku agar lupa dengan sakit yang ia torehkan setelah ini.
Daengku sejahat ini padaku?
Daengku setega ini padaku?
Orang yang dulu berlapang belas kasih padaku, kini ia sendiri yang begitu teganya merenggut kebahagiaanku.
Aku selalu menuruti inginnya. Bahkan, aku rela tinggal di tempat sepetak ini untuk menunggunya pulang. Penantian dengan iming-iming rumah impianku, ternyata seperti ini ia mengusahakannya di belakangku?
Jika memang itu karena uang, harusnya ia tidak mengambil opsi ini. Kalau ia tahu, aku akan tersakiti dengan ini.
Pantas saja, ia selalu menekankan bahwa ia tengah mencari uang halal. Jika memang halal, harusnya ia tidak perlu mengakui hal itu. Harusnya aku sadar, ia mengatakan itu hanya supaya aku percaya padanya.
PT. Indo Walet Internasional.
Yang membuatnya menyebutku dengan Canda, itu pasti usaha milik ayah tunangannya tersebut.
__ADS_1
Dari sekian banyak celah yang aku dapat, harusnya aku paham bahwa bang Daeng begitu terobsesi dengan wujud uang. Materi ia kejar, sampai ia lupa akan qobul yang pernah ia ucapkan dulu.
Saat ini, aku merasa ragu bahwa ia benar-benar mencintaiku.
Jika memang ia cinta padaku, ia tak akan mungkin tega menyakitiku sedalam ini.
Pikiranku terbuka sekarang.
Aku bangkit, lalu berkaca di depan cermin.
Aku cantik.
Aku menarik.
Aku merasa, aku sudah mengabdi padanya.
Aku ingat, aku selalu mau berusaha untuk menuruti segala permainan na*sunya.
Aku merasa, aku tidak kurang satu apapun dalam hal memenuhi kewajibanku.
Jika ia tidak bisa bersyukur, karena telah mendapatkanku. Jika ia tidak cukup dengan satu wanita saja. Jika ia tidak bisa mempertahankan dirinya sebagai seorang suami. Lebih baik aku yang pergi.
Lebih baik, aku yang meninggalkan ini semua.
Aku layak mendapat kebahagiaan.
Aku tidak untuk terus-terusan disakiti dan disakiti kembali.
Ya, ini pilihan yang aku ambil.
Aku tidak tahan, jika bang Daeng sampai berniat membagi cintanya dengan wanita lain.
Aku tidak mau dimadu.
Aku tidak ingin ia mendua.
Namun, aku sadar dengan keadaan materiku.
Aku tidak menunjang seperti Putri. Ia memiliki banyak materi, yang bang Daeng kejar selama ini.
Aku mungkin akan bertahan, mungkin juga akan mengemis cintanya. Jika keadaanku bergelimang harta.
Aku sadar diri, hanya badan yang aku bawa untuknya.
Pasti pun, aku tidak lebih berharga dari materi yang ia dapatkan dari Putri.
Aku harusnya selalu ingat, akan ucapannya dulu. Dia pernah mengaku tidak bisa merintis, ia pun tidak bisa memulai usaha. Harusnya aku paham dari situ, bahwa ia ingin hidup enak tanpa usaha dari kerja kerasnya.
Aku menyerah, biar aku yang pergi.
Aku memilih pergi, agar benalu ini tidak selalu menguras kantongnya.
Aku memilih pergi, agar tidak ada drama lain pada kehidupan barunya dengan Putri.
...****************...
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Andai rasa di hati, tak sedalam ini. Dari dahulu engkau telah kutingggalkan 🎤😢
__ADS_1