Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD97. Puadai Pappoji Ko Mappojiki


__ADS_3

Dahinya mengkerut, "Kalau memang belum siap, Abang gak maksa. Waktu kita banyak, bisa ngelakuin kapan aja kalau Adek siap." ia tersenyum menenangkan, dengan menarik-narik daguku.


"Aku takut." aku tertunduk dengan memeluk mukenah dan sajadahku.


Tangan bang Daeng bertengger di kedua bahuku, "Pernah dapat kekerasan se*sual apa? Sampai takut kek gini?" tanyanya kemudian.


Aku membuang nafasku, lalu aku menaruh alat sholatku di atas lemari yang dipenuhi pakaian bang Daeng.


"Yuk ngobrol-ngobrol yuk. Sambil main gitar." bang Daeng merangkulku, dengan mencangking leher gitar yang tadi tergantung di tembok kamar ini.


"Abang bisa main gitar? Bisa nyanyi juga?" kami duduk di kursi ruang tamu. Kami duduk di kursi yang memiliki tempat untuk dua orang.


"Bisa." ia mulai menarik senar gitar perlahan.


"Coba ya nyanyi lagu viral di sana. Lagunya Adibal, tapi diganti liriknya pakai bahasa Bugis. Judulnya, Puadai Pappoji Ko Mappojiki." ia tersenyum lebar. Dirinya menghantarkan kebahagiaan di hatiku.


Bunyi beraturan dari petikan gitar terdengar merdu, "Siaga ettana natosibawa pede lao esso taselle taunge, magina iyya upirasai.. Tosijokka nadegaga lettukenna..." nadanya terdengar sendu.

__ADS_1


"Bateku puadai mappoji, cawami mubalianga, tengengka ada mupau, pole timummu oh kasi." nadanya semakin meninggi.


"Puadai rekko tongeng mappojiki... Aja mugattungenga lunrana adamu... Rekko memeng dega pappojimmu ri iya dememenna umelo manrasa mattajeng...... Saba pappoji dena wedding ipassa, aja nasessekale maddimonrinna. Rekko ati macinnong mappoji... Tania ada ada bawang simata."


Sungguh, bahasanya sangat unik menurutku. Tapi aku yakin, ini sulit diucapkan olehku. Bahasa Aceh saja, lima tahun aku di sana, aku hanya bisa kosa katanya saja.


Bang Daeng tidak mengulangi lagu itu setelah reff, ia memilih untuk menyelesaikannya. Suaranya memang tak sebagus Ghifar, tapi suaranya bisa diacungi jempol.


Lalu ia tersenyum padaku, colekan mesra ia daratkan di pipiku.


"Mau jajan kah?" tanyanya kemudian.


"Abang jadi yang terbaik buat aku, buat Chandra ya?" aku menundukkan kepalaku, bertumpu pada tangannya yang bersatu dengan tanganku. Aku berharap lebih darinya. Semoga, dirinya tidak seperti suami yang dulu.


"Abang usahain yang terbaik buat Adek, buat Chandra. Materi, batin, perhatian, waktu, tanggung jawab, diri Abang sendiri, Abang usahain segalanya." ia melepaskan tangannya yang menjadi tumpuanku. Lalu ia mengangkat kepalaku, membingkai wajahku. Sepersekian detik kemudian, kecupan kecilnya mendarat ke semua bagian wajahku.


"Yuk... Mau jajan apa? Abang jadi inget pas awal, dibuat kesel terus sama Adek. Segala liatin orang jualan jajanan, sampai nabrak punggung Abang. Kasian, kesal, gak tega, campur jadi satu." ungkapnya dengan terkekeh.

__ADS_1


Aku menarik sudut bibirku ke atas. Bang Daeng rupanya masih ingat kejadian itu.


"Jujur aku, Bang. Aku lagi liat sekeliling, buat liat orang jualan." jelasku kemudian.


Karena baru kali ini aku menjelaskan padanya.


"Nyatanya... Sekelilingnya orang dagang semua!" ekspresi wajahnya berubah seperti gemas. Lalu ia menarik kedua pipiku berlainan arah.


"Yuk... Cari cemilan." ia bangkit, lalu berjalan ke arah pintu.


"Aku ambil hijab dulu, Bang." kini koleksi hijabku seperti milik mamah Dinda. Pashmina panjang berbagai motif dan warna.


Aku baru menyadari, bahwa hijab panjang seperti ini lebih fleksibel digunakan sesuai kebutuhan. Bisa untuk berpergian, bekerja, atau sekedar di rumah.


Semoga ajakan seperti ini bisa kekal, bukan di awal saja seperti mas Givan.


...****************...

__ADS_1


Patokannya jangan seperti mas Givan 🙄


__ADS_2