Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD118. Bersunat


__ADS_3

"Bang... Aku dikasih pil sama kak Raya." aku memilih, untuk membicarakan hal ini saja.


"Coba liat." bang Daeng baru saja menunaikan sholat ashar.


Ia berjalan ke arahku, setelah dirinya melipat sarung dan sajadahnya. Kemudian, ia langsung mengambil alih plastik zip yang aku sodorkan.


"Kek pil KB darurat sih, Dek. Setau Abang, kek gini isinya lovonergestrel. Kalau udah buang dalam, gak mau hamil, langsung deh perempuannya nelen ini."


Wawasannya begitu luas, sampai ia mengetahui kandungan pil ini.


"Kasih lagi aja ke Raya, Adek gak butuh itu. Lagi pun, hamil juga ada suaminya." bang Daeng berpindah duduk ke tengah-tengah ranjang.


"Tapi kenapa Abang buang di luar waktu itu?" aku menoleh memperhatikannya yang baru menyalakan ponselnya.


"Tersinggung lagi?" bang Daeng melemparkan pertanyaan yang tidak aku mengerti.


Aku hanya bertanya saja, bukan aku tersinggung dengan tindakannya.

__ADS_1


"Biar gak monoton, apa lagi durasi kita gak lama. Abang belum terbiasa dijepit ketat gitu, Abang belum terbiasa ngerasain empuk-empuk anget gitu. Biasanya pakai k*ndom. K*ndom kan bikin Abang samar sama rasanya berenang di dalam tuh. Apa lagi kalau k*ndomnya tebal, Abang susah dapat kl*maks karena memang gak nembus ke batang rasanya. Baru kali ini, rutin ngelakuin tanpa penghalang, jadi panas dingin sendiri Abang nahan sensasinya. Kadang, jadi inget Dikta. Karena cuma sama dia, Abang gak pakai penghalang." ia menggenggam jemariku.


"Awalnya gimana sih sama Dikta?" aku masih penasaran dengan masa lalunya.


"Abang kan masa itu disunat, kalau gak salah pas SMP. Abang kena infeksi katup p*nis. Jadi tuh, katupnya merah, sakit pas kencing. Pas dibawa ke dokter, katanya katupnya harus dibuang. Yang artian, Abang harus disunat."


Mataku melebar tak percaya. Ia disunat saat SMP? Apa ia tidak malu dengan bulu halusnya?


"Bang Daeng..." aku menepuk pahanya, "Disunat itu dari bayi, sampai maksimal umur tujuh tahun. Karena, laki-laki baligh itu udah harus bisa menjaga kesucian dirinya." jelasku kemudian.


Oh, iya. Aku harus ingat, bahwa bang Daeng tumbuh dalam lingkungan yang tidak menganut agamanya.


"Terus gimana nasib jahitannya? Laki-laki kan, kalau pagi pasti turn on." aku membayangkan jahitan itu rusak, karena batangnya mengembang.


"Kok malah mikirin?" tanyanya cepat.


Aku tertawa geli. Aku pun tidak mengerti, kenapa aku malah memikirkan masalah ini.

__ADS_1


"Nah, masa sunat pun Abang di rumah sakit. Karena katupnya itu bermasalah, merah gitu."


Aku paham infeksi yang bang Daeng jelaskan. Pasalnya, si kecil Gibran adik iparku dulu mengalami hal yang sama. Ia beberapa kali mengeluh sakit saat kencing, sampai papah Adi panik saat mengetahui bahwa katup batang milik Gibran memerah. Ia diobati dulu sampai sembuh, barulah mereka berlibur lalu pulang dalam keadaan sunat.


Menurut mamah Dinda, infeksi katup adalah hal yang sering dialami oleh mereka yang belum bersunat. Karena sisa air kencing mengumpul di situ, saat dibasuh pun air bersih tidak mengalir masuk. Membuat katup tersebut menjadi sarang bakteri.


"Terus gimana Dikta masa itu?" aku masih penasaran dengan kisahnya.


"Ya main dokter-dokteran, pas Abang sembuh dari sunat. Gantian, seolah Abang sama Dikta ini pasien dan dokter. Tapi kok pas main sunat-sunatan, Abang ngerasa geli tiap kali Dikta pegang punya Abang. Abang juga ngerasa heran, karena punya Dikta gak bisa disunat. Sampai agak besar umur kita. Konsumsi tuh kita video dewasa. Terus praktek lah di kamar Abang yang di atas itu." aku mulai tegang mendengar ceritanya.


"Terus?" kini posisiku lebih dekat dengan bang Daeng.


"Abang gak paham, bahwa itu adalah proses.....


...****************...


Harap berhati-hati yang punya anak main sama lawan jenis dari kecil. Ini cerita korban, yang tidak paham dengan ilmu tersebut, tapi melakukan hal yang ia lihat di ponsel. Ini pernah terjadi, bahkan yang di luar negeri lebih buruk dari cerita yang aku tarik ini.

__ADS_1


__ADS_2