
"Canda kemana ya? Apa ada kunjungan dia ke kau?"
"Nih, ada lagi." ia menunjukkan layar ponselnya.
"Dia minta rumah, bulan depan aku bisa belikan di Banda Aceh. Aku udah nanya-nanya ke mangge. Tapi dia gak ada kabar, jadi bingung." ibu jari bang Dendi menggulirkan layar ponselnya.
"Ibunya di Jawa kah? Dia asli Solo kan? Solonya dimana, Den?"
Aku pun ikut membaca pesan yang paling bawah itu.
Apa dia tak bercermin? Apa dia tak mengerti?
"Biarkan aja dulu lah, Bang. Tak usah Abang balas." putusku kemudian.
"Kau mau rujuk kah? Mana anak Givan ada sama kau semua. Nadya udah tak ada di rumah itu kan?" tanya bang Dendi dengan mengantongi ponselnya.
"Nadya masih di penjara. Mas Givan di pulau Kalimantan. Orang tua Nadya, tak bisa ambil cucunya, karena keadaan mereka yang udah sepuh." jawabku kemudian.
"Bang... Nitip dulu. Awas paket datang." Ghava muncul dari dalam, dengan membawa helm.
"Bi... Tut." Chandra merengek melihat Ghava.
"Naik kereta api, tut, tut, tut." Ghava langsung mengambil alih Chandra dari bang Dendi.
"Bang Chandra lagi makan tuh." ujarku, karena Chandra belum selesai makan.
"Nanti dilanjut lagi. Mau jemput Winda kok, tak lama nanti langsung balik." Ghava meluruskan celana Chandra yang sedikit digulung karena kepanjangan.
"Yaudah." putusku kemudian.
Chandra dengan sombongnya berdada ria padaku dan bang Dendi. Dasar, tengil!
Aku jadi terkekeh geli, melihat tingkah Chandra.
"Balik gih! Nanti diteriakin mamah." pinta bang Dendi.
"Ya, Bang." aku berbalik badan dan meninggalkan Riyana Studio ini.
Aku jadi memikirkan bang Daeng terus. Apa ia akan mencariku di Solo?
Untuk apa hunian yang ia berikan? Jika ia adalah tunangan seorang anak bosnya.
~
Aku bersyukur, akhirnya acara empat bulanan janinku berjalan lancar. Ternyata, alasan yang beredar. Aku adalah hamil dengan suamiku, yang berada di luar kota. Aku bukan dikabarkan hamil dengan salah satu anggota keluarga di sini.
__ADS_1
"Betul tak empat bulan, kok besar kali?" tante Sukma mengusap-usap perutku.
Tante Sukma adalah ibu dalam dokumen kelahiran Kinasya. Panjang ceritanya, bisa baca di season sebelumnya.
"Keknya sih betul, Te. Soalnya aku USG. Pas empat bulannya sih minggu kemarin, tapi terhalang kesibukan lain." terangku dengan tersenyum ramah.
"Jagain Zio, biar Mamah yang beres-beres." mamah Dinda menitipkan Zio padaku.
Setelah kabar bang Daeng mencariku itu, tidak ada kabar selanjutnya. Ia sepertinya hanya merasa kehilangan penghuni kamar kosnya saja, bukan benar-benar kehilanganku.
"Canda..." kak Anisa berjalan cepat ke arahku.
Ternyata, kehamilanku dan kak Anisa tak beda jauh. Hanya beda satu minggu, lebih dulu kak Anisa. Menurut hitungan minggu dari dokter, karena ia pun tidak tahu pasti kapan ia hamil.
"Di kamar kau aja, Canda. Sana ajak ke atas! Lantai bawah mau dibersihkan." seru mamah Dinda.
"Ayo, Kak. Ke atas aja." aku menggandengnya.
"Kapan pulang, Kak? Pagi tadi, bang Dendi bilang Kakak masih di Kuala." kak Anisa pun mengadakan acara empat bulanan di rumah mertuanya.
"Jam duaan tadi nyampe. Aku ikut ngaji kok di luar, bareng Aira."
Aku sudah berada di kamar. Aku merebahkan Zio di atas ranjang, ia terlihat lebih besar dan mirip ibunya sekarang. Pertanyaanku masih sama, benarkah ini anak mas Givan?
Benar-benar mangkal, sampai terlihat tidak normal untuk ukuran tubuhnya.
"Gimana, Kak?" aku memilih bersandar pada kepala ranjang.
"Waktu aku di Kuala, ma Amah cerita bahwa ada kawan bang Dendi datang. Aku tanya kan, siapa ma. Kata ma, Lendra dari Padang, dia datang pakai mobil merah. Aku heran dong, karena mobil bang Lendra itu warnanya hitam, bukan merah." aku rindu banyak mengobrol dengan kak Anisa.
Sayangnya, ia jarang main ke rumah. Aku pun malas datang ke kontrakannya. Karena aku tetap memilih tidur, jika ada waktu senggang, atau Chandra tertidur. Sedangkan jika Chandra terbangun, ia lebih suka lari-larian dengan saudaranya. Otomatis, aku harus memperhatikannya.
"Mungkin mobilnya udah ganti. Terus gimana, Kak?" ia pun akan membelikan rumah, kemungkinan uangnya banyak.
"Ya ma Amah bilang, Dendi kerja di Bener Meriah bawa istrinya. Terus bang Lendra minta kontak bang Dendi, tak dikasih sama ma Amah. Bukan tak dikasih sih. Jadi ma Amah itu kek gaptek, yang punya HP itu abu. Sedangkan abu kan lagi gak di rumah."
Aku manggut-manggut, aku mengerti penjelasan kak Anisa.
"Aku kan langsung kepo kan, scroll-scroll tuh mulai. Meski aku tau, sosmed bang Lendra dan nomor lamanya udah tak aktif. Nemu deh, entah betul tak tapi namanya dan fotonya bang Lendra. Tuh..." kak Anisa bangun, lalu menunjukkan layar ponselnya.
Noy.
Nama profil yang tertulis tebal.
Kota asalnya, dari Makassar. Kemudian, kota sekarangnya di, Banda Aceh. Tanggal lahirnya sama, fotonya pun tepat.
__ADS_1
"Isinya apa nih, Kak?" aku masih fokus menscroll layar ponsel kak Anisa, yang sekarang berada di tanganku.
"Wortel kentang, agak pedes sih."
Aku langsung meluruskan pandanganku.
Tepuk jidat.
"Isi wall-nya apa aja, Kak? Bukan isi snack acara aku tadi."
Aku baru mengetahui, ternyata ia tengah menikmati makanan dari bagian acara tadi.
Kak Anisa terkekeh geli, dengan aku yang bisa geleng-geleng kepala saja.
"Liat aja deh, aku mau makan ini dulu. Aku ceritanya belum selesai, sok scroll-scroll dulu." ia malah melanjutkan kunyahannya.
Tidak ada postingan, hanya dua foto baru yang diunggahnya saja. Foto pertama, bang Daeng tengah merokok di salah satu coffe shop. Foto yang kedua adalah, dirinya yang tengah berkumpul bersama teman-temannya. Maksudnya, di foto itu ramai-ramai. Tapi memang ada dirinya.
"Kenapa naman Noy, Kak?" aku masih mengagumi foto suamiku.
Dia memang suami terbaik, jika dia tidak gila harta.
"Itu tuh kek nama ledekannya dia. Dia sama temen-temennya mainnya tuh dipanggilnya Noy. Mungkin juga, biar tak diretas Putri lagi. Putri kan gak tau, kalau panggilan bang Lendra di Padang itu Noy." terang kak Anisa kemudian.
Aku pun baru mengetahui sekarang.
"Kawan yang mana, yang manggil Noy? Aku gak tau, Kak." jujurku, dengan mengembalikan ponselnya.
"Teman fotografernya. Dia juga tukang shooting, Canda." kak Anisa membuka kue yang lain.
"Masa sama aku, dia udah tak pernah shooting lagi." akuku dengan memperhatikan Zio yang menggeliat.
Masa tahan Nadya, sekitar tiga bulan.
Ya, papah Adi sebenarnya hanya memberi pelajaran saja. Kapanpun, papah Adi bisa mencabut tuntutannya.
"Kau hamil anaknya kah? Kok bisa sih?" kak Anisa sudah menanyakan ini dua kali.
Ia adalah orang yang tak percaya, bahwa aku hamil. Karena setahunya, aku adalah janda.
"Sebenarnya, aku......
...****************...
Jeng, jeng, jeng..... 😳
__ADS_1