
Aku tengah duduk di teras kos sendirian. Bang Daeng tengah dipijat oleh laki-laki paruh baya. Yang membuatku tidak nyaman, asap rokok begitu mengepul ditambah bau minyak gosok yang membuatku mual.
Aku tidak suka bau minyak gosok tersebut. Padahal, sebelumnya aku sering menggunakannya. Sepertinya minyak gosok milik bang Daeng sudah kadaluarsa, baunya cukup membuatku pucat.
"Banyak nyamuk, Dek. Masuklah tak apa. Kek gak biasa aja nampak Abang telan*ang."
Tukang pijit sampai tertawa lepas, gara-gara ucapan frontalnya itu. jangan ditanya, memang mulut bang Daeng seperti ini.
Bang Daeng dipijat hanya menggunakan ce*ana d*l*m, yang dilapisi dengan kain sarung. Yang jadi masalah untukku, bukan karena ia telan*ang. Tapi karena aku tidak suka baunya.
Hingga beberapa saat kemudian, tukang pijat tersebut pamit pulang dengan amplop dari bang Daeng. Aku teringat akan mas Givan dulu, ia tidak pernah mau keluar uang jika ingin dipijat. Uang belanjaku, digunakan untuk segala-galanya.
"Masuk, Bondeng!" pinta bang Daeng lagi.
"Abang mandi dulu lah sana. Keknya minyak gosoknya expired itu, baunya tak enak betul." aku bangkit lalu memandangnya dari ambang pintu.
"Masa?" terlihat ia langsung menilik minyak gosok tersebut, "Masih satu tahun lagi. Bau umum kok, gak bau gak enak. Memang bau gak enak kek mana? Ini kan minyak sereh." bang Daeng menunjukkan minyak tersebut padaku.
"Mandi aja udah sana! Aku tak mau tidur bareng Abang." aku memberinya bibir mengerucut lima senti.
"Enak aja! Udah, masuk cepet! Dingin loh pintunya kebuka terus tuh."
Dengan terpaksa aku melangkah masuk, lalu menutup pintu. Aku langsung meraih body parfum miliknya, yang berwarna hitam mate. Aku menekan tutup yang bisa digulir itu beberapa kali, kemudian aku menaruhnya lagi.
"Mentang-mentang cuma tiga puluh ribuan, nyemprotnya udah kek tabung gas tiga kilo yang gak ada karetnya." protes bang Daeng dengan melirikku tajam.
"Biarin!" aku langsung naik ke atas tempat tidur, lalu aku merebahkan tubuhku di tempat tidur.
"Apa sih? Badmood terus." bang Daeng meluruskan tubuhnya persis di sebelahku.
"Jangan nempel-nempel lah! Bau tuh." aku sedikit menggeser posisi tubuhku.
"Gak kangen kah? Abang udah bayangin Adek maksa, terus naikin Abang. Energik betul, kek koboi penunggang kuda." ia malah memelukku dengan erat.
__ADS_1
Cup...
Ia mencium ceruk leherku. Bang Daeng tengah ingin rupanya. Namun, saat ada orangnya seperti ini. Rasa inginku dan bayangan nakalku sirna sudah. Padahal, sebelumnya bayanganku sudah selincah itu di atas tubuhnya.
"Jemput Chandra atau kasih Abang anak, Dek. Sepi betul rasanya, gak ada anak kecil gini." ia mengusap perut bagian bawahku.
"Kasih kek mana? Aku aja diminta di atas terus! Luruh lagi airnya ke bawah, tak ada yang masuk ke rahim." ujarku kemudian.
"Lah... Jangan disangka. Perempuan di atas juga, itu salah satu style biar cepat jadi. Coba tengok Google, baca-baca di sana." sahutnya kemudian.
"Mana ada! Buktinya pas aku bangun, langsung berceceran ke mana-mana. Kan tandanya itu tak ada yang masuk." aku melepaskan pelukannya, lalu aku memutar posisiku untuk berhadapan dengannya.
Kumis bang Daeng terlihat begitu jelas, ia nampak seperti bapak-bapak. Aku jadi ingin mentertawakan pilihan hatiku ini. Kok bisa, aku jatuh cinta dengan laki-laki yang umurnya terpaut jauh denganku ini?
"Terserah Adek aja udah." ia memejamkan matanya.
Apa bang Daeng lelah menghadapi sifatku?
"Abang kenapa sih?!" aku mengguncangkan tubuhnya.
Dahiku mengkerut, mendengar bang Daeng menirukan gaya bicara anak-anak yang tengah marah. Apa itu kenangan bang Daeng dan Dikta dulu?
"Abang sama Dikta saling cinta tak sih?" aku tertarik untuk membahas ini.
"Adek tuh cinta pertama Abang. Bisanya nanya Abang sama Dikta saling cinta gak?" tangannya bertengger di pinggangku.
"Masa? Jadi kecil dulu ngapain aja? Gimana waktu Dikta hamil besar?" tanyaku kemudian.
"Gini." bang Daeng mendorongku, membuatku berada dalam posisi terle*tang.
Lalu tangannya berada di atas perutku, ia menggerakkan tangannya naik turun.
"Tiap mau tidur, pasti harus begini. Mana kalau kebangun malam, dia sampai nangis karena gak bisa tidur lagi. Daeng, Daeng... Aku gak bisa tidur, aku mimpi buruk." ia menirukan suara anak-anak yang merengek.
__ADS_1
"Abang sampai kek pecandu narkoba. Mata layu, bengkak, badan kurus, loyo. Tiap malam kek gitu, mana kan pulang sekolah harus kerja di tambal ban. Jam sembilan malam pulang tuh, di angkot sampai ketiduran. Pernah sampai terminal, baru dibangunkan sopir angkotnya." lanjutnya kemudian.
"Kerja buat apa? Katanya dibayarin dato?" aku masih belum bisa membayangkan dengan pasti.
"Buat jajan Dikta, buat rokok Abang, uang jajan Abang. Masa ngasih jajan Dikta, Abang harus minta ke dato? Masa Abang mau rokok, mau jajan es harus minta ke dato? Gak bisa Abang begitu, tau diri bahwa segitu pun Abang udah jadi beban buat mereka." kenapa pemikiran bang Daeng sudah matang sejak dulu? Apa karena keadaan memaksanya agar segera dewasa?
"Terus, Abang sekamar sama Dikta?" tanyaku kembali.
Bang Daeng menggeleng, "Abang dilarang keras untuk sekamar sama Dikta. Tapi Dikta selalu bangunin tiap malam, buat nemenin dia tidur, buat usap-usap perut dia. Sampai pernah tuh, malam-malam lagi pulas Abang disiram air satu teko sama dato. Gara-gara Abang tidur sama Dikta, gara-gara Abang gak cepat pindah lepas Dikta pulas. Padahal ya, orang udah hamil juga. Sekamar atau gaknya, kan ngelakuin gak butuh waktu lama. Kadang gak paham pola pikir orang tua jaman dulu." pandangan seperti menerawang jauh.
"Terus gimana lagi, Bang?" aku masih penasaran, tapi aku tidak tahu harus bertanya apa lagi.
"Yaaa, gak gimana-gimana. Pernah juga Abang jadi joki balap liar, dapat satu atau dua juta tanpa mandi keringat. Di tambal ban, lima puluh ribu itu paling besar. Kalau sepi, kadang cuma dikasih ongkos aja. Kotor lah Abang dulu, hitam, dekil, pakaian sobek masih dipakai. Padahal, orang mandang Abang ini dari keluarga kaya. Ya mungkin pasti dikasih kalau Abang minta, buktinya sekolah aja dibiayai sampai sarjana."
Nah, ini yang ingin aku tanyakan. Tentang seluk beluk keluarganya, sampai memiliki rumah dengan pilar bak istana.
"Sarjana apa, Abang?" tanyaku kemudian.
"Sarjana ekonomi, makanya dapat posisi supply chain atau rantai pasok ini. Gaji umum supply chain di Indonesia, tembus sembilan juta tiga ratus lima puluh lima ribu. Abang sekarang udah tembus sepuluh juta tiga ratus sembilan puluh ribu, kartap dan udah jadi orang lama juga. PT tau, kalau Abang punya sampingan masok ke pasar luar negeri. Jadi mereka kek mertahanin Abang gitu, meski awalnya kek ngemis-ngemis biar bisa dapat posisi ini." jelasnya kemudian.
Pantas saja, aku pernah mendengar nama bang Daeng di kantor dibubuhi SC. Lendra SC itu, orang-orang berbicara seperti itu ketika tengah membicarakan bang Daeng. Aku baru tahu juga, ternyata posisiku sebagai sekertaris dari seorang supply chain.
Yah, beginilah kalau masuk PT hasil orang dalam. Referensi, bahasa kerennya. Ala-ala dijelaskan untuk bekerja di posisi apa, eh malah langsung terjun lapangan tanpa penjelasan maupun bimbingan. Bahkan aku melewati tahap training, karena bang Daeng membutuhkan sekertaris untuk membantu pekerjaannya segera.
"Terus, keluarga besar Abang punya usaha apa?" tanyaku dengan fokus memandang wajahnya.
Namun, aku menangkap ekspresi tidak senang dari wajahnya. Apa ia tersinggung pertanyaanku?
"Abang gak punya warisan dari mereka, Dek."
Kenapa ia malah menyangka aku menanyakan warisan?
...****************...
__ADS_1
Rumah keluarga bak istana. Tapi Daeng rasanya serba dadak cari ya 🤔
Mereka berantem lagi gak ya, Daeng udah tersinggung aja. 😟