
"Deg-degan aku." kami sudah sampai di bandara T*kengon Rembele.
"Nanti dulu. Aku harus dapat aba-aba dari bang Givan sama Ghava." Ghifar menahan langkahku, untuk keluar dari area bandara.
"Hallo, Bang." tiba-tiba Ghifar menempelkan ponselnya ke telinganya.
"Ohh, sore ya? Aku kira sekarang, aku udah di bandara sama Canda." ungkap Ghifar dengan seseorang di seberang telepon.
"Harus gimana baiknya? Kau dulu kah? Apa aku dulu pulang? Ghava udah di rumah katanya." aku terus merekam percakapan Ghifar, yang sepertinya tengah bercakap-cakap dengan kakaknya.
"Ohh, kek gitu pun tak apa. Tapi kau jangan buka mulut, bahwa aku udah di bandara bawa Canda. Biar besok jam sembilan, atau jam berapa gitu, aku ke sana. Sekiranya orang rumah udah sarapan semua, biar tak ada adegan pingsan karena belum sarapan." Ghifar sambil terkekeh ketika mengatakan itu.
"Ok, ok. Aku cari penginapan dekat kampus aja, biar tak lama aku di jalan." Ghifar masih bertelepon ria dengan ayahnya Chandra.
"Ok, siap. Kau tenang aja, Bang. Kau tau, aku cuma jinak sama Kin."
Aku merasa, Ghifar seperti bermuka dua.
Malam itu, ia sampai berani menyentuhku. Tapi dalam pengakuannya pada kakaknya, ia mengaku ia hanya jinak pada istrinya.
__ADS_1
Aku tak mengerti dengan Ghifar sekarang.
"Ok, Bang." Ghifar langsung menurunkan ponselnya lagi.
Ia menscroll layar ponselnya, lalu ia menarikku untuk duduk di bangku yang teduh.
"Apa sih? Ditatap terus." ucap Ghifar, dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Tak." aku membuang wajahku ke arah lain.
Aku merasa punggung tanganku diusap-usap oleh seseorang. Ghifar tak mungkin seberani ini di depan Kinasya. Buktinya, ia hanya bisa diam saat mendapat hantaman dari Kinasya.
Kalau bang Daeng tidak bertunangan juga, sepertinya aku masih menunggunya pulang di sana. Bukannya berada dalam belenggu Ghifar, hanya untuk bisa aman saat di sana. Hanya untuk aku bisa membawa pulang Chandra, hanya agar aku bisa berada di dalam dukungannya.
Meski aku tahu, Ghifar hanya mengiyakan tanpa sungguh-sungguh. Tapi aku yakin, bisa keluar dari rumah itu dengan membawa Chandra.
"Kata bang Givan, biar sore nanti dia jelasin dulu sekalian kenalin Nadya. Karena sore ini, dia baru pulang dari rumah sakit sama bayinya. Nih, tengok anaknya bang Givan." Ghifar menyodorkan layar ponselnya ke arahku.
Aku bisa melihat bayi kecil berpipi bakpao tersebut. Matanya hanya garis saja, sedangkan hidungnya terlihat besar. Tidak mancung, tetapi terlihat lebar dan tinggi di ujung. Bibirnya terlihat tebal, dengan warna merah kebiruan. Umumnya anak bayi, anak Nadya tidak terlihat mirip mas Givan ataupun Nadya.
__ADS_1
"Gantengan Chandra perasaan." tukas Ghifar kemudian.
Aku hanya diam, moodku hancur. Entah apa yang akan aku perbuat setelah ini. Aku teringat suamiku terus. Namun, aku pun tidak mau mencari kebenaran tentang pertunangan itu.
Tapi, tidak hanya satu orang yang berkata. Pasti kebenaran itu tidak perlu diragukan, bang Daeng benar-benar melakukan seperti di foto yang beredar.
Bagaimana nanti, jika bang Daeng mengetahui kegiatan tidak senonohku dengan Ghifar malam itu?
Namun, aku pun ragu jika kami masih bisa kembali. Pasalnya, Putri begitu dominan ketimbang aku.
Pasti bang Daeng melakukan hal yang lebih dari yang aku lakukan bersama Ghifar. Aku yakin itu, apa lagi mereka terikat dengan ikatan pertunangan.
"Hei, malah ngelamun. Ayo cepet, tuh taksinya udah datang." Ghifar mencolek lenganku.
Aku mengangguk, kemudian mengikuti langkah kaki Ghifar.
...****************...
Suami orang, istri orang. Dunia hancur 😣🤦
__ADS_1