Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD197. Tempat curhat Givan


__ADS_3

"Nih, punya mamah kau tiga ratus empat ribu lima ratus. Punya Canda, seratus lima, lima ratus. Sama bakarannya delapan puluh ribu, Van. Kau tak buatkan buat Nadya, Van?" tante Shasha memberi mas Givan struk pembayaran itu.


"Tak. Udah pusing aku, Tan. Papah minta diganti semua, Nadya tak mau tanggung jawab, papah maksa aku buat ganti semuanya jadinya. Udah pening aku, tapi bingung mau kabur ke mana, cuma mamah tempat aku pulang sekarang. Cuma mamah yang peduli, meski galak-galak begitu." mas Givan mengacak-acak rambutnya.


"Uang yang Tante pakai dibalikin sekarang aja kah? Rumah orang tua Tante udah dijual, bagi waris tiga hari yang lalu."


Tante Shasha memiliki hutang pada mas Givan?


Mas Givan menyodorkan cukup banyak uang pada tante Shasha, "Nih, jajanan mamah biar aku yang bayar. Tak usah dichat, tak usah dikasih tau. Kalau papah besok ke sini, tinggal bilang aja udah dibayar gitu Tan."


"Kau ada tak?" sepertinya tante Shasha tahu, bahwa mas Givan pernah krisis ekonomi.


"Ada, Tan. Aku udah lagi stabil, cuma lagi mikirin ongkos. Mau ke Kalimantan aku, Tan. Disuruh mamah buat beresin tambang dulu. Males sebetulnya, pikir aku udah ikhlasin aja. Tapi papah tak bisa kek gitu, papah bukan mamah." mas Givan sepertinya cukup dekat dengan tante Shasha.


Apa jangan-jangan, mas Givan menyukai janda tua?


Ehh, harusnya aku tak boleh menuduh seperti itu.

__ADS_1


"Turutin aja dulu. Mana tau kau masih beruntung, tambang bisa balik ke kau lagi, hidup kau bisa enak lagi." tante Shasha menghitung uang pembayaran jajanan dari mas Givan.


"Buat apa sih hidup enak? Hidup juga buat apa?"


Hah?


Aku syok mendengar penuturannya. Mas Givan seperti tidak memiliki semangat hidup.


"Heh! Jangan ngomong jelek lah. Kalau memang tak cocok sama Nadya, ya udah sana cari baru. Tak usah ala-ala patah semangat, terus mau bunuh diri. Kau laki-laki, kau ganteng, kau masih muda. Stabilin perekonomian dulu, nanti juga perempuan yang terbaik pasti disandingkan. Kurang yakin sama pilihan sendiri, mintalah dijodohkan sama pilihan orang tua kau." tante Shasha memberikan uang kembalian di hadapan mas Givan.


"Kalau bisa sih, yang perawan ya gitu." mas Givan mengusap-usap pelipisnya, sembari menerawang jauh.


"Udah siap belum, Tan? Aku masih ada kerjaan di luar soalnya. Mana di rumah papah sama Zuhdi nungguin." ia berpangku dagu.


"Bentar lagi, Van. Tunggu aja." tante Shasha bangkit, lalu membantu membungkuskan pesananku.


Aku menggulirkan pandanganku pada mas Givan. Ia tengah asik bermain ponsel, dengan memijat pelipisnya.

__ADS_1


Mas Givan sebenarnya tengah tidak sehat. Hari di mana Nadya pingsan, karena melihatku begitu intim dengan mas Givan. Menghantarkan mas Givan menjadi sakit sampai sekarang. Memang, awalnya ia hanya demam saja. Tapi sekarang, ia sering batuk dan menyedot cairan dalam hidungnya.


Beberapa saat kemudian, kami sudah berada di atas motor penuh kenangan ini.


"Ke toko dulu ya, Canda. Semen datang, aku mau kasih kuncinya dulu ke Ituk." pantas saja jalan yang kami lalui berbeda.


"Lancar kah toko?" tanyaku kemudian.


"Lebih turun dari kemarin. Rejeki kau sama rejeki Nadya beda. Tapi aku ada sampingan lain, tak terpaku sama toko aja."


Wah, aku malah baru tahu sekarang.


"Apa, Mas?" aku sedikit melongok ke samping kirinya.


"Makelar properti." suaranya sedikit samar.


"Apa, Mas?" aku takut salah mendengar.

__ADS_1


...****************...


Yakin mau ke toko aja 🤔 gak dibelikin ke ladang pisang kah 🙄 kek Ghava sama Winda 😂


__ADS_2