Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD152. Bercak haid


__ADS_3

"Udahlah, Bang." aku membuang wajahku ke arah lain.


"Yang jemput Chandra sih Ghifar, Bang. Waktu itu, aku lagi main ke sana di bawa bang Dendi. Kalau gak salah, itu setelah aku nikahan. Bang Dendi mulai lobi kerjaan sama Ghava."


Kenapa dengan kak Anisa?


Ia sepertinya punya motivasi yang kuat untuk membocorkan semuanya pada bang Daeng.


"Ck... Nanti Abang perlu ngobrol sama Adek." ucapnya lirih, kemudian ia mulai menaikan kembali roda kendaraannya ke aspal jalan.


Suasana mulai tegang di sini. Urat wajah bang Daeng pun tidak bersahabat. Pasti ia mengira, aku memiliki skandal dengan papahnya Chandra ini.


Bang Daeng menyewa hotel untuk kak Anisa. Ia mengatakan, bahwa kos-kosan sudah ada yang mengisi. Padahal tidak begitu adanya.


Kak Anisa pun meminta agar ikut aku saja. Maksudnya, dia menumpang padaku selama masa liburan ini. Namun, yang jadi masalah ini aku ikut dengan bang Daeng.


Hingga akhirnya, mood kak Anisa memburuk. Ia seperti marah padaku, saat bang Daeng memberitahunya bahwa aku tinggal bersama laki-laki pujaannya dulu. Mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa membawa kak Anisa ikut bersamaku.


"Ghifar, Ghifar." ucap bang Daeng, saat ia membuka kunci pintu kos kami.


Aku tahu, di kepalanya pasti berisi nama itu.


Aku langsung masuk ke kamar mandi, karena aku merasa tidak tahan lagi untuk buang air. Sedangkan bang Daeng, ia langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Apa ya ini?


Seperti bercak haid. Tapi, aku merasa bulan ini aku sudah haid. Apa gara-gara semalam bang Daeng bermain cukup kasar. Bukan kasar yang bagaimana.


Namun, seperti biasa. Hentakan mengagetkan dan tamparan di part belakangku, membuatku semalam bisa keluar sampai tiga kali. Aku pun tidak mengerti, kenapa jika ditampar malah aku kebelet ingin keluar. Ini rekor untukku. Karena sebelumnya, aku tidak pernah bisa keluar lebih dari satu kali.


"Bang... Keknya aku mau haid lagi." aku merebahkan tubuhku di sampingnya.


"Masa? Sering betul haid sih?"


Bukan aku yang sering haid. Tapi ia jarang mengajakku. Saat ia sudah kebelet, timingnya pas sekali dengan masa haidku.

__ADS_1


Hampir dua minggu kami menikmati waktu bersama, setelah dirinya pulang dari Batam itu. Hubungan biologis mungkin hanya tersalur sebanyak dua kali, dalam waktu dua minggu itu.


Jika orangnya mas Givan. Rasa-rasanya ia tidak mungkin melewatkan satu malam pun. Saking rutinnya dulu aku dan dia. Mas Givan akan menagih siangnya, jika malamnya aku tertidur lebih dulu.


Memang, aku melakukannya tidak setiap hari. Namun, diberi selang satu hari. Satu hari melakukan, satu hari kami hanya tidur. Begitu terus siklusnya, sampai lima tahun masa pernikahan kami.


"Abang jarang ngajak, bukan aku yang sering haid." sahutku kemudian.


"Masa iya? Perasaan semalam Abang ngajak." memang semalam dirinya yang mengajak, sampai aku keciprakan karena saking menggebunya.


Saat pulang dari Batam pun, kami tidak melakukan apapun sampai satu minggu kemudian. Aku ingin, tapi aku tidak berani meminta. Jika boleh jujur, aku ketagihan dirinya. Tapi sepertinya tidak untuk bang Daeng.


Kadang aku berpikir, pasti ia jarang mengajakku karena aku bukan tipenya. Tetapi aku teringat akan pesannya, yang pernah mengatakan bahwa ia memang tidak begitu menyukai se*s yang begitu sering.


"Mumpung belum haid. Masih garis coklat aja." aku memamerkan gigiku padanya.


"Hmm." ia fokus pada ponselnya, "Sengaja, biar Abang lupa masalah Ghifar itu." lanjutnya kemudian.


Hanya seperti ini aku mampu mengajaknya. Aku tidak berani terang-terangan meminta jatahku.


"Jelasin dulu masalah Ghifar."


Ini seperti syarat, agar ia mau melakukannya denganku. Aku seperti mengemis sentuhannya.


Tapi jika diingat. Pantas saja kak Venya dan Putri begitu agresif padanya. Ternyata ia memiliki skill, yang mampu membuat kaum wanita menangis kenikmatan.


"Tuh, Dek. Kalau aja dulu Abang mau pas digoda Venya, udah tuh Abang diseret. Dia rujuk sekarang, dengan keadaan perut yang udah besar aja." bang Daeng menunjukkan layar ponselnya padaku.


Terlihat kak Venya tengah tersenyum manis ke arah kamera, dengan dress panjang pantai. Ternyata kak Venya tidak melulu menggunakan hijab. Pasti ia tahu tipe bang Daeng, yang begitu terobsesi dengan wujud mamah Dinda.


"Kok Abang tau kak Venya masa itu lagi hamil?" tanyaku kemudian.


"Dadanya seger. Mana kan, wajahnya tuh kek layu, pucat, tapi punya aura tersendiri. Kan biasanya begitu orang hamil."


Aku harus paham, bahwa bang Daeng dulu pernah menemani Dikta yang mengandung. Pasti ia paham dan hafal ciri-ciri orang hamil.

__ADS_1


"Aku sih, Bang?" aku menunjukkan wajahku ke arahnya.


Ia menoleh padaku, lalu terkekeh geli.


"Kulit aja belum ngopek sempurna. Makanya nurut sama suami itu. Segala laser-laser."


Padahal dirinya yang mengajakku untuk segera ke klinik kecantikan masa itu.


"Kan aku udah males. Abang maksa." elakku kemudian.


"Karena Abang udah usahain biayanya. Abang kaku sendiri nanti, kalau nurutin aja Adek. Udah dicari uangnya, giliran mau diturutin malah ngadat. Kan kesel Abang." tuturnya dengan melihat-lihat story sosial media mamah Dinda.


Ya Allah, semoga Chandra tidak ada di story itu.


"Cucu baru, Kafa Teuku Dhafir." ia menunjukkan foto anak Kinasya.


Senyumnya terukir begitu lebar, "Ya ampun, Mah. Udah punya cucu banyak tetap secantik ini. Tengok, Dek. Sampai kerudung pun nyelorok terus, saking mulusnya kulit." ia menunjukkan story mamah Dinda bersama papah Adi.


Mereka berada di balkon, yang menjadi tempat video call antara Ghifar dan aku. Mamah Dinda tengah memainkan jakun papah Adi, dengan papah Adi yang tertawa geli dan asik meladeni ucapan mamah Dinda. Mereka terlihat mesra.


"Cobalah Bang kek papah Adi itu. Dia kalau main sama istrinya, tak sampai bunyi prok prok prok. Cuma denger becek-becekannya aja, sama ampun-ampunan dari mamah Dinda. Mana kan, pasti itu habis subuh tuh. Jam delapan, jam sembilan tuh, mamah Dinda udah lagi mandi lagi. Karena junub lepas subuh."


Bang Daeng tertawa lepas, "Mau kek gitu? Nyiksa loh. Abang paham cara mainnya, tapi kasian perempuannya. Pasti banjir rob."


"Memang kek mana, Bang?" aku memperhatikan wajahnya dari samping.


"Pelan, jadi tuh goyangnya gak sampai masuk terlalu dalam. Intinya tuh, yang penting gesekannya itu sampai ke ujung pintu tapi jangan sampai kecabut. Udah kek gitu, kita laki-laki harus tukar posisi lagi kalau perempuannya udah ngejen-ngejen. Intinya, jangan sampai perempuannya dibuat keluar dulu, nanti bakal lama tuh durasinya. Karena laki-laki juga gak terburu-buru, jadi dia bisa nahannya, soalnya goyangannya pelan." ia seperti membayangkan saat menjelaskan hal itu.


"Tapi kalau perempuannya udah gak bisa ketahan lagi, kita harus goyang cepat dan dalam. Nanti bisa mancur tuh, Dek. Ada yang mancurnya m*ni, ada juga yang mancurnya air seni. Karena perempuan ini kan gak kek laki-laki."


Ia sampai begitu paham. Aku jadi ingin mencobanya.


"Ehh, tapi. Kok Adek tau kek gitu permainan papah Adi? Adek pernah main kah sama beliau?" ia menatapku dengan heran.


...****************...

__ADS_1


Nah loh kan.. gak ati-ati sih ngomongnya.


__ADS_2