Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD381. Pulang bersama


__ADS_3

...Masih penasaran gak sih sama novel Canda πŸ€— Jujur ya 😬 Soalnya episodenya udah terlalu banyak. Ditamatkan aja kah? Tamat gantung gitu, karena konfliknya belum pada tuntas. Aku sih transparan aja nih ya, bingung soalnya. Malu sendiri tuh, punya novel lebih banyak episodenya ketimbang yang favoritnya 🀭 Gimana, Kak? Minta pendapat dong ☺️...


...Crazy Up...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kok waktu nikahan aku tak diundang sih?" ia berdiri dengan bersandar di pagar teras.


Cek rumah Upin Ipin.


"Aku tak ngundang banyak orang, difilter lagi sama bang Lendra sama papah juga."


Bahkan, aku menyebarkan undangan untuk keluarga saja. Aku tidak punya teman.


"Kau kan tak lolos filtrasi sama papah." tambah Giska kemudian.


"Lebay! Aku masih ngobrol biasa sama teungku haji." jawabnya enteng.


"Tapi suamiku sama ma kau yang kena tegur. Kau kira, suami aku tak dijitak sama ayah mertuanya? Dia kena pasal, karena udah ngenalin kau ke Canda." nada bicara Giska seperti memiliki dendam.


Segala menyatakan bahwa Zuhdi kena pasal.


Namun, bang Ardi malah terkekeh geli.


"Kalau tak begini juga, keknya tak jadi." sahutan yang ambigu.


Tapi aku tidak boleh selalu bodoh. Mungkin, artinya kalau Aini tidak hamil. Ia tidak mungkin menikahi Aini, melainkan terus mengusikku.


"Maaf ya, Canda."


Sudah basi.


"Tak usah maaf-maaf. Sekarang dia udah jadi ipar aku juga." Giska kembali yang menjawab.


Bang Ardi hanya mengangguk, dengan bersedekap tangan. Matanya jelalatan, memperhatikan aktivitas anak-anak.


"Pulang yuk Ceysa." aku tidak nyaman dimandori seseorang seperti ini. Mengobrol dengan Giska pun tidak bebas.


"Ehh, abis dari Pulau Weh itu dapat apa?" Giska menyentuh lenganku.


"Dapat banyak, untung tak pakai pesawat. Tapi pas nyebrang ke Ulee Lheue, repot betul di kapalnya." aku tersenyum lebar pada Giska, "Nanti ke mamah aja ya? Sama mas Givannya belum dibongkar-bongkar." lanjutku kemudian.


"Ohh, jadi abis bulan madu ceritanya?" tanya bang Ardi.


Aku dan Giska menoleh serentak ke arahnya.


"Iya, bulan madu. Kalau pengantin baru kan, normalnya liburan." aku mencoba menjadi orang sombong di sini.


"Meski ada anak banyak ya, Kakak ipar?" tambah Giska dengan tertawa kecil.


"Iya, untungnya neneknya mamah Dinda. Coba kalau...." aku tidak melanjutkan ucapanku.


Aku malah melempar pandanganku pada Giska. Sontak saja, Giska tertawa lepas.


"Neneknya modelan ma Robiah. Beuh... Knalpot RX King kalah."


Aku tertawa membahana, dengan bang Ardi yang tertawa lepas. Berani sekali Giska ini.

__ADS_1


"Mamah Dinda yang cerewet, subuh-subuh berisik aja juga tapi tak segitunya ya Kakak ipar? Ada pengertiannya, paham juga tentang anak-anak. Ini, anak-anak berisik aja dimarahin. Anak-anak naik turun kursi, ranjang, yang diteriakin ma bapaknya. Ya gitu, dipegang sendiri, tinggal teriakin aja Hadinya. Heboh dulu, baru tangan turun." masuknya menantu apa ya Giska ini?


"Ma mertua kau." timpal bang Ardi.


"Iya, itu ma kau! Ampun deh rasanya. Tak berisik karena Hadi, berisik karena mulut mertua."


Aku harus bersyukur mendapat mertua seperti mamah Dinda. Tidak semua orang bisa mendapatkan mertua terbaik sepertinya.


"Hei.... Ada di sini sih?"


Aku menoleh pada motor yang baru saja berbelok ke halaman rumah Giska, kemudian memarkirkan motornya di dekat tangga.


Zuhdi turun dari motor, diikuti dengan mas Givan.


"Ceysa minta main ke Hadi." jawabku dengan mengarah pada suamiku.


Mas Givan melirik bang Ardi. Namun, setelahnya ia celingukan memandang anak-anak.


"Balik yuk Bang Iyo? Adek Ces diajak." mas Givan berdiri di ambang pintu rumah Giska.


"Bang... Minta oleh-oleh." rengek Giska begitu manja.


"Ambillah di rumah." wajahnya tidak bersahabat.


"Tak boleh dinikahi aku, ternyata ceritanya mau dirujuk sendiri ya?" bang Ardi bertanya, tetapi pandangannya menunduk.


Ia seperti tengah menyindir mas Givan.


"Iya lah. Daripada jadi sama kau, nanti dimadu dong." mas Givan sudah menggandeng Zio.


Ia menoleh padaku, "Canda cepat! Ayo ikut."


"Yayah entut...." Ceysa langsung menangis kalap.


"Adek Ces di sini aja." Zuhdi berjongkok, kemudian ia mengangkat tubuh Ceysa.


"Au Yayah." Ceysa mencoba menggapai tubuh ayah sambungnya itu.


"Ikut kah?" mas Givan tersenyum lebar.


"Kut." Ceysa merentangkan tangannya pada mas Givan.


"Ayo, ayo, ayo. Perawan Yayah."


Cup...


Mas Givan mengambil alih Ceysa. Kemhd ia mendaratkan kecupan di pipi Ceysa sampai berbunyi.


"Ayah, Hadi ikut." Hadi sudah menarik-narik baju mas Givan.


"Nanti sore ya? Ada pasar malam kan di meunasah? Hadi nyamper Adek Ceysa ya?" Zuhdi langsung menggendong anaknya, kemudian membujuk anaknya.


"Iya, nanti pergi ramai-ramai ke sana." mas Givan menggandeng tangan Zio kembali.


"HPL Giska tanggal sebelas. Nanti nitip Hadi dulu ya, Van? Soalnya diarahin bidan, mesti rujuk ke rumah sakit atau di puskesmas lahirannya. Hadi pasti sama mamah Dinda, cuma Ceysa buat jimatnya aja gitu. Biar Hadi anteng, tak minta ikut ma bapaknya. Ceysa jangan dibawa jauh-jauh dulu gitu."


Oh, aku mengerti.

__ADS_1


"Insya Allah. Mau ke Kalimantan ini juga, Canda sama Ceysa mau aku bawa ke sana beberapa bulan sih. Tambang ditinggal dari H-3 sebelum lebaran, sampai mau lebaran haji aku belum nengok ke sana lagi. Aku harus cek sendiri ke sana, karena belum punya kepala pundak lutut kaki."


Tangan kanan maksudnya.


"Chandra gimana?"


Bapack-bapack tengah mengobrol.


"Nanti mamah carikan pengasuh. Suruh tinggal di rumah mereka sendiri-sendiri, biar mandiri."


Kami semua malah terkekeh.


"The real mandiri dari kecil ya?"


"Iya, Jasmine aja nanti tinggal sendiri sama Hala. Pagi tadi mangge udah jemput Hala. Ma Nilam mau urus Ria dulu sih soalnya, mau di bawa ke kota buat urus sekolah paket nanti awal bulan." jelas mas Givan.


"Alhamdulillah punya kakak laki-laki kan Ria ini, jadi ada yang ngurusin masa depan pendidikannya." timpalku kemudian.


"Ya, kalau jadi sama yang kemarin. Nanti Ria suruh jadi baby sitter anak-anak kau yang ada."


Siapa yang kemarin?


Bang Daeng kah?


Tapi ia malah mengurus anaknya sendiri.


"Aku tak ada niatan begitu ya, Bang!" ketus Ardi.


Ohh, tengah menyindir bang Ardi rupanya.


"Balik dulu, Di." mas Givan menoleh pada adik perempuannya, "Nanti ke rumah aja ya, Dek?" ujarnya sebelum membawa kami pergi.


"Ya, Bang. Nanti sore." sahut Giska dengan tersenyum.


Mas Givan mengangguk, kemudian melangkah turun dari tangga. Aku mengekorinya dari belakang, sampai akhirnya duduk berboncengan di motornya.


"Chandra nanti dijemput sama Mas lagi kah?" tanyaku kemudian.


"Iya." jawabnya singkat.


Aku terdiam menikmati perjalanan kami. Sesekali aku menjawab pertanyaan Ceysa, yang berdiri di jok dengan berpegangan pada bahu mas Givan.


"Lain kali di rumah aja ya? Aku tak suka kau main terlalu jauh. Tak di rumah mamah, ya di rumah ibu. Kalau mau main, izin dulu. Chat kah, nelpon kah."


Begini kan lebih baik, dari pada ia bermuka masam. Kan enak, aku jadi mengerti.


"Ya, Mas. Lain kali aku minta izin dulu." aku menyanggupi permintaannya.


"Tadi aku abis nemuin Putri, makanya tadi ajak Zuhdi."


Kepalaku condong ke bahu kirinya, "Ngomong apa? Sebenarnya, ada masalah apa? Waktu ngobrol sama papah di rumah sakit, papah nutupin. Papah cuma bilang, itu aib Mas. Bolehkah aku tau aibnya? Selain tanda lahir Mas yang warna hitam di bagian paha dalam itu."


Kami saling melirik ke spion kiri. Wajahnya antara kesal dan menahan tawa.


Uhh, suamiku memang menggemaskan.


...****************...

__ADS_1


Baru sadar ya Canda kalau suaminya menggemaskan? Kenapa tak dijaga baik-baik dari dulu?


Di kalender sih tanggal 2 ini lebaran ya 🀭 Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin 😁 Ayo kita lebarkan tali silahturahmi online kita πŸ˜… Mohon maaf jika author ada salah-salah nulis, penyampaian yang kurang berkenan, mohon dimaafkan ya πŸ™πŸ˜


__ADS_2