Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD335. Abses


__ADS_3

"Calon ibunya Jasmine."


Rohku seperti terlepas dari ragaku. Aku benar-benar tidak bisa mencerna semuanya. Bang Daeng sempat mengutarakan, bahwa ia ingin rujuk denganku.


Namun, siang ini mangge Yusuf mengenalkan seorang wanita seumuran mamah Dinda yang diklaim akan menjadi ibunya Jasmine.


Huh, ya sudah. Kalau begitu caranya bang Daeng bermain. Aku pun bisa juga. Aku tarik saja mas Givan nanti, biar nanti aku iming-imingi pijat gratis dan menu makanan berganti dua kali sehari. Asal mau rujuk denganku, untuk memanas-manasi bang Daeng.


Toh, Putri dan mas Givan pun sudah tidak jelas.


"Lebay ekspresinya."


Aku terkejut bukan main, saat tiba-tiba bang Daeng meraup wajahku.


Semua orang terkekeh mentertawakanku. Aku hanya bisa melihat mereka bergantian dengan tersenyum samar.


"Kan nanti Mangge jadi ayahnya Jasmine di dokumen, Canda. Ibu Nilam Sari ini, nanti jadi ibunya Jasmine."


Oh, iya. Aku merasa malu sekarang. Aku baru mengerti dan paham segalanya.


"Tenang, Daeng hanya untukmu." ujar bang Daeng yang berdiri di samping kursi yang aku duduki ini.


Semua orang tertawa geli, mendengar celotehan bang Daeng yang penuh percaya diri itu.


"Nah, kan? Kan?"


Kami semua mengikuti arah pandang mangge Yusuf. Ternyata, mamah Dinda datang dengan ditarik oleh Hadi. Hadi pun sampai berteriak dengan tangis yang pecah, agar neneknya mengikuti tarikan tangannya itu.


"Mana? Mana?" mamah Dinda dan Hadi sudah berada di hadapan kami.


"Itu tuh! Mangge Lendra, Nek." Hadi menunjuk bang Daeng yang berada di sampingku.


"Apa?" tanya bang Daeng dengan terkekeh kecil.


"Entahlah!" mamah Dinda geleng-geleng kepala, "Kek Giska, heboh aja dia sampai mau punya anak dua." mamah Dinda melepaskan Hadi.


Tidak disangka, Hadi langsung menubruk bang Daeng. Ia memukuli bang Daeng semampu jangkauan tangannya.


Bang Daeng tertawa renyah, dengan mencoba menghalau pukulan Hadi.


"Akhhhh...." ia meringis dengan memegangi perutnya, ketika pukulan kecil itu mendarat di perutnya.


Allahu Akbar.


Bang Daeng memiliki tiga bekal luka operasi. Yang mungkin, lukanya belum sembuh.

__ADS_1


"Tuh, kan?" mamah Dinda langsung menarik tangan Hadi, "Mangge tuh perutnya sakit, Hadi!" lanjut mamah Dinda kemudian.


"Tak apa kah, Bang?" aku menyentuh tangan bang Daeng, yang masih memegangi perutnya.


Bang Daeng menggeleng, "Linu kaget tuh, kalau ketoel sedikit aja." ia mampu menegakkan punggungnya kembali.


"Kau masih tak sembuh-sembuh kah, Len?"


Aku kembali menoleh ke arah mamah Dinda. Hadi sudah berada di gendongan beliau.


Greeekkkkk....


Aku kembali menoleh ke samping kiriku. Ternyata, bang Daeng menempatkan dua kursi plastik.


"Main tuh sama bang Iyo. Jangan sama bang Chandra, nanti ngamuk kalau lagi asik mainan dipinjam Hadi tuh." ujar mamah Dinda dengan menurunkan Hadi dari gendongannya.


Kemudian, beliau duduk di salah satu kursi yang bang Daeng ambilkan tadi. Bang Daeng pun, sudah duduk di sampingku, dengan kursi yang ia dapatkan tadi.


Chandra besar, wataknya semakin terlihat seperti mas Givan. Jika pemalu, asing dengan orang baru, memang masih mendarah daging. Namun, sifat tidak mau diganggu dan suka berbicara dengan nada tinggi tiba-tiba. Sering Chandra praktekan pada saudaranya. Padahal, mas Givan tidak seperti itu lagi menurutku. Siklus bentakan mas Givan sudah jarang, aku hampir tidak pernah mendengarnya, jika ia ada di sini.


Ya mungkin, tidak ada penyebabnya untuk ia marah apa lagi membentak.


"Udah mendingan sih udah, Mah. Yang terakhir ini, katanya luka dalam. Bahasa medisnya, abses. Jadi tuh, nanah ngumpul ngebentuk benjolan. Kata dokternya sih, abses ini ada di luka sayatan dalam, di bagian rongga perut. Udah operasi juga, tapi masih gak nyaman aja sampai sekarang." ungkapnya kemudian.


"Katanya sih, enam bulan luka sembuh. Tapi, dari awal operasi di luka ini ada masalah terus. Kadang aku mikir, apa dokternya ceroboh kah? Tapi mikir lagi, mungkin udah harusnya aku begini. Kan sakit juga itu ibadah, Mah."


Mamah Dinda mengangguk beberapa kali, "Kau udah lebih dari enam bulan kan?" tanya beliau kembali.


"Luka pertama, udah enam bulanan. Luka kedua dan ketiga ini, masih sekitar empat bulanan. Kalau dilihat mata sih, udah nyatu sama perut, sayatan dan jahitannya pun gak begitu kentara." bang Daeng menyibakkan kaosnya di bagian perut.


"Coba minta rekomendasi dokter dari Kin. Mamah aja deh, nanti ngomong ke Kin."


Entah Kinasya ini dokter apa. Tapi, menurut mamah Dinda dialah dokter yang terhebat. Jika Kinasya tidak menyanggupi, ia pasti menyarankan dokter terbaik di kota ini.


"Udahlah, Mah. Biar aja aku begini. Ikhtiar udah, berobat rutin udah. Cuma ada aja penyakitnya. Sembuh ini, tinggal komplikasi yang begini. Udah capek tuh, Mah. Perut diobrak-abrik terus, makin gak nyaman, tapi gak jaminan sembuh."


"Kan tadi kau bilang, sakit itu ibadah juga. Ikhtiar dan mencari jalan keluar pun, ibadah juga Len. Kau malah tak boleh pasrah." ujar mamah Dinda.


"Yang penting anak-anak sama Canda udah aman aja, Mah." suara bang Daeng menurun.


"Pasti aman lah! Memang anak-anak sama Canda kenapa?"


Kematian adalah keharusan. Namun, aku tidak suka bang Daeng berpasrah diri seperti ini. Aku takut ia tidak panjang umur, karena kepasrahannya melawan penyakitnya.


"Masa depannya maksudnya, Mah." jelas bang Daeng lirih.

__ADS_1


Namun, sepertinya mampu didengar mamah Dinda.


"Noy..........." suara itu mengambang jauh.


"Noy............"


Kami semua saling mencari sumber suara.


Terlihat, seseorang melambaikan tangannya di depan kantor Ghavi.


"Ya....." bang Daeng menyahuti, dengan bangkit dari duduknya.


"Tinggal dulu, semuanya." bang Daeng berjalan pergi.


Ia menuju ke kantor minimalis milik Ghavi itu.


"Hadi ngadunya gimana, Kak?" aku menoleh ke arah tante Bena, yang tengah cekikikan sendiri itu.


"Nenek, nenek. Aku di smackdown mangge Lendra." mamah Dinda menirukan suara anak-anak yang sedang mengadu.


Tante Bena tertawa lepas. Gelak tawa pun bercampur dari mangge Yusuf dan wanitanya.


Siapa ya namanya tadi?


Oh iya, Nilam Sari.


Aku memperhatikan mobil pick up yang datang. Aku tak menghiraukan pembahasan mamah Dinda dan tente Bena yang tengah membahas tentang Novi.


Mobil pick up hitam itu, membawa beras ukuran karung dua puluh lima kilo. Ia berhenti di depan tokoku ini. Namun, salah satu dari mereka yang sibuk tengah memindahkan galon mengatakan agar bongkar beras di bangunan sebelah.


Ini usaha milik siapa?


Lalu kenapa usaha pengisian air yang sempat tutup ini, tiba-tiba ramai orang mengangkut dengan membawa keranjang besi.


Mereka pun silih berganti datang dan pergi membawa galon. Mereka seperti tukang galon, yang mengantarkan galon ke tiap-tiap rumah yang memesan. Dulu di kawasan pesantrenku pun ada, makanya aku sedikit mengerti.


"Mah, itu tukang galon ya? Kerja sama aku ya? Terus gimana aku bayarnya? Atau pengisian galon udah dijual orang?" aku langsung meluncurkan banyak pertanyaan, setelah menyentuh lengan mamah Dinda.


Mamah Dinda mengikuti arah pandangku, yang tengah memperhatikan keramaian itu.


"Ohh, memang udah.......


...****************...


Gak punya usaha lagi ya Canda 🙄 aduh gimana dong perjuangannya? Mana dia lagi sakit lagi.

__ADS_1


__ADS_2