Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD105. Becek


__ADS_3

Bang Daeng seperti tengah menambah kecap dalam masakan. Ia begitu asyik, menambah lagi dan lagi gel pelumas yang ia beli itu.


"Becek nanti." aku trauma soal ini.


Aku pernah ditegur mas Givan, karena aku terlalu becek. Padahal, saat itu aku tengah terang*ang hebat. Bukan becek tanpa sebab. Tapi ia mengatakan, tidak nyaman dan malu didengar yang lain, jika bunyi keciprakan yang terlalu dominan.


"Yang penting gak lecet. Abang khawatir Adek lecet. Ukurannya keknya gak sesuai. Adek sempit kali, Punya Abang terlalu maksa masuk." ia kembali tersenyum padaku.


Tidak terlihat sama sekali ekspresi menggebu-gebunya. Bang Daeng cenderung santai.


"Jadi enak tak?" aku sebenarnya takut mendengar jawabannya.


"Ketat, kecil. Terlalu jepit, kalau kurang pelumas nanti Adek bisa lecet parah. Kasian, nanti susah aktivitasnya." aku merasakan batangnya tertarik perlahan.


"Tak enak dong?" urat wajahku sepertinya sudah masam nampak di pandangannya.


"Bukan gak enak lagi, ini Abang udah nahan nikmat. Takut Abang cepet keluar. Abang baru lagi ngerasain tanpa k*ndom, setelah terakhir sama Dikta. Jadi, kek gak kuat nahan sensasinya." bang Daeng menyeka keringatnya sendiri.


Ia mengatur nafasnya. Perhatiannya fokus pada tengah-tengah inti kami.


"Abang mulai pompa ya?"


Kenapa bang Daeng selalu minta izin?

__ADS_1


Aku malu untuk menjawabnya.


Aku hanya mengangguk, karena mulutku tidak berani untuk mengeluarkan kalimat frontal.


Ia memelukku kembali. Mengadu indra pengecap kami berdua, membiarkan bang Daeng mengaduk sesuka hatinya.


Rupanya, tidak melulu keluar dan masuk. Bang Daeng bisa memutar dan seperti mengagetkanku. Sensasi itu baru aku rasakan sekarang.


Namun, tak lama kemudian.


"Dek... Abang udah keluar." wajahnya langsung murung, dengan nafas yang memburu.


Aku akui, aku membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa kl*maks. Namun, jika aku mengatakan aku belum selesai. Pasti bang Daeng akan bersedih hati.


Ia melirikku, dengan bibir yang tertarik ke bawah.


"Mau bohongin?"


Apa hal itu diketahui olehnya? Padahal, jika didengar dengan seksama. Bunyi keciprakan itu begitu mendominasi, aturan ia mengerti jika aku sudah kl*maks. Meski aku tahu, bunyi itu tercipta dari banyaknya gel yang tertuang.


"Tak lah." aku sebenarnya tidak pandai berbohong.


"Adek belum keluar, tau Abang tuh!" ia bangkit dan melepaskan penyatuan kami.

__ADS_1


Ia mengambil tisu, lalu mengusapkannya di sarang yang telah menjadi miliknya sekarang.


"Darah perawan ceritanya." bang Daeng menunjukkan tisunya padaku.


"Tapi tak berasa tadi pecahnya, Bang." akuku jujur.


"Abang berasa, tapi kek mudah betul nerobosnya. Maklum, ciptaan manusia. Bukan ciptaan Tuhan."


Bau khas percintaan kilat ini begitu semerbak.


"Abang mulai dari awal. Abang usahain lanjut dua ronde. Maaf ya? Gak langsung bisa bikin Adek kl*maks. Abang belum tau letak sensitif Adek. Karena biasanya tiap perempuan beda-beda. Abang juga lama gak dikeluarkan, jadi gak bisa lama." ia kembali mengusap cairannya yang ke luar dari intiku.


"Tak apa kalau bisa diulangi sih." ucapku kemudian.


Matanya langsung mencilak cepat. Ia menatapku dengan mengerutkan keningnya. Sedetik kemudian, ia tertawa renyah dengan mengungkung tubuhku kembali.


Bang Daeng memulai memanaskan dirinya dan diriku. Mencoba memahami kebutuhan dan keinginan masing-masing.


Hingga malam itu, terjadilah dua kali peristiwa yang bang Daeng kehendaki. Ia rupanya mampu menggapai dua ronde dalam satu waktu.


...****************...


Informasi aja nih. Kalau laki-laki awam, baru lepas perjaka, atau lama gak dikeluarkan, biasanya memang cepat keluar. Dia gak pandai ngatur dirinya, jadi cepat gitu kl*maksnya. Sebetulnya itu bukan masalah kuat atau gak kuatnya dia. Tapi ya itu, belum bisa nyeimbangin diri dengan pasangan. Mana kan, biasanya kalau tiap perempuan itu beda-beda cara untuk dikeluarkannya.

__ADS_1


Jangan berpikir bagaimana Guehhh waktu muda 🤣 pengetahuan didapat bukan dari pengalaman aja 🤭 kok kesannya author malah lagi membela diri 😅✌️😝


__ADS_2