Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD191. Batang polisi tidur


__ADS_3

"Aku terserah Papah aja. Aku tak tau mesti kek mana. Aku tau diri, Pah. Dia milih perempuan itu pun, karena perempuannya anak juragan walet. Dia orangnya ngejar harta, Pah. Aku sadar diri, aku tak punya apa-apa sekarang. Aku tak mungkin bersaing, apa lagi materi tak aku miliki." aku hanya bisa menunduk dengan memainkan jemariku.


"Mamah pun milih materi. Itu manusiawi, karena kita masih di dunia sekarang." aku menoleh pada mamah Dinda.


Iya juga sih, siapa yang tidak ingin hidup enak. Aku pun kemarin begitu beruntung, saat bang Daeng terus-terusan memenuhi keinginanku tanpa aku mengeluarkan uang.


"Masalahnya Adek perempuan, bisa dibilang wajar. Kalau laki-laki kek gitu, namanya kurang ajar. Harga diri laki-laki itu kerja dan penghasilan. Sedangkan harga diri perempuan itu, ya diri dia sendiri, sikap dia sendiri, etika dia sendiri." terang papah Adi kembali.


"Dia memang tak pernah minta uang sama aku. Tapi aku tau sendiri, masa dia dulu berat ninggalin pacarnya yang sekarang jadi tunangannya itu. Dia terang-terangan ngomong ke aku, karena keadaan dia belum stabil, ekonomi dia, properti dia." aku minder, jika dibandingkan Putri.


"Ganteng kah orangnya?" tanya papah Adi, sembari berjalan entah untuk mengambil apa.


"Tak, Pah. Biasa aja, tapi memang tinggi gagah."


"Besar ya pasti?" aku menoleh cepat ke arah mamah Dinda.


Ia terlihat tertawa malu, dengan menutup mulutnya sendiri.

__ADS_1


"Banyak yang besar. Tapi yang punya polisi tidur cuma Sayahhhh."


Rahangku jatuh, tak percaya mendengar penuturan papah Adi. Polisi tidur dikata, aku jadi membayangkan. Pasti papah Adi memiliki jahitan bekas sunat yang besar, seperti cincin yang melingkar setelah kepala.


Bukannya aku pernah melihat milik papah Adi. Hanya saja, milik Ghifar pun seperti itu. Ghifar menjelaskan hal itu, ia mengatakan tentang jahitan sunat. Jika dalam cerita Ghifar, ia mengatakan katupnya digulung setelah dipotong lalu dijahit.


"Ghifar punya. Dia sunat gunting, Sayahhh tau itu." timpal mamah Dinda mengikuti gaya bicara suaminya.


"Kenapa mas Givan tak begitu?" tanyaku pada mamah Dinda.


"Laser, Ghava sama Ghavi laser. Pas Ghifar, laser baru nyala, ada drama mati lampu. Sedangkan, udah bius lokal. Jadi mau tak mau, harus cepat dipotong. Untungnya, mantri sunatnya sedia gunting sunatnya. Mungkin buat jaga-jaga, pas keadaan tak sesuai kek gitu." jelas mamah Dinda kemudian.


"Lama juga sembuhnya waktu Ghifar. Kan sunatnya bareng Ghava Ghavi tuh. Adik-adiknya udah pakai celana, udah lari-larian. Dia masih ngerengek aja, hampir sebulan Ghifar baru sembuh." timpal papah Adi.


"Berarti kau udah tau banyak batang ya, Canda? Enakan mana tuh?" pertanyaan mamah Dinda sungguh membuatku padam.


"Heh!!!"

__ADS_1


Mamah Dinda tertawa lepas, sampai Kaf terkaget dan terbangun.


"Gih sarapan. Nanti Papah diskusikan dulu sama Mamah, gimana baiknya untuk kau. Nanti sore, Papah anter ke dokter. Mamah nanti temani." ujar papah Adi kemudian.


"Ya, Pah. Misal pun jadi aku harus ke Makassar. Aku maunya nanti aja, kalau trimester kedua gitu. Aku sekarang suka mabuk kendaraan. Mungkin sejak itu aku hamil."


Papah Adi mengangguk, "Nanti liat keadaan perut kau juga. Papah tak mau ambil resiko kau lahiran di jalan. Apa lagi, Mamah tak ikut. Harus kek mana Papah nanti, tak paham."


"Iya, Pah. Aku permisi dulu." aku bangkit, lalu berjalan ke arah pintu kamar.


"Makan dulu kau, Dek. Jalan-jalan di krikil, jangan tidur lagi." seru mamah Dinda sebelum aku keluar dari kamar.


"Ya, Mah." sahutku dengan melanjutkan langkah kakiku.


...****************...


Pernah liat beberapa macam batang? 😝

__ADS_1


__ADS_2