Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD33. Salah perkiraan


__ADS_3

Papah Adi


Ini adalah foto papah Adi yang dibuat seperti animasi, untuk sampul depan novel ini.


Senyum banggaku terukir. Aku begitu merasa bangga, saat karya mamah Dinda masih terjaga sampai sekarang.


Aku mencari tahun cetak novel ini.


Benar saja.


Novel ini sudah lama sekali, tapi masih terjaga sampai sekarang. Novel ini ke luar di tahun lahir Ghifar.


Ya, segila itu aku pada Ghifar dulu.


Sampai identitasnya aku ketahui, tanpa sepengetahuan Ghifar.


Bisa jadi, bang Lendra pemburu novel lama. Bisa jadi juga, bang Lendra sudah memiliki novel ini sejak diterbitkannya.


Aku membuka sampul depan novel ini. Susunan katanya sungguh unik, membawa keceriaan dalam kisah Agam ini.


"Yung.... Nen." aku menoleh, melihat Chandra tengah mengucek matanya.


"Iya, yuk." aku langsung membawa Chandra berbaring.


Aku membiarkan Chandra mendapatkan asupannya, dengan aku yang mencoba membaca novel ini.


Kebiasaan, jika tengah menyusui seperti ini. Aku malah mengantuk.


Sebelum aku bangun, aku memastikan Chandra terlelap lebih dulu. Setelahnya, aku menyimpan kembali novel ini. Ini novel lama, dengan bang Lendra menyimpannya sampai sekarang. Berarti ini adalah barang antik, yang berharga untuknya.


Aku tak mau mencari gara-gara, karena tanpa izin meminjam koleksi novelnya.


Aku menutup pintu kos ini, lalu menguncinya. Agar Chandra aman, tertidur di kasur milik bang Lendra ini.


Lalu aku mulai mencuci pakaian kotor bang Lendra, mulai dari ukuran yang terkecil dahulu. Untuk pertama kalinya, aku mencuci celana d*l*m laki-laki lain selain milik mas Givan.


Untungnya aku sudah merendamnya, jadi bau itu samar dengan wangi deterjen.


Saat Chandra terbangun, aku sudah menyelesaikan cucian ini.


Esok, lusa dan seterusnya. Rutinitas sehari-hariku selalu seperti ini.


Hanya berputar di tiga kamar kos ini. Sampai suatu ketika, aku langsung dikejutkan oleh kedatangan orang yang begitu kak Anisa rindukan.


Ia menatapku dengan geleng-geleng kepala.


"Abang kok udah datang sih? Kan belum sebulan?"

__ADS_1


Ia melirikku malas, lalu ia beralih pada Chandra yang tengah rambatan.


"Ya ampun, Adek! Aset Om itu."


Mataku mengikuti arah pandangnya, rupanya Chandra tengah mengacak-acak koleksi novelnya.


Ia berjalan cepat, melupakan kakinya yang masih beralaskan sepatu. Dengan lincahnya kaki itu menginjak kasur busa, yang sprainya baru aku cuci kemarin hari.


"Huuuuu......"


Aku merasa bersalah, membuat bang Lendra pura-pura menangis di hadapan Chandra.


Itu ulah anakku.


"Lepas selembar." ucapnya begitu menyedihkan.


Gelak tawa Chandra begitu lepas, ia berpegangan pada pundak laki-laki itu.


"Ketawa kau! Om nangis nih." hatiku menghangat, melihat interaksi mereka berdua.


"Maafin Chandra, Bang. Biasanya dia tak kek gitu kok." ucapku dengan duduk di tepian tempat tidur tanpa ranjang ini.


"Padahal yang ini baru dapat, belum sempat baca." ia menatap nanar buku yang ditepuk-tepuk oleh Chandra.


"Maaf ya, Bang? Yang penting kan masih bisa dibaca." aku mencoba membujuk bang Lendra si pemilik novel ini.


"Udahlah, kesel Abang." bang Lendra langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, dengan sepatu yang masih terpasang sempurna.


"Gitu lah Bang, kalau punya anak. Bukannya aku males, tapi namanya anak-anak Bang. Chandra udah bisa lepas tangan dari rambatannya, udah jalan selangkah dua langkah, kemajuan dia di tiga belas bulan ini." sebenarnya aku takut ia tak memberi bayaran untukku, maka dari itu aku meminta agar dirinya mau memakluminya.


"Punya anak belum, kasur udah bau minyak telon aja." ia sepertinya tengah menggerutu, bukan menyahuti ucapanku.


"Tapi aku dibayar kan, Bang? Krisis betul nih, Bang."


Namun, ia malah terkekeh geli.


Ia membuang wajahnya menghadap tembok, "Udah itu lagi ngapain kompornya?! Matikan dulu itu."


Aku jadi was-was, aku khawatir aku tak dapat imbalan.


"Lagi masak semur telor, Bang. Gas di kamar kak Anisa habis." aku bangkit, kemudian menuju ke arah dapur kembali.


"Kasur diompolin, pewanginya minyak telon. Udah gitu, gas dipakai. Ammak kau minta tetep diupah, Dek. Amsyong deh gue."


Benarkah Chandra mengompol?


Diapers Chandra habis, aku belum sempat membelinya lagi. Karena di toko, tidak ada stok merk diapers yang paling murah. Aku sayang, jika dua puluh lima ribu hanya untuk diapers saja. Toh, Chandra pun memberikan kode saat ingin kencing. Ia akan menepuk-nepuk bagian pembuangan air kencingnya.

__ADS_1


Aku segera mematikan kompor, hasil masakan aku pindahkan ke dalam mangkuk. Hanya empat butir telur, yang aku belah menjadi dua. Agar cukup untuk tiga kali makanku dan kak Anisa.


Setelahnya, aku melihat keadaan Chandra.


Benar saja, air membasahi tempatnya berdiri dan berpegang pada rak buku.


"Gimana ini, Dek?" bang Lendra garuk-garuk kepala, sembari menatap bingung Chandra yang asik bertepuk tangan.


Ia sebangga itu, telah menodai kasur bujang dengan ompolnya.


Aku tak menghendaki ini semua. Aku ingin, bang Lendra datang, dengan keadaan kamar yang sudah layak dan nyaman dipakai.


Bukannya seperti ini.


"Abang kenapa sih pulang awal?" aku mencoba menggapai tangan Chandra, agar ia mau melangkah ke arahku.


"Awal apanya? Dua puluh enam hari, ini Abang dapat libur empat hari. Total full sebulan, sama dihitung libur. Kau aja keknya, yang malah jadikan kamar Abang markas pribadi kau." tuduhnya dengan lirikan tajam.


"Sekalian aja pindahkan pakaian kau ke sini, pakaian anak kau. Tidur kau di sini!" lanjutnya dengan melepaskan satu persatu sepatunya dengan begitu kasar.


"Diantar pulang, malah kebawa lagi. Suruh kirim nomer, malah alasan terus. Kau ini keknya utusan orang, bukan suami orang. Ulah mage keknya ini." ia melemparkan sepatunya di pojok ruangan.


Siapa itu mage?


"Aku tak kenal mage."


Ia malah menoleh ke arahku, dengan tatapan tajamnya.


"Ammak, ibu. Ejaan yang Abang pakai, ama. Mangge, ayah. Ejaan yang Abang pakai, mage."


Oh, seperti itukah bahasa Makassar?


"Iya, tapi aku tak kenal mage." jelasku dengan melepask celana ompol Chandra.


Alhamdulillah, Chandra aku belikan beberapa pakaian yang harganya terjangkau. Aku pun, sudah memiliki satu buah daster panjang, yang tengah aku kenakan sekarang.


Dalam keadaan seperti ini, aku terkadang ingat janji bang Dendi. Ia pernah mengatakan akan mengajak ke pasar malam untuk membeli pakaian aku dan Chandra, tetapi sampai hari ini, ia sibuk kerja terus.


Beginilah manusia.


Jika tengah susah, rasanya ingin menagih janji orang-orang terdekat. Namun, jika tengah berada dalam posisi yang tepat. Malah melupakan janji-janji yang pernah ia lontarkan, saat keadaannya tengah susah.


"Aku rasa, kau suruannya mage. Mage udah balik ke Indonesia, dia jadi supplier luar negeri juga. Dia netap di Banda Aceh, keknya kau dari Banda, bukan dari Bener Meriah."


Tuduhan apa lagi ini, ya Allah.


Aku ingin tentram.

__ADS_1


...****************...


Kurang apa ya scene ini? 🤔


__ADS_2