Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD278. Drama jajanan


__ADS_3

"Aaaabuuuu......" pekik Ceysa begitu kuat.


Ia begitu excited, saat motor itu melewatinya. Ya, hanya lewat.


Namun, yang menoleh malah Zuhdi. Ia berdada dengan menyunggingkan senyumnya.


Jangan bilang, bang Ardi pun salah paham?


Aduh, rasanya aku ingin menubruknya lalu menjelaskan semuanya.


"Abunya cemburu buta, Dek." bang Daeng cekikikan, dengan mengulurkan plastik berisi makanan ke pada Ceysa.


Aku hanya diam, aku tidak bisa menimpali apapun. Rasanya, aku ingin menchatting bang Ardi. Agar sore ia berkunjung menemuiku. Aku ingin tidak ada salah paham di antara kami.


"Segitu cintanya ke Ardi? Sampai murung aja." celetuknya, dengan memotret Ceysa yang anteng dengan makanannya itu.


"Abang tak....."


Ia menunjukkan lima jarinya, lalu ponselnya menempel di telinganya. Aku berhenti berbicara, karena ia tengah mengangkat telepon.


"Bener Meriah juga. Di mananya memang?" bang Daeng berbicara dengan ponselnya.


"Pintu Rame Gayo, kabupaten Bener Meriah, Aceh?" ia terlihat tengah berpikir.


"Gak bisa kah kasih alamat yang lebih rinci. Jalan, atau nama blok."


Memang ada apa di Pintu Rame Gayo?


"Aku di.... Perkebunan kopi, Kenawat Radelong, Bukit, Kabupaten Bener Meriah. Jauh tak itu dari Pintu Rame Gayo?"

__ADS_1


"Gampong Blang Ara masih ke dalam, rumah istri. Di sini, kanan-kiri kebun kopi semua." bang Daeng manggut-manggut, ia masih berbicara pada ponselnya.


"Okeh, siap. Share lokasi aja, Bang."


Ia menurunkan ponselnya, jemarinya menggulirkan layar ponselnya.


Lalu, ia mendelik pada Ceysa lagi. Ia tersenyum lebar, dengan mengusap kepala Ceysa.


"Mangge kerja dulu ya? Uang jajan Adek Ceysa, Mangge udah kirim ke Biyung. Nanti rumah untuk Ceysa nyusul ya? Manggenya harus punya uang, buat bayar upah tukangnya dulu."


Ceysa mana mungkin mengerti ini itu. Percuma juga ia bercakap-cakap dengan Ceysa, dengan topik yang tidak Ceysa mengerti. Dasar, tukang kode.


Tinggal bilang langsung saja padaku. Banyak tingkah betul.


"Tolong gendongin Ceysa, Dek. Abang mau cium Ceysa. Abang gak bisa jongkok, atau nundukin punggung." ia menoleh padaku.


Tepat, Ceysa diciuminya habis-habisan. Sampai Ceysa berteriak, kemudian memukuli wajah manggenya.


"Gemes Mangge, Ceysa masih jual mahal aja." bang Daeng mencubit pipi Ceysa pelan.


"Arrghhhhh...." suara T-rex terdengar kembali.


"Iya, iya. Gak deh, gak." bang Daeng memundurkan posisi kakinya.


"Awas, Dek. Mau pamit sama yang lain." ujarnya kemudian.


Aku mengangguk, kemudian memberinya jalan. Bang Daeng melangkah masuk ke dalam ruangan kembali, ia berjalan lurus ke depan. Untuk menemui orang-orang yang berada di teras.


"Ayo, Dek." aku mengajak Ceysa untuk ke depan juga.

__ADS_1


Aku menurunkannya.


Ceysa mengangguk, ia berusaha naik sendiri. Lalu, ia berjalan perlahan dengan kalung kebesarannya itu. Serenceng makanan ringan, yang seharga seribuan.


"Yakin mau mulai usaha itu?" mamah Dinda sudah mengobrol kembali dengan bang Daeng.


"Untuk masa depannya Ceysa, Mah. Kalau berhasil, bisa buat usaha Ceysa nanti. Ceysa tinggal lanjutin aja, sama suaminya kelak." jawab bang Daeng, dengan menyalakan rokoknya.


Ia berdiri di ujung teras, dengan memperhatikan pekerja yang tengah istirahat itu.


"Tanah di samping, siapa yang punya?" bang Daeng berbalik, untuk menghadap pada mamah Dinda kembali.


"Cek Abunawas, kakaknya tante Shasha. Ibunya Haikal itu, kau tau kan?"


Bang Daeng mengangguk, asap rokok keluar dari mulutnya.


"Memang kenapa, Len?" tanya ibu menimpali.


"Kalau bisa dibeli, aku beli sekalian. Buat Ceysa, kan Ceysa belum punya kamar. Jadi nanti rumahnya gabung gitu, sama toko ini." bang Daeng menjejer telapak tangannya.


"Ahh, kamu ini Len. Ceysa masih sama ibunya, masih ASI. Mana bisa dia tidur sendiri." sahut ibu.


"Yaaa... Barangkali ibunya punya suami baru. Ceysa pasti dipisahkan itu, Bu. Praktek lapangan dulu kan nanti bujangnya." ia melirik ke arahku.


...****************...


Apa ya maksudnya Daeng ini?


Ditunggu jam 3 ya 😍

__ADS_1


__ADS_2