
"Sana tuh pulang ke rumah sendiri! Risih betul tengoknya."
"Mas Givan ngomong apa sih?!" seruku, mendengar penuturan suamiku itu.
Aku berjalan, menghampiri suara orang-orang tergelak dan mas Givan berbicara cepat. Ada drama apa lagi ini?
"Apa sih, Mas?" aku sampai di ruang tamu ini.
Mas Givan tengah mengayunkan anaknya di ambang pintu. Pandangannya tertuju ke arah papah Adi yang tengah bergelayut di pundak mamah Dinda.
Jadi, mereka mulai romantis kembali?
Alhamdulillah.
"Nanti gimana coba?" tanya papah Adi lirih, tetapi bisa aku dengar.
"Ya aku kan ada Givan. Aku, Givan sama Ria. Abang urus Canda di sini." ketahuilah, nada bicara mamah Dinda masih saja datar.
Aku merasa, meskipun mamah Dinda menerima papah Adi kembali. Tapi perasaan mamah Dinda tidak kembali. Ya, hanya kehadiran dan tubuhnya saja.
Mungkin ini begitu fatal menurut mamah Dinda. Aku harus tahu alasan di balik kesabarannya itu.
"Masa ayah mertua urus menantu?" papah Adi berjalan ke arah mas Givan, kemudian mengambil alih Ra.
"Masa iya Kakek ngurus Ra? Ra anak siapa sih?" papah Adi mengajak bicara cucunya itu.
"Canda kan ada ibunya, Bang. Cuma bantu begadang aja, kalau Ra tak mau tidur. Bantuin jaga Ra, bukan urus Canda." terang mamah Dinda.
Meski ada ibu dan ibu sering berkunjung. Mas Givan melarang ibu mengambil alih pekerjaan rumah yang biasa aku pegang, mas Givan pun melarangku untuk meminta bantuan ibu. Sejak awal aku ke kamar mandi, beraktivitas di kamar mandi, ya selalu merepotkan mas Givan. Karena mas Givan melarangku untuk merepotkan orang lain. Pekerjaan rumah pun, kadang ibu Muna yang diminta untuk melakukannya.
Ya memang itu tugas ibu Muna. Tapi mas Givan berpikir, agar aku saja yang mengurus keperluannya. Ya seperti makanan, cuci dan melipat baju. Lalu membersihkan kamar. Kalau pekerjaan lain, mengepel dan lap kaca, memang ibu Muna yang mengerjakan. Dengan keadaanku yang masih banyak diminta beristirahat ini, aku dipaksa meninggalkan tugas-tugasku.
__ADS_1
Sebenarnya, aku tidak memanjakan diriku sendiri gara-gara operasi kemarin. Tapi mas Givan yang meminta, agar aku banyak beristirahat dan makan makanan yang disarankan dokter saja. Agar aku cepat pulih, dengan ia tega meninggalkanku sementara waktu dengan anakku untuk bekerja. Karena mau bagaimana pun juga, mas Givan tetap harus keluar rumah.
"Tak apa kan, Canda?" mas Givan duduk di sofa tamu, dengan menarik tanganku.
Aku mengambil posisi di sebelahnya, "Tak apa, Mas jangan lama-lama." aku mengganduli lengannya.
Setelah melahirkan, aku jarang sekali berpegangan tangan atau mengganduli lengannya ini. Karena Ra yang selalu ingin ditimbang. Jika tidak dengan mas Givan, ya dengan papah Adi.
Mamah Dinda hanya bisa mengambil alih Ra, dengan duduk saja.
"Memang kapan sih, Mas?" tanyaku kemudian.
"Ya kan besok Mamah ke rumah sakit. Observasi juga, sama rontgen ulang. Kalau memang oke gitu kan, ya kita prepare buat berangkat. Kalau aku, mungkin cuma ajarkan Ria aja. Mamah kan sama tante Bilqis buat operasi, aku ya sambil nemenin Mamah sambil urus Ria juga. Tante Bilqis sembuh, ya kan aku pulang lagi sama Mamah juga. Ria biar ditinggal di sana. Kita biarkan dia satu bulanan, belajar bentuk keberanian dan pola pikirnya di daerah orang sendirian. Tapi aku pun tak mungkin lepas tangan, aku bakal titipkan Ria sama orang-orang aku. Cuma buat jaga dia dari jauh aja. Tegur kalau salah, tolong kalau buntu bantuan." ungkap mas Givan kemudian.
Ra merengek kembali. Seperti itulah, jika tidak dengan ayahnya sendiri. Papah Adi pun mampu menimang Ra, tapi Ra yang tidak mau terlalu lama dengan orang. Jadi papah Adi hanya menggantikan mas Givan sementara mas Givan memiliki keperluan untuk mandi, makan, atau mengurus baju kami.
Aku mengangguk menyetujui. Dari operasi ke observasi itu tidaklah lama, tidak begitu seramnya seperti operasi sesar menurutku. Tapi tetep, bahkan berjalan pun kesulitan.
Ceysa yang adiknya saja, tidak begitu kuat menyusu susu kotak. Bahkan sekarang mulai jarang, karena anak itu sudah mulai mau makan nasi. Sejak bersama pengasuhnya, Ceysa mau makan nasi tiga kali sehari meski tidak banyak.
"Assalamualaikum kek apa!" sahut mas Givan, dengan melepaskan pelukanku dari tangannya.
Mas Givan tidak suka dan tidak mau, jika kemesraan kami dilihat oleh mata polos anak-anak.
"Ya, wa'alaikum salam." ia langsung duduk di pangkuan ayahnya.
"Jam berapa ini? Malam-malam masih minta uang aja." mas Givan memegangi tubuh anaknya, karena ia terlihat kesulitan untuk merogoh saku belakangnya.
"Aku mau beli sate, kata cek Devi suruh minta uang ke Ayah." Chandra mendongak menatap wajah ayahnya.
"Nanti pusing lagi kalau makan sate." mas Givan melihat isi dompetnya.
__ADS_1
"Kata kak Devi jangan yang kambing. Tadi siang Kal bikin sate, aku mau, tapi aku gak mau pas ditawari. Ingat Ayah bilang, Bang Chandra tak boleh makan sate kambing nanti pusing." Chandra menirukan suara tegas ayahnya.
Alhamdulillah, aqiqah untuk Ra berjalan lancar. Tapi keluarga kecil kami, kami usahakan tidak memakan daging kambing tersebut. Apalagi anak-anak, mas Givan mengatakan bahwa itu daging kambing yang tadi.
Chandra yang alergi daging kambing. Key dan Zio yang tidak tega memakan binatang yang mereka tahu masa hidupnya. Ceysa yang tidak suka, karena alot. Jadi mudah untuk kami, karena anak-anak mau diberi peringatan sederhana itu.
Gelak tawa terdengar, kala Chandra menirukan nada suara ayahnya itu.
"Nih." mas Givan memberikan uang berwarna merah itu, " Bilang kak Devi, suruh belikan semua."
Chandra menerima uang tersebut, "Katanya lima belas ribu aja minta uangnya. Satu kodinya katanya dua puluh lima ribu, yang sate ayam. Kalau setengah kodi, harganya jadi lima belas ribu. Itu loh, Yah." Canda menunjuk lurus ke depan, "Yang di dekat kontrakan itu." lanjutnya kemudian.
"Iya, nanti Abang dapatnya segitu juga. Bilang aja, dibikin setengah kodi semua. Nanti kak Key, sama adik-adik Abang yang lain dikasih juga. Kak Jasmine juga kasih ya? Abang antarkan ke sana." jelas mas Givan, dengan merapihkan ikat rambut Chandra.
"Ya udah deh." Chandra mengangguk beberapa kali.
"Tapi kan uangnya seratus ribu, kan kalau dibagi dua puluh lima ribu jadinya empat. Berarti dapat empat kodi sate. Terus yang satu kodi dibagi dua." Chandra menunjukkan jarinya.
"Hitungnya bukan gitu, nanti pusing. Sini Ayah ajarin." mas Givan menangkup jemari anaknya.
Chandra menggeleng cepat, kemudian menarik tangannya.
"Jangan ajari aku hitung-hitungan, pusing juga. Udah aja." ia malah ngeloyor pergi dengan uang yang diberi oleh ayahnya itu.
Mas Givan menghela nafasnya, kemudian bersedekap tangan dan menyandarkan punggungnya.
"Minatnya ke mana ini anak? Hitung-hitungan, dibilangnya pusing." pandangannya mengarah ke Chandra yang semakin menjauh.
"Liat cara dia main, Van. Keseriusan dia pas nyusun balok susun itu, perlu kau kembangkan. Ribuan balok susun, dia bisa bentuk apapun bentuk yang ada di pikirannya. Berarti kan, minat dia ke?????"
Aku dan mas Givan saling memandang, kemudian melempar pandangan pada mamah Dinda.
__ADS_1
...****************...