Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD402. Enam puluh triliun


__ADS_3

"Mamah!!!!" suara mas Givan meninggi, dengan menurunkan rokku yang sedikit tersingkap.


"Ya ampun." mamah Dinda memejamkan matanya, kemudian beliau mundur satu langkah dari pintu.


Aku masih berlindung di leher suamiku. Aku malu, aku ketahuan.


"Nih, bed cover nih!" aku merasa sesuatu menimpa punggungku, yang terlapisi kemeja longgar ini.


Aku memakai kemeja putih panjang, tetapi bahannya cukup menerawang. Jadi, aku menggunakannya untuk tidur saja. Dengan rok plisket, yang harganya mencapai tiga ratus lima puluh ribu berwarna hijau tua ini.


Aku tidak mengerti dengan kualitas rok ini, sampai harganya begitu mahal. Ini pun, mas Givan yang memilihkannya saat kami berada di Kalimantan Timur.


"Rapihkan! Mamah mau pipis dulu."


Mamah Dinda melangkah ke belakang. Mas Givan pun, langsung menutupku seperti melindungiku dari hujan.


"Untung tak lepas semua." mas Givan menyeka keringat di pelipisnya.


Ini hari sialku. Baru saja mendapat tiket surga, malah pintu surganya tertutup, jadi aku tak bisa masuk.


Mas Givan hanya mengeluarkan kaki ketiganya, tidak menurunkan cel*nanya. Sedangkan aku, aku malu karena p*h*ku tadi terekspos jelas.


"Mamah mau balik ke kamar nih, jangan gerak dulu kau!" seruan itu dari arah belakang.


"Ya, Mah." sahut mas Givan lemah.


Pasti ia pun malu setengah mati pada ibunya.


"Mau heran, tapi Canda Pagi Dinanti." gerutu mamah, diikuti dengan bunyi 'kreot' dari pintu.


Memang kenapa denganku? Memang aku tempatnya membuat orang terheran-heran?


"Kapok tak kau?! Hm!!!" mas Givan mengapit pipiku dengan telunjuk dan ibu jarinya.


"Mas juga! Huuuuu!!!" aku manyun di depan wajahnya.


"Udah cepat keluarkan! Ada aja tingkah kau, Canda. Segala ke-gap mamah, kita lagi mesum." mas Givan geleng-geleng kepala.


"Ya Mas lah, masa aku? Aku pengen dikeluarkan." aku menahan posisiku agar tidak bergerak.


Mas Givan membuang nafasnya, "Canda! Canda!" ia memutar posisi kami, sehingga aku merebahkan tubuhku di karpet permadani ini.

__ADS_1


"Ayo semangat, Mas. Aku support dari bawah." aku menekuk tanganku setengah, untuk menyemangatinya.


Mas Givan tertawa geli, "Aku malah ragu kau waras, Canda." mas Givan mulai bergerak dengan kakiku dalam posisi nyaman.


~


Aku dua hari ini seperti orang bodoh. Saat tamu silih berganti, bahkan ada pihak dari advokat. Yang hari ini datang, adalah Mavendra.


"Ven, butuh waktu berapa lama lagi sebenarnya ini?"


Aku di samping mas Givan, aku sengaja menguping. Mumpung Ceysa tengah tidur siang.


"Ambil data dari ipar kau itu, siapa namanya tadi?" Vendra menunjukkan telunjuknya pada mas Givan.


"Winda." sahut mas Givan kemudian.


Mavendra ini adik bungsu mas Givan, yang memiliki profesi sebagai intel.


"Ya itu dia. Tapi aku tekankan lagi, kau harus pegang enam puluh triliun untuk barang bukti aja." Mavendra begitu serius menatap kakaknya.


"Fira udah siapkan."


Ohh, jadi peran Fira itu untuk meminjamkan uang pada mas Givan? Eh, tidak tahu juga sih. Ia mengurus, atau hanya meminjamkan.


Aku sampai setia, mendengar Mavendra berbicara. Hanya untuk mendengarkan logatnya saja.


"Ya, ibunya Key." mas Givan mengusap-usap bahuku, karena sedari tadi ia merangkulku dalam posisi duduk.


Mavendra melihat ke arahku, "Mantan pacar aja begitu pedulinya tuh, Kakak Ipar." ia terkekeh.


Sepertinya, ia sengaja membuatku panas hati. Masalahnya, entah mengapa aku tidak cemburu pada Fira.


"Bantu apa sih, Mas?" aku menoleh pada suamiku.


Aku seperti orang bodoh yang mencari jawaban, selama dua hari ini.


"Itu, Putri mau dibawa ke pengadilan. Pinjam uang Fira dulu, enam puluh triliun kira-kira. Mamah tak bisa pencairan besar-besaran, karena pemilik asetnya ada beberapa atas nama papah Adi. Sebenarnya, mamah udah nalangin juga. Tapi tak cukup, diperlukannya minimal enam puluh triliun. Untuk bukti aja, kalau kasusnya sukses, uangnya bisa kembali."


Hah?


Suamiku banyak hutangnya?

__ADS_1


Eh, tapi apa katanya tadi?


Putri mau dibawa ke pengadilan?


"Kenapa sih Putri dibawa ke pengadilan?" aku masih memperhatikan wajah suamiku.


"Alasannya sih, kecelakaan kerja. Pas kebakaran besar-besaran itu nah. Cek CCTV dari pihak tempat Putri, tak kelihatan tuh kecelakaan kerjanya. Dari tempat aku, tak kelihatan juga. Untungnya, ada mandor tambang yang lagi buat video Tiktok. Alhamdulillah, dia izinkan untuk jadikan video itu sebagai bukti. Bahwa, itu bukan kecelakaan kerja. Melainkan, ada sesuatu yang dilempar ke alat berat."


Hah?


Pasti mataku begitu melar.


"Kan SDA aku, sama Putri ini di satu tempat nih. Cuma ada batas aja gitu, buat nandain wilayah. Ada sesuatu yang dilempar dari sana, ya langsung kena sasaran. Karena, tempatnya sebelahan aja." lanjut mas Givan, yang semakin membuatku seperti patung air mancur.


"Keknya bahan peledak. Soalnya pas kena hantaman jatuh itu. Kan langsung meledak hebat." tambah Mavendra, membuat pandanganku berpaling ke arahnya.


"Ya Allah....." aku seperti tidak percaya, dengan ulah Putri.


"Ya memang bukan tangan Putri yang melakukannya. Tapi kan, atas perintahnya. Jadi kena semua tuh tiga orang. Putri, sama dua pekerja lapangan dari perusahaan Putri. Sekarang, aku lagi nurut aja sama mamah. Aku dimarahin habis-habisan, karena udah bagi SDA ke Putri. Kalau aku nurut sama mamah, suruh biarin Putri terus-terusan datang ke aku dengan bualan cintanya. Mungkin, tak akan kejadian kek gini. Ini termasuknya udah kriminal besar, Canda. Aku harus tanggung jawab, ke anak istri operator alat berat. Sampai anak-anaknya itu mampu cari nafkah sendiri." suaranya menurun sedih.


Beban pikirannya bertambah.


"Kalau aku tak ngutamain kau kemarin, biar Putri tak ganggu. Aku rasa, kita tak mungkin bisa hangat kek gini sampai sekarang. Tapi, kalau nurutin kemauan Putri. Ini anak kok malah ngelunjak. Bisa-bisa aku yang dipenjara kemarin, karena dituduh lalai dengan prosedur." mas Givan geleng-geleng kepala, dengan membuang nafasnya perlahan.


"Berapa operator alat berat yang jadi korban, Mas?" aku tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati istri-istri mereka.


"Dua operator alat berat, meninggal di tempat. Aku tanggung biaya hidup istri-istri mereka dan anak-anak mereka. Operator asal daerah sana, ninggalin dua anak. Operator asal Rembang Jawa Tengah, ninggalin empat anak. Kalau tak begini, aku yang dipenjara. Mau tak mau lah, itung-itung besarin anak sendiri." mungkin ini akan menjadi ladang shodaqoh untuk mas Givan.


"Ada asuransi jiwa tak, Bang?" tanya Mavendra.


Mas Givan mengangguk, "Ada, kurang lebih seratus juta satu nyawa. Tapi ini nyawa loh, Ven. Bagaimana besarnya nilai pun, tak bisa gantikan nyawa."


Benar sekali.


"Tapi jaminan hidup itu, setau aku tak bisa kau tunjang kalau istri-istri mereka udah nikah lagi." ujar Mavendra, dengan menggenggam ponselnya sendiri.


Mas Givan mengangguk, "Itu sih apa kata nanti. Kau pikirkan, keuangan aku sekarang. Hutang aku, di mana-mana. Keuntungan usaha Lendra, bahkan aku alihkan ke rekening aku dulu. Semoga tak berdosa aku, karena ada niat mau balikin nanti, bukan merampas. Belum lagi, nampak jelas buat bukti itu enam puluh triliun. Berapa lama coba aku bakal bisa balikinnya? Aku yakin, dari barang bukti enam puluh triliun itu, tak mungkin kembali ke aku lagi dengan jumlah utuh. Belum jaminan hidup keluarga korban, pendidikan anak korban. Istri, anak-anak aku di rumah. Belum orang tua, adik ipar."


Sebenarnya, enam puluh triliun ini jumlah uang bukti apa?


Apa transaksi Putri? Atau, memang itu adalah uang Putri yang mas Givan gunakan?

__ADS_1


...****************...


__ADS_2